Surga karena Rahmat Allah, untuk apa Kita Beramal?

Surga karena Rahmat Allah, untuk apa Kita Beramal?

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radliyallah ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Sungguh amal seseorang tidak akan memasukkannya ke dalam surga.” Mereka bertanya, “tidak pula engkau ya Rasulallah?” Beliau menjawab, “Tidak pula saya. Hanya saja Allah meliputiku dengan karunia dan rahmat-Nya. Karenanya berlakulah benar (beramal sesuai dengan sunnah) dan berlakulah sedang (tidak berlebihan dalam ibadah dan tidak kendor atau lemah).” (HR. Bukhari dan Muslim, lafadz milik al-Bukhari)

Ketika membaca hadist ini banyak kaum muslimin bertanya-tanya, kalau amal ibadah tidak dapat memasukkan seseorang ke dalam surga karena hal untuk memasukkan ke dalam surga merupakan hak Allah, lalu mengapa kita harus beramal? Bukankah amal ibadah kita menjadi sia-sia karena pada akhirnya hanya Allah yang berhak menentukan seseorang masuk surge atau tidak. Bagaimana dengan  ayat Al Qur’an yang menyebutkan “Itulah surga yang dikaruniakan untuk kalian, disebabkan amal sholeh kalian dahulu di dunia” (QS. Az-Zukhruf : 72).

Pertanyaan ini tentu menarik dan mengusik banyak kaum muslimin karena seolah ada pertentangan antara hadist dan ayat Al Qur’an. Padahal sesungguhnya keduanya tidak bertentangan bahkan kita dapat memetik hikmah yang sangat agung dari kedua tuntunan itu.

Syaikh Ibnu ‘Utsamin dalam hal ini menjelaskan, “Bagaimana menggabungkan antara ayat dan hadis ini Jawabannya, kedua dalil di atas bisa dikompromikan, di mana peniadaan masuknya manusia ke dalam surga karena amalnya dalam arti balasan, sedangkan isyarat bahwa amal sebagai kunci masuk surga dalam arti bahwa amal itu adalah sebab, bukan pengganti” (Syarah Riyadhus Sholihin, 1/575).

Sementara imam Nawawi rahimahullah  menjelaskan, “Ayat-ayat Al-Qur’an yang ada menunjukkan bahwa amalan bisa memasukkan orang dalam surga. Maka tidak bertentangan dengan hadits-hadits yang ada. Bahkan makna ayat adalah masuk surga itu disebabkan karena amalan. Namun di situ ada taufik dari Allah untuk beramal. Ada hidayah untuk ikhlas pula dalam beramal. Maka diterimanya amal memang karena rahmat dan karunia Allah. Karenanya, amalan semata tidak memasukkan seseorang ke dalam surga. Itulah yang dimaksudkan dalam hadits. Kesimpulannya, bisa saja kita katakan bahwa sebab masuk surga adalah karena ada amalan. Amalan itu ada karena rahmat Allah. Wallahu a’lam.” (Syarh Shahih Muslim, 14: 145)

Sementara pendapat lain menyebutkan, amalan yang dilakukan hamba sama sekali tidak bisa mengganti surga yang Allah beri. Itulah yang dimaksud, seseorang tidak memasuki surga dengan amalannya. Maksudnya ia tidak bisa ganti surga dengan amalannya. Sedangkan yang memasukkan seseorang ke dalam surga hanyalah rahmat dan karunia Allah. (Disarikan dari Bahjah An-Nazhirin, Salim bin ‘Ied Al Hilali, Dar Ibnil Jauzi, cetakan pertama, 1430 H, 3: 18-19).

 

Dengan bahasa yang lebih sederhana kita bisa memetik hikmah bahwa seorang hamba tidak pantas membanggakan amal ibadahnya yang seolah-olah bisa menjamin dirinya masuk surga. Kita kaum muslimin harus menyadari bahwa diri kita banyak memiliki kelemahan di hadapan Allah. Masih banyak kekurangan dan kelemahan kita dalam menjalankan kewajiban sebagai hamba-Nya. Tentu tidak selayaknya kita menyombongkan diri dengan mengandalkan seluruh amal ibadah kita sebagai jalan masuk surga.

 

Bahwa seseorang masuk surga atau tidak menjadi kewenangan dan hak awal juga akan mendorong kita untuk selalu berusaha menjadi hamba terbaik. Hal itu akan memberi semangat dan motivasi kepada kita semua untuk selalu meningkatkan amal ibadah. Beramal ibadah dengan baik saja belum tentu masuk surga, apalagi kalau tidak beramal. Dengan demikian setiap saat kita akan berusaha mendekatkan diri kepada Allah melalui amal ibadah yang terbaik agar rahmat Allah selalu bersama kita. (Anton)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*