Menghargai Nikmat Waktu

Menghargai Nikmat Waktu

Demi Masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebaikan serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran. (Qs Al-’Asr : 1-3)

 Rasulullah Saw telah menjelaskan pada kita bahwa waktu luang merupakan salah satu di antara dua kenikmatan yang telah diberikan Allah Ta’ala kepada manusia. Tetapi sangat disayangkan, banyak diantara manusia yang melupakan hal ini dan terlena dengannya. Beliau bersabda, ”Ada dua kenikmatan yang banyak dilupakan oleh manusia, yaitu nikmat sehat dan waktu luang”. (HR. Bukhari & Muslim)

 Ibnu Hajar dalam Fathul Bari  membawakan perkataan Ibnu Baththol  mengatakan, ”Makna hadits ini adalah bahwa seseorang tidaklah dikatakan memiliki waktu luang hingga badannya juga sehat. Barangsiapa yang mendapatkan seperti ini, maka bersemangatlah agar tidak tertipu dengan lalai dari bersyukur kepada Allah atas nikmat yang diberikan oleh-Nya. Diantara bentuk syukur adalah melakukan ketaatan dan menjauhi larangan. Barang siapa yang luput dari syukur semacam ini, dialah yang tertipu.”

Ibnul Jauzi dalam kitab yang sama mengatakan, ”Terkadang manusia berada dalam kondisi sehat, namun dia tidak memiliki waktu luang karena sibuk dalam aktivitas dunia. Dan terkadang pula seseorang memiliki waktu luang, namun dia dalam keadaan sakit. Apabila tergabung kedua nikmat ini, maka akan datang rasa malas untuk melakukan ketaatan. Itulah manusia yang telah tertipu (terperdaya).”

Pada dasarnya setiap manusia mendapatkan kenikmatan waktu dalam jumlah yang sama rata yaitu 24 jam sehari. Namun mengapa banyak sekali manusia yang belum mencapai prestasi apapun hingga lanjut usia. Ada apa gerangan? Hal ini disebabkan mereka tidak memiliki tujuan yang jelas dalam menjalani hidup. Karena tidak jelas, akibatnya tidak ada perencanaan dalam menggapai cita-cita, bisa jadi sepanjang hidupnya yang dilakukan adalah kegiatan yang tidak memberikan manfaat atau dampak besar kepada dirinya sendiri maupun orang lain.

Padahal jelas-jelas disebutkan bahwa waktu sangatlah berarti bagi kehidupan manusia. Waktu adalah satu-satunya hal yang tak dapat kita kendalikan karena akan terus berjalan, sehingga dunia Barat memiliki jargon Time is Money (waktu adalah uang), sementara  dalam Islam  kita telah diajarkan, “Peliharalah waktu. Waktu laksana sebilah pedang. Jika Engkau tidak menebaskannya, ia yang akan menebasmu”

Hal senada disebutkan oleh Ibn Qayyim Al Jauziyah, “Sebenarnya waktu manusia adalah umurnya. Dia adalah bahan abadi kehidupan yang penuh nikmat dan bahan kehidupannya yang sempit dalam azab yang pedih. Dia berlalu bagaikan berlalunya awan. Setiap kali waktunya untuk dan bersama Allah, itulah kehidupannya dan umurnya. Selain dari itu, tidak dapat dianggap sebagai kehidupannya. Walaupun dia hidup bagai hidupnya hewan ternak dan jika dia habiskan waktunya dalam kelalaian dan angan-angan kosong, maka yang dipilih adalah tidur yang panjang. Maka, kematiannya adalah lebih baik daripada hidupnya”

Nabi pun pernah menyebutkan hal berikut ini terkait dengan pentingnya waktu,  “Jika hari ini seseorang lebih baik dari kemarin maka ia beruntung, Jika hari ini sama dengan kemarin berarti dia merugi, dan jika hari ini ia lebih buruk dibandingkan kemarin, maka ia termasuk golongan orang yang celaka.” Oleh karena itu akan lebih bermakna bias waktu yang ada diisi dengan kegiatan bermanfaat, diantaranya: Menyibukkan diri untuk menuntut ilmu baik ilmu agama dan ilmu dunia,  bertaffakur/ berpikir memperbanyak dzikir dan doa, memperbanyak infak danMuhammad Abduh Tuasikal sedekah, memperbanyak silaturahim dengan kerabat dan para sahabat, serta saling mengingatkan antara saudara sesama muslim. (Muhammad Abduh Tuasikal/ton)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*