Koruptor; Para Pengkhianat Amanah

Koruptor; Para Pengkhianat Amanah

Untuk kesekian kalinya kita dibuat kaget menyaksikan para tokoh politik dan pejabat publik terjerat kasus korupsi. Seolah tidak ada habisnya, mereka antre bergiliran masuk tahanan KPK dan penjara di beberapa daerah. Yang memprihatinkan, banyak di antara para koruptor yang tertangkap tampak santun dan taat beribadah, bahkan sering lantang mengatasnamakan Islam dalam berbagai kegiatannya.

Mereka yang terjerat kasus korupsi tentu sangat tahu bahwa Islam sangat menentang  perbuatan jahat memakan harta orang lain yang bukan miliknya. Allah berfirman, “Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.” (Qs.  al-Baqarah : 188). Dengan alasan apapun, jelas para koruptor telah memakan harta yang bukan miliknya. Harta yang seharusnya dipergunakan untuk kepentingan masyarakat justru ‘dimakan’ untuk kepentingan dirinya maupun kelompoknya.

Meskipun tidak spesifik menyebut dengan kata korupsi, namun Islam tegas dan jelas memberi tuntunan bahwa perbuatan korupsi dalam bentuk risywah, suap, sogok, atau pun yang lain adalah merupakan perbuatan terlaknat. Rasulullah bersabda, “Allah melaknat orang yang menyuap dan memberi suap” (HR. Ahmad, Abu Daud, Turmudzi, dan Ibnu Majah dari Ibnu Umar). Di hadist yang lain dijelaskan,  “Setiap daging yang tumbuh dari barang yang haram (as-suht) nerakalah yang paling layak untuknya.” Mereka bertanya: “Ya Rasulullah, apa barang haram (as-suht) yang dimaksud?”“Suap dalam perkara hukum”  (Al-Qurthubi 1/ 1708)
Pengertian risywah menurut Kitab Lisanul ‘Arab dan Mu’jamul Washith yaitu: “pemberian yang diberikan kepada seseorang agar mendapatkan kepentingan tertentu“. Maka berdasarkan definisi tersebut, suatu yang dinamakan risywah adalah jika mengandung unsur pemberian atau athiyah, ada niat untuk menarik simpati orang lain atau istimalah, serta bertujuan untuk membatalkan yang benar (Ibtholul haq), merealisasikan kebathilan (ihqoqul bathil), mencari keberpihakan yang tidak dibenarkan (almahsubiyah bighoiri haq), mendapat kepentingan yang bukan menjadi haknya (al hushul ‘alal manafi’) dan memenangkan perkaranya atau al hukmu lahu.

Dari definisi tersebut memang jelas para pejabat dan pemegang amanah rakyat yang berpeluang besar terjebak dalam tindakan korupsi. Padahal Rasulullah sudah memberi tuntunan, “Dari Abu Ya’la Ma’qal ibn Yasar berkata: Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda: “Seorang hamba yang dianugerahi jabatan kepemimpinan, lalu dia menipu rakyatnya, maka Allah mengharamkannya masuk surga.” (HR. Bukhari dan Muslim). Rasulullah juga telah bersabda, “Hadiah kepada pejabat adalah penyelewengan.” (HR. Ahmad)

Kasus korupsi yang dilakukan para pejabat pemegang amanah rakyat menjadi bukti telah pudarnya komitmen mereka untuk menjunjung tinggi amanah. Mereka telah berkhianat dan mengingkari amanah yang seharusnya menjadi tanggungjawabnya, sebagaimana firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (QS. al-Anfal: 27). Semoga mereka menyadari pengkhianatannya, dan segera kembali menjadi pemegang teguh amanah. (Anton)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*