Teladan Luar Biasa dari Keluarga Nabi Ibrahim

zainul-muslimin-foto

 

 

 

Oleh. Ustad H. Zainul Muslimin

 

Alhamdulillâhi Rabbi al-âlamîn, segala puji kita panjatkan ke hadhirat Allah subhanahu wata’ala. Shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada  Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wasallam beserta keluarga, para shahabatnya, dan seluruh umatnya yang senantiasa menaati risalahnya, serta berjuang tak kenal lelah untuk mengamalkan dan menyebarluaskannya ke seluruh pelosok dunia hingga akhir zaman.

 

Di pagi hari yang penuh berkah ini, kita berkumpul untuk melaksanakan shalat Idul Adha. Baru saja kita ruku’ dan sujud sebagai pernyataan taat kepada Allah SWT. Kita agungkan nama-Nya, kita gemakan takbir dan tahmid sebagai pernyataan dan pengakuan atas keagungan Allah. Takbir yang kita ucapkan bukanlah sekedar gerak bibir tanpa arti, tetapi merupakan pengakuan dalam hati, menyentuh dan menggetarkan relung-relung jiwa kita yang beriman. Allah Maha Besar. Allah Maha Agung. Tiada yang patut disembah kecuali Allah.
Melalui mimbar ini saya mengajak kepada hadirin sekalian, marilah kita tundukkan kepala dan jiwa kita di hadapan Allah Yang Maha Besar. Buang jauh sifat keangkuhan dan kecongkaan yang dapat menjauhkan kita dari rahmat Allah SWT. Apapun kebesaran yang kita sandang, kita kecil di hadapan Allah. Betapa pun perkasa, kita lemah di hadapan Allah Yang Maha Kuat. Betapapun hebatnya kekuasaan dan pengaruh kita, kita tidak berdaya dalam genggaman Allah Yang Maha Kuasa atas segala-galanya.

 

Hari ini umat Islam di seluruh penjuru dunia bersama-sama menggemakan pujian atas kebesaran Allah subhanahu wata’ala. Lebih dari 1,57 miliar kaum Muslimin di seluruh dunia mengagungkan asma Allah subhanahu wata’ala melalui takbir, tahlil, dan tahmid. Sementara itu, pada 9 Dzulhijjah kemarin, lebih dari tiga juta saudara kita kaum Muslimin dari seluruh penjuru dunia telah berkumpul untuk wukuf di Padang Arafah, menunaikan ibadah haji, rukun Islam yang kelima.

Di hari ‘Idul Adha ini kita mengenang kembali peristiwa agung pengorbanan nabi Ibrahim dalam menaati perintah Allah subhanahu wata’ala untuk menyembelih putranya, Ismail.  Peristiwa ini sungguh penuh makna simbolik yang tidak akan pernah habis untuk dikaji, dicermati dan kemudian dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Selain makna pengorbanan yang disimbolkan oleh keiklasan nabi Ibrahim dan nabi Ismail untuk memenuhi perintah Allah, dalam peristiwa ini sesungguhnya ada teladan mulia dari kedua kekasih Allah itu, berupa komitmen dan kesungguhan untuk bersama-sama mentaati perintah Allah.

Mari kita cermati kembali peristiwa agung itu. Bagi nabi Ibrahim, Ismail adalah buah hati, tumpahan cinta, dan harapan, yang telah sangat lama didambakan. Namun di tengah rasa cinta itu, turunlah perintah Allah kepadanya untuk menyembelih putra kesayangannya itu. Allah berfirman:  “Maka tatkala anak itu telah sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu” (QS. ash-Shaffat: 102).

Ketika menerima perintah itu, nabi Ibrahim lebih mengedepankan keimanan, yakni kecintaan kepada Allah subhanahu wata’ala, dengan menyingkirkan kecintaan duniawi, yakni kecintaan kepada anak.  Perintah itu tentu sangat berat, tanpa komitmen dan kesungguhan untuk selalu patuh dan tunduk pada perintah Allah sudah pasti perintah itu akan keingkari. Dengan keteguhan iman yang kokoh dan tanpa ragu sama sekali, nabi Ibrahim melaksanakan perintah itu dengan menyampaikannya langsung kepada Ismail.

Sungguh sangat luar biasa, perintah berat itu juga disambut antusias oleh putranya, Ismail alaihissalam. Dengan penuh kepatuhan, kesabaran dan keiklasan Ismail meneria perintaan ayahnya. Dengan tanpa ragu pula dia patuhi permintaan nabi Ibahim karena yakin itu adalah perintah Allah. Bukan hanya itu, dia juga meneguhkan jiwa ayahandanya untuk segera melaksanakan perintah itu, dengan mengatakan: Wahai Ayahanda, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” (QS. ash-Shaffat: 102)

 

Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail tersebut seharusnya menjadi teladan bagi umat Islam saat ini. Tidak hanya teladan dalam pelaksanaan ibadah haji dan ibadah qurban, namun juga teladan dalam berjuang dan berkorban mewujudkan pengamalan syariah Islam secara kaffah secara bersama-sama. Nabi Ibrahim tidak akan bisa mewujudkan komitmen keimanannya untuk melaksanakan perintah Allah tanpa didukung dan dibantu oleh nabi Ismail, yang dengan iklas dan sabar menerima perintah untuk disembelih. Sebaliknya, nabi Ismail juga tidak akan menerima permintaan ayahnya, bila tidak benar-benar meyakini bahwa hal itu adalah perintah Allah. Di balik kedua sosok mulia itu juga ada Ibunda Hajar, sosok ibu yang luar biasa kokoh iman dan taqwanya, sekaligus patuh dan taat pada suami serta ibu yang mendidik anak dengan baik dan benar.

 

Oleh karena itu, sangat tepat bila kita umat beriman meneladani kehidupan keluarga nabi Ibrahim di tengah godaan dunia yang semakin keras, dan berbagai persoalan kemasyarakatan dan bangsa yang tidak kunjung usai. Bukankah Allah juga telah menjadikan nabi Ibrahim sebagai panutan umat beriman, sebagaimana firman-Nya, “Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia” (QS. Al Mumtahanah: 4).

Ada beberapa hikmah yang bisa kita petik dari kisah nabi Ibrahim dan keluarganya, semoga bisa menjadi inspirasi bagi kita semua untuk mempraktikkan dalam kehidupan sehari-hari:

  1. Mendahulukan Perintah Allah

Nabi Ibrahim adalah seorang hamba mulia yang selalu patuh dan tunduk kepada Allah. Rasa cintanya kepada Allah mengalahkan cintanya pada dunia, termasuk pada anak dan istrinya.  Dan kita tentu tahu bahwa istri dan anak adalah salah satu godaan terbesar di dunia yang bisa menyebabkan seseorang terlalu mencintai dunia dan melalaikan akhiratnya. Allah Ta’ala berfirman,Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istri dan anak-anak kalian ada yang menjadi musuh bagi kalian, maka hati-hati/waspadalah kalian dari mereka.” (Qs. At-Taghabun: 14).

 

Ternyata rasa cinta kepada Allah yang berlandaskan iman yang kokoh jika sudah mendarah daging, akan dapat membuat orang rela mengorbankan segala-galanya demi memenuhi seruan Allah, walau harus mati sekalipun. Iman yang mantap juga akan membuat orang rela kehilangan sesuatu yang amat dicintainya demi memenuhi perintah dari Allah yang memang harus lebih dicintai di atas segala-galanya. Karena dari keimanan yang mantap pula akan timbul keyakinan yang mendalam bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-hamba Nya yang Ikhlas melaksanakan perintah Nya.

 

Nabi Ibrahim juga memiliki aqidah yang benar dan lurus, tidak bengkok mengikuti syahwat atau melengkung mengikuti nafsu dan patut menjadi teladan semua umat. Allah berfirman, “Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan),” (QS: An Nahl: 120). Hanif artinya bertekad mengikuti kebenaran dan jalan yang lurus. Nabi Ibrahim adalah seorang yang berpegang teguh terhadap kebenaran, tidak berpaling untuk meninggalkannya, dan memiliki pemahaman agama yang lurus. Tidak pernah terlintas di pikiran beliau untuk meninggalkan agama yang benar ini. Jadi sudah sepantasnya dan seharusnya kita meneladani beliau dalam berpegang teguh pada ajaran yang benar ini.

 

Sudahkah kita mampu meneladani keteguhan iman, karakter, dan sikap nabi Ibrahim? Di tengah kehidupan yang semakin penuh dengan godaan duniawi komitmen untuk meneladani sosok nabi Ibrahim menjadi semakin penting. Bukan hanya bagi seorang ayah yang menjadi pemimpin rumah tanggga, tetapi juga bagi para pemimpin yang memegang amanah. Kalau saja para pemimpin negeri ini bisa meneladani sosok nabi Ibrahim dalam menyikapi godaan duniawi maka korupsi, kolusi dan konspirasi jahat yang masih merajalela di negeri ini tidak akan terjadi.

 

  1. Keluarga Bahagia Nabi Ibrahim

Kisah nabi Ibrahim dan Ismail juga memberi kita teladan pentingnya membangun rumah tangga dengan landasan iman yang kokoh dan ketaatan kepada Allah. Kita semua pasti mendambakan keluarga yang bahagia seperti keluarga Nabi Ibrahim, ataupun keluarga Muhammad Rasulullah SAW. Bagimana Nabi ibrahim ataupun Nabi Muhammad SAW bisa mencapai kebahagiaan dalam keluarganya? Kuncinya adalah iman dan berbakti kepada Allah SWT. Suami istri adalah orang yang sholeh dan sholehah, yang berbakti kepada Allah SWT. Anaknya juga anak yang sholeh, yang berbakti kepada Allah dan berbakti kepada kedua orang tuanya. Seluruh keluarga beriman dan berbakti kepada Allah.

Apa rahasia nabi Ibrahim memiliki anak yang penurut dan istri yang iklas dan sabar memenuhi perintah suami? Rahasianya adalah, sang ayah haruslah menjadi pemimpin yang jujur dan menjadi imam terbaik bagi keluarganya. Sebagaimana Nabi Ismail dan Siti Hajar, mereka sangat mengidolakan nabi Ibrahim sebagai pemimpin dalam rumahtangga. Sebagai suami dan ayah, nabi Ibrahim juga selalu bertindak adil dan jujur, sehingga istri dan anaknya tidak pernah merasa dibohongi. Kepercayaan dan keyakinan itu yang membuat mereka sangat yakin pada apa yang diucapkan oleh nabi Ibrahim. Maka teladan kepemimpinan dan kejujuran seorang ayah terhadap anak dan istrinya sangatlah penting artinya dalam membina rumah tangga serta dalam membentuk watak atau karakter seorang anak.

Kita tahu bahwa anak adalah amanah dari Allah, sudah seharusnya kita didik dan kita sayangi sesuai dengan porsinya. Anak akan menjadi qurrota a’yun, penyejuk mata dan hati, pelipur lara, dan akan membawa suasana bahagia, tenteram dalam keluarga bila kita memberi mereka bekal dan teladan terbaik. Maka sejak dini hendaknya sang anak dikenalkan dengan Islam, ajarkan kepadanya tentang agama Allah ini, bagimana Islam itu sebenarnya, kenalkan mereka kepada tuhannya, yaitu Allah SWT. Dengan demikian, insya Allah anak akan menjadi generasi unggul, generasi yang di pundaknya bergantung pengharapan tegaknya agama dan bangsa ini, generasi yang berakhlak mulia, sebagaimana kepribadian nabi Ismail.

Yang tidak kalah penting, kepatuhan dan keshalehan nabi Ismail juga tidak lepas dari doa nabi Ibrahim yang senantiasa berdoa, “Ya Tuhanku, anugerahkan kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih” (Ash-Shaffat: 100). Maka Allah mengabulkan doanya,  “Maka Kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar”. (Ash-Shaffat: 101). Artinya, selain mendidik dan menjaga anak dengan baik, seorang ayah dan ibu jangan pernah lupa untuk memohon kepada Allah agar dikaruniai anak yang shalih.

Namun di balik kisah keluarga nabi Ibtahim, kita juga memperoleh teladan sosok ibu mulia, yaitu Siti Hajar. Peran dan kedudukannya demikian utama dalam seluruh rangkaian kisah ketaatan nabi Ibrahim dan Ismail kepada Allah. Meskipun dia seorang budak dan wanita hitam bangsa  Ethiopia, namun kemuliaan hati dan keteguhan imannya sungguh luar biasa. Dia menjadi istri yang dapat mendampingi dan mendorong suami untuk selalu tunduk dan patuh kepada Allah. Dia menjadi ibu yang menjaga dan mendidik  anaknya menjadi sosok anak beriman, yang tunduk patuh pada perintah Allah dan orangnya. Sungguh pantas bila beliau menjadi ibu para nabi, dan menurunkan manusia paling mulia Rasulullah Muhammad SAW.

Kisah keluarga nabi Ibrahim bisa menjadi inspirasi bagi kita semua untuk menjadi hamba Allah yang tunduk dan patuh pada perintahnya melalui keluarga yang bahagia penuh keberkahan. Nabi Ibrahim adalah bapak yang kokoh iman, tauhid dan bijaksana, nabi Ismail adalah anak yang sabar, dan Ibunda Siti Hajar adalah ibu yang tabah. Maka jika saat ini kita menjadi seorang bapak maka jadilah bapak seperti nabi Ibrahim, jika menjadi seorang ibu jadilah seperti Siti Hajar, dan jika menjadi seorang anak jadilah seperti Ismail. Bangunlah pula keluarga bahagia sebagaimana keluarga nabi Ibrahim.

 

  1. Menuju Surga Bersama-sama

Kisah keluarga nabi Ibrahim bisa menjadi teladan bagi kita semua yang ingin menuju surga bersama-sama dengan seluruh anggota keluarga. Kebersamaan dengan anggota keluarga di surga, merupakan kesempurnaan kenikmatan bagi mereka yang berhak masuk ke surga. Dalam salah satu riwayat di jelaskan bahwa saat orang-orang yang berhak masuk surga menginjakkan kakinya di surga, pertanyaan pertama yang muncul adalah di manakah orang tua, anak, dan istri kami?. Ini menunjukkan bahwa orang yang masuk surga merasakan ‘kekurangan’ selama mereka belum melihat keluarganya. Allah SWT berfirman dalam QS At-Thuur 21: “Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya”

Kisah nabi Ibahim menjadi bukti kesamaan amal shaleh antara suami, istri dan keturunannya menjadi modal utama untuk bisa bertemu di surga. Dan, tentunya amal shaleh itu  merupakan wujud dari kesamaan visi dan misi keimanan. Oleh karena itu, jika kita memiliki keinginan atau harapan agar kebahagiaan bersama berlanjut sampai di akhirat kelak, maka salah satu caranya tiada lain berupaya semaksimal mungkin untuk menjadikan diri sendiri dan anggota keluarga memiliki kesamaan iman dan amal shaleh.

Hal ini sebagaimana tercermin dari  doa para malaikat kepada Allah dalam QS Al Ghaafir 8, “Ya Tuhan kami, masukkanlah mereka ke dalam syurga ‘Adn yang Telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang saleh di antara bapak-bapak mereka, dan isteri-isteri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”

Semoga hari raya Idul Adha tahun ini, menjadi momentum bagi kita untuk mengevaluasi keluarga kita masing-masing. Kisah teladan Nabi Ibrahim dan keluarganya hendak­nya menjadi inspirasi dan motivasi bagi kita untuk membentuk keluarga sakinah, mawaddah dan rahmah, da­lam ridha Allah SWT.

(Dikutip dari khobat Idul Adha 1437 H – 2016 M, Ustad H. Zainul Muslimin di Gresik)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*