Bagaimana Menjaga Kemabruran Haji?

Bagaimana Menjaga Kemabruran Haji?

Setelah menunaikan seluruh rangkaian ritual ibadah haji di tanah suci, saudara-saudara kita yang berhaji mulai tiba kembali di tanah air. Doa dan harapan yang selalu disampaikan tentu semoga mereka menjadi haji yang mabrur. Doa ini sebenarnya bukan hanya untuk mereka yang baru saja pulang menunaikan ibadah haji tetapi juga bagi mereka yang telah berhaji pada tahun-tahun sebelumnya. Artinya, kita berharap semua yang telah menunuaikan ibadah haji bisa mendapat predikat sebagai haji yang mabrur dan mampu menjaga kemabruran itu hingga akhir hayat. Yang menjadi pertanyaan, apa itu haji mabrur dan bagaimana cara menjaganya?

Para ulama berbeda pendapat dalam memaknai haji mabrur. Sebagian berpendapat bahwa haji mabrur adalah amalan haji yang diterima di sisi Allah, dan sebagian lagi berpendapat, haji yang buahnya tampak pada pelakunya dengan indikasi keadaannya setelah berhaji jauh lebih baik sebelum ia berhaji. (lihat Fathul Allam oleh Shiddiq Hasan Khan 1/594). Salah seorang Ulama Hadis Al Hafidh Ibn Hajar al’ Asqalani dalam kitab Fathul Baarii, syarah Bukhori Muslim menjelaskan: “Haji mabrur adalah haji yang maqbul yakni haji yang diterima oleh AllahSubhanahu waTa’ala.” Pendapat lain yang saling menguatkan dijelaskan oleh Imam Nawawi dalam syarah Muslim: “Haji mabrur itu ialah haji yang tidak dikotori oleh dosa, atau haji yang diterima Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang tidak ada riyanya, tidak ada sum’ah tidak rafats dan tidak fusuq.” Sementara Al Qurthubi mengatakan, haji mabrur adalah haji yang tidak dikotori oleh maksiat saat melaksanakan manasik dan tidak lagi gemar bermaksiat setelah pulang haji” (Tafsir al Qurthubi 2/408).

Sebenarnya yang mempunyai hak menilai kemabruran haji seseorang hanyalah Allah Ta’ala. Dan sebagai manusia kita hanya bisa menilai mabrur tidaknya haji dari pandangan manusia saja. Ada beberapa tanda haji mabrur menurut para Ulama Islam berdasarkan akan keterangan serta nash Al-Qur’an dan As-Sunnah. Salah satunya sebagaimana disampaikan Abu Bakar Jabir al Jazaari dalam kitab, Minhajul Muslimin, “Haji mabrur itu ialah haji yang bersih dari segala dosa, penuh dengan amal shaleh dan kebajikan-kebajikan.”  Selain itu, segala amalan ibadah haji yang dilakukan dan berdasarkan atas keikhlasan untuk mendapatkan keridhoan Allah Ta’ala dan juga dilaksanakan sesuai dengan tuntunan syariat Islam. Dalam sebuah hadist disebutkan, “Siapa yang berhaji ke Ka’bah lalu tidak berkata-kata seronok dan tidak berbuat kefasikan maka dia pulang ke negerinya sebagaimana ketika dilahirkan oleh ibunya” (Hr. Bukhari)

Dalam hal ini Dr Zaid bin Muhammad Al Rumany dalam bukunya yang berjudul ”Al Hajju wal Hujjaj Amwaj wa Atsbaj”: ”Seseorang haji yang kembali dari tanah haram, dia akan memulai hidupnya dengan lembaran baru, menapak jalan yang kokoh dalam beribadah, dalam pergaulan dan dalam berakhlak. Maka dia menjadi orang yang tampil beda dengan sikap jujur dalam kerjasama, banyak melakukan kebaikan, mencurahkan amar makruf dan hatinya bersih”.  Al Hasan al Bashri berkata, “Haji mabrur adalah jika sepulang haji menjadi orang yang zuhud dengan dunia dan merindukan akherat”.  Secara umum, kemabruran ibadah haji seseorang ditunjukkan melalui perubahan sikap, mental, dan perilaku seseorang hingga menjadi lebih baik dari sebelum melaksanakan ibadah haji dan meningkatnya kualitas ibadah.

Dengan demikian, jamaah haji yang mabrur amalan ibadahnya akan semakin baik, banyak bertaubat setelah haji, berubah menjadi lebih baik, dalam ibadahnya kepada Allah dan juga hubungannya dengan sesama manusia. Selain itu, juga memiliki hati yang lebih lembut dan bersih, ilmu dan amal yang lebih mantap dan benar serta selalu  istiqamah di atas kebaikan.  Dia juga akan bergegas menuju masjid ketika mendengar adzan, sebagaimana dia lakukan ketika berhaji di tanah suci.  Dia mudah berinfaq dan bersedekah, serta iklas membantu orang lain yang menghadapi kesulitan. Dia akan selalu meninggalkan akhlak yang tercela, yang menyimpang dari hukum Allah. Dia jauhi semua yang haram bahkan yang syubhat sekali pun. Apabila dia seorang pedagang maka dia akan berdagang secara jujur. Apabila dia seorang pejabat, politisi, pegawai, dan profesi serta kedudukan apapun maka dia akan menjalankan amanah yang menjadi tanggungjawabnya dengan sebaik-baiknya. (Anton)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*