Sudahkah Kita ‘Menjadi’ Nabi Ibrahim?

Sudahkah Kita ‘Menjadi’ Nabi Ibrahim?

Banyak ayat dalam al-Qur’an yang menjelaskan tentang kemuliaan sosok nabi Ibrahim. Pada kisah perjalanan hidup dan kenabiannya tergambar jelas teladan dan ibrah yang bisa menjadi panutan bagi kaum beriman. Allah telah berfirman,  “Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia”. (Qs. al-Mumtahanah:  4)  Ayat ini menegaskan bahwa sosok nabi Ibrahim memang telah ditetapkan oleh Allah sebagai panutan bagi mereka yang ingin memperoleh kebaikan dan kemuliaan hidup. Yang menjadi pertanyaan, sudahkah kita ‘menjadi’ Ibrahim dalam kehidupan sehari-hari?

 

Teladan pertama yang bisa kita petik dari pribadi nabi Ibrahim adalah komitmen ketauhidan yang tumbuh secara alamiah, rasional namun teguh dan kokoh dipegang hingga akhir hayat. Bisa dicermati pada kisah pencarian nabi Ibrahim pada sosok tuhannya, yang dimulai dari bintang, bulan dan matahari. Pada akhirnya dia menemukan Tuhan Yang Sesungguhnya dan meyakininya dengan sepenuh hati. “Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata: ‘Inilah Tuhanku. Inilah yang lebih besar.’ Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: ‘Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.'” (Qs. al-An’am: 78-79)

 

Dari sosok nabi Ibrahim kita juga bisa memetik hikmah komitmen dakwah yang tidak pernah surut dan pantang menyerah meskipun harus menghadapi ujian dan rintangan. Pemahaman tentang ketauhidan disebarkan pada seluruh umat dengan bahasa yang santun, bersahabat namun tegas, bahkan kepada bapaknya sendiri sekalipun.  “Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya Azar,  ‘Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata.” (Qs. Al An’am: 74). Di ayat yang lain dikisahkan, nabi Ibrahim dengan penuh kasih sayang berdoa agar kaum yang mengabaikannya diampuni. Ini bukti ketulusan seorang pendakwah sejati.  “Ya Rabbi, berhala-berhala itu telah menyesatkan banyak dari manusia. Barangsiapa mengikutiku, maka orang itu termasuk golonganku, dan barangsiapa mendurhakaiku, maka Engkau Maha Pengampun, Maha Penyayang.”  (Qs. Ibraahim: 36)

Sementara dalam peristiwa penyembelihan Ismail, yang kemudian menjadi dasar pelaksanaan ibadah qurban, kita bisa memetik hikmah betapa luar biasa kokohnya kepatuhan, ketundukan, dan keiklasan nabi Ibrahim ketika menerima perintah Allah. Tidak sedikitpun ada keraguan dan keengganan ketika Allah telah memberi perintah, meskipun perintah itu sangat memberatkan. Allah berfirman, “ Dan Kami panggillah dia: Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu. sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” ( Qs. As Shoffat: 104-105 ) Coba bayangkan betapa tulus dan iklasnya nabi Ibrahim dan juga putranya bernama Ismail ketika memenuhi perintah Allah. “Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya).” (Qs. ash- Shaffat: 103)  Hal yang sama bisa dilihat pada peristiwa Hajar yang harus ditinggal di padang tandus diantara gunung-gunung batu, yang kemudian menjadi dasar pelaksanaan ibadah haji.

 

Oleh banyak ulama penyembelihan Ismail dan peristiwa Hajar juga sering ditafsirkan sebagai kesungguhan menegakkan ketauhidan,  dengan membuang jauh semua ‘berhala-berhala’ yang menghalangi tegaknya tauhid. Artinya, nabi Ibrahim telah memberi teladan bagaimana ketaatan kepada Allah tidak bisa dikalahkan oleh yang lainnya, bahkan kecintaan pada anak dan istri sekalipun. Hal ini bisa menjadi wujud dari firman Allah, “ Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi. “ ( Qs. Al Munafiqun: 9)

Dalam banyak kisah kenabiannya, kita juga bisa melihat nabi Ibrahim sebagai sosok yang tidak pernah putus asa mengharap rahmat Allah. Ujian berat yang dihadapi selalu dilalui dengan kepasrahan dan keiklasan hanya kepada Allah.  “Ibrahim berkata: ‘Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhannya, kecuali orang-orang yang sesat.'” (Qs. al-Hijr: 56) Dalam peristiwa pembakaran pada dirinya terbukti keiklasan dan ketundukan pada Allah telah menyelamatkannya, “Kami berfirman: Wahai api jadilah engkau dingin dan membawa keselamatan kepada  Ibrahim.” (QS. al-Anbiya’: 69). Demikian juga dalam peristiwa penyembelihan Ismail, ketundukan dan keiklasannya memenuhi perintah Allah menjadi bukti kesabarannya dalam menghadapi ujian yang diberikan Allah. Sungguh pada diri nabi Ibrahim terdapat teladan  yang baik. (Anton)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*