“Wahai Manusia Dengarkan Apa yang Aku Katakan!”  (Khutbah Wada’ Rasulullah)

“Wahai Manusia Dengarkan Apa yang Aku Katakan!” (Khutbah Wada’ Rasulullah)

Sungguh sangat menyentuh hati khutbah yang disampaikan Rasulullah Saw pada saat wukuf di padang Arafah dalam pelaksanaan haji wada (haji perpisahan). Sekitar seratus  empat puluh empat ribu orang berkumpul mengitari Rasulullah saat itu untuk mendengarkan khutbah terakhir Rasulullah. Rasulullah membuka khutbahnya dengan ucapan, “Wahai umat manusia, dengarkanlah apa yang akan aku katakan ini! Boleh jadi selepas tahun ini, aku tidak akan bertemu lagi dengan kalian di tempat ini untuk selamanya“. Kalimat ini seolah mengisyarakatkan bahwa beliau tidak lama lagi akan  berpisah dengan umatnya. Semuanya menjadi hening  terdiam, khusyu’ mendengarkan khutbah Rasulullah Saw.

Selanjutnya beliau bersabda, “Wahai manusia, sesungguhnya darah dan harta benda (sebagian) kalian (atas sebagian kalian) adalah haram, sebagaimana haramnya hari (kalian berada) di sini, di bulan (kalian berada) di sini, di negeri kalian (tanah haram) ini“. Inilah pesan pertama yang disampaikan Rasulullah Saw dalam khutbahnya. Tidak boleh mengambil hak orang lain dan tidak boleh menumpahkan darah, membunuh sesama muslim.

Kemudian Rasulullah melanjutkan, “Bahwa segala bentuk perbuatan dan kebiasaan dimasa jahiliyah tidak boleh berlaku lagi. Tindakan menuntut balas atas kematian seseorang sebagaimana yang berlaku di masa jahiliyah juga tidak boleh berlaku lagi… (Segala bentuk) riba jahiliyah juga tidak boleh berlaku lagi!…“. Pada bagian yang kedua ini Rasulullah menegaskan bahwa segala hal yang dibanggakan dan dipraktikkan oleh orang-orang dimasa jahiliah (sebelum datangnya Islam), tidak boleh berlaku lagi, termasuk praktik riba, tidak boleh lagi ada.

Selanjutnya beliau berwasiat agar berlaku baik terhadap perempuan dan memperlakukan mereka secara baik. Dengan tegas Rasulullah Saw bersabda,“ittaqulaah! (takutlah kalian kepada Allah) – dalam urusan perempuan. Dengan kalian menikahinya berarti kalian telah memikul amanah Allah, dan dengan menyebut nama Allah pula farajnya menjadi halal bagi kalian. Dan kepada paraperempuan hendaklah memelihara kehormatannya, jika dia berbuat zina maka tegakkan hukum atasnya. Dankalian (para suami) wajib menafkahinya dengan baik“.

Berikutnya Rasulullah berkata, “Maka perhatikanlah perkataanku itu, wahai manusia, sesungguhnya aku telah sampaikan. Aku tinggalkan sesuatu kepada kalian, yang jika kalian pegang teguh, kalian tidak akan tersesat selama-lamanya, yaitu Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya.”  Ini adalah pesan utama Rasulullah kepada umatnya. Dengan berpegang taguh pada Al Qur’an dan As Sunnah maka umat manusia akan selamat dan terhindar dari kesesatan.

Pesan berikutnya adalah,”Wahai manusia, sesungguhnya tidak ada lagi nabi setelahku, tidak ada lagi umat setelah kalian (pengikut Muhammad adalah umat yang terakhir). Maka sembahlah Tuhan kalian, tunaikan sholat lima waktu, tunaikan puasa Ramadhan, tunaikan zakat untuk menyucikan jiwa kalian dengannya, dan laksanakan haji ke baitullah, dan patuhi pemimpin kalian, maka kalian akan masuk ke surga Tuhan kalian“.

Padahal di penutup khutbahnya Rasulullah bertanya, “Sesungguhnya kelak kalian akan ditanya tentang aku, maka apakah jawaban kalian?“. Dengan serempak dan suara keras orang-orang yang ada di sekeliling Beliau menjawab: “Kami bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan, telah menunaikan dan memberi nasehat“.  Jadi, sesungguhnya kita yang hidup sekarang juga telah mengatakan, “Kami bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan, telah menunaikan dan memberi nasehat, wahaiRasulullah…“. Rasulullah pun memastikan kesaksian ini, Beliau berkata: “Ya Allah, saksikanlah!..“, “Ya Allah, saksikanlah!…“, “Ya Allah, saksikanlah!..“.

Kita sekarang tentu juga menjadi saksi bahwa Rasulullah telah tuntas menyampaikan risallahnya. Oleh karena itu kita juga dituntut untuk menjadi penyampai risalah itu sebagaimana Rasulullah juga bersabada dalam khutbah itu, “Hendaklah orang yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir, barangkali sebagian orang yang menerima kabar (tidak langsung) lebih mengerti daripada orang yang mendengarkannya (secara langsung).”  (Abu Rafif)

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*