Tahun Baru Hijriah, Transformasi Menuju Keimanan yang Lebih Baik

Tahun Baru Hijriah, Transformasi Menuju Keimanan yang Lebih Baik

Tahun baru hijriah kembali hadir. Setiap kali pergantian tahun hijriah selalu ada keinginan untuk memberi tafsir dan pemaknaan yang lebih dalam pada sejarah besar yang menjadi tonggak penegakan syariah, daulah dan kejayaan Islam. Pergantian tahun seharusnya menjadi momentum berharga untuk memberi makna yang lebih bernilai pada sejarah hijrah. Bukan sekedar ritual memperingati pergantian tahun yang ditandai dengan pergantian angka tahun dan perubahan lembaran kalender.

Hijrah yang secara harafiah bisa diartikan berpindah, sebenarnya mengandung pengertian hijrah makani yang berarti perpindahan secara fisik, serta hijrah maknawi yang bermakna perubahan nilai, tatanan dan norma kehidupan. Dalam hal ini makna hijrah makani oleh Nabi pada hari Fathu Makkah (penaklukan Makkah tahun ke-8 H), dianggap selesai dan tidak ada lagi. Hal ini disampaikan oleh Ibnu Abbas, ”Pada hari Fathu Makkah, aku mendengar Nabi Saw bersabda, ‘Tidak ada lagi hijrah setelah hari ini, akan tetapi yang ada adalah jihad dan niat’.” (HR Al-Bukhari dari Ibnu Abbas).  Oleh karena itu makna hijrah secara aktual lebih banyak berkaitan dengan hijrah maknawi.

Ibnu Qayyim menyatakan hijrah maknawi sebagai al-hijrah al-haqiqiyyah, yaitu hijrah sejati berkaitan dengan komitmen keimanan Islam. Al-Qahthani menyatakan bahwa hijrah merupakan urusan besar. Hijrah berhubungan erat dengan al-wala’ wal-bara’,  bal hiya min ahammi takaalifahaa, bahkan hal ini termasuk manifestasi yang paling penting bagi seorang muslim. Ini berarti kita harus mampu mentransformasi nilai-nilai hijrah dalam kehidupan sehari-hari.  Hal ini diwujudkan dalam bentuk komitmen untuk selalu berubah menuju ke arah yang lebih baik sesuai dengan tuntunan Allah dan rasul-Nya.

Pada tataran personal transformasi nilai hijrah dalam bentuk perubahan menuju hal-hal yang baik merupakan tuntutan keimanan yang harus dimiliki setiap muslim. Setiap waktu seorang muslim harus mentranformasi diri menjadi sosok yang lebih baik dan lebih berkualitas dihadapan Allah, dengan cara meningkatkan keimanan dan amalan ibadahnya. Rasulullah Saw bersabda, ”Orang yang berhijrah sejati adalah orang yang meninggalkan hal-hal yang dilarang oleh Allah.” (HR Muslim dari Abdullah bin Umar).

Sementara secara sosiologis transformasi nilai-nilai hijrah bisa diwujudkan dalam bentuk membangun tatanan sosial yang lebih Islami. Hal ini telah dibuktikan oleh Rasulullah di Madinah dengan membangun peradaban Islam yang kokoh dengan bersandar pada kekuatan kaum Muhajirin dan Anshar.  Penerapan tatanan dan norma sosial, ekonomi, budaya dan kemasyarakat bersandar pada nilai-nilai Islam terbukti mampu membangun peradaban ideal yang menjadi simbol kejayaan Islam.

Ketika tatanan kehidupan sosial, ekonomi dan politik di sekitar kita semakin kacau dan jauh dari nilai-nilai Islam maka transformasi nilai-nilai hijrah menjadi hal yang sangat penting untuk diwujudkan. Semua pihak harus menegakkan kembali komitmen berhijrah menuju tatanan kehidupan yang lebih baik  dengan bersandar pada Al Qur’an dan As Sunnah. Korupsi yang makin ganas, suap dan sogok yang merajalela, praktek kotor dalam politik, dunia bisnis yang  ribawi dan berbagai praktek penyimpangan lain tidak akan bisa musnah tanpa ada kesungguhan untuk berhijrah. Mari kita berhijrah untuk meraih ridho Allah. (Anton)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*