Mari ‘Mewukufkan’ Diri

Mari ‘Mewukufkan’ Diri

Haji adalah wukuf di Arafah. Rasulullah bersabda, “Haji itu Arafah” (Hr. Daud dan Tirmidzi). Demikian pentingnya ibadah wukuf bagi para jamaah haji maka Allah telah mewajibkan siapapun yang berniat menunaikan ibadah haji untuk melakukan wukuf di padang Arofah. Tidak sah haji seseorang bila tidak melakukan wukuf di Arafah. Mengapa wukuf demikian penting dalam seluruh rangkaian prosesi haji?

Wukuf adalah hari yang istimewa dan mulia. Allah menjadikan hari Arafah disaat jamaah haji melakukan wukuf sebagai hari penuh ampunan dosa sekaligus hari yang membanggakan. Rasulullah bersabda, “Tiada hari lebih banyak Allah membebaskan hamba-Nya dari api neraka kecuali pada hari Arafah. Dan sesungguhnya Dia Azza Wajalla mendekati kemudian membanggakan diri-Nya dengan kamu di hadapan para Malaikat…”  Hari Arafah juga saat tepat untuk berdoa, bermunajad memohon kepada Allah.  Rasulullah bersabda, “Sebaik-baik doa adalah doa hari Arafah dan sebaik-baik yang aku ucapkan dan diucapkan nabi-nabi sebelum aku adalah ‘laa ilaaha illallaah wahdahuu laa syarikalah lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘ala kulli sya’in qadiir.” (Hr. Tirmidzi).

Oleh karena itu banyak hikmah yang bisa dipetik dari ibadah wukuf. Wukuf yang artinya ‘berhenti’ bisa dimaknai sebagai waktu yang tepat bagi setiap muslim untuk melakukan introspeksi diri, menilai seluruh perjalanan hidup yang telah dilalui. Ketika wukuf  terbuka kesempatan untuk jujur pada diri sendiri dan kepada Allah dengan mengakui segala khilaf, salah dan dosa. Disini mereka yang wukuf bisa menemukan ma’rifat jati dirinya dengan kesadaran untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan.

Ada juga yang memaknai wukuf sebagai gambaran nyata padang Mahsyar di hari kebangkitan. Berkumpulnya jutaan manusia di padang pasir luas, dengan menanggalkan semua simbol keduniaan menjadi representasi padang Mahsyar. Disini mereka yang wukuf seharusnya memahami dengan sungguh-sungguh bahwa pada akhirnya kelak manusia akan dikumpulkan oleh Allah untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. “Peringatkanlah dengan Al qur’an itu orang yang takut akan dikumpulkan menghadap Tuhannya pada hari kiamat, tidak ada pelindung bagi mereka dan pemberi syafaat selain Allah, agar mereka bertakwa.” (Qs. Al-An’am: 51)

Namun hikmah terbesar yang bisa dipetik dari wukuf  bisa diambil dari salah satu pesan Rasulullah ketika memberikan khotbah wukuf pada haji wada’. Beliau bersabda, “Maka perhatikanlah perkataanku itu, wahai manusia, sesungguhnya aku telah sampaikan. Aku tinggalkan sesuatu kepada kalian, yang jika kalian pegang teguh, kalian tidak akan tersesat selama-lamanya, yaitu Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya.” (Hr. Muslim). Disaat wukuf  seharusnya semua merenung dan mengingat pesan rasul itu, sudahkah kita melaksanakan dengan sungguh-sungguh pesan itu?

Semua hikmah wukuf itu seharusnya juga dipraktekkan dalam kehidupan sesudah pulang menunaikan ibadah haji. Bahkan bagi mereka yang belum pernah menunaikan ibadah haji hikmah wukuf juga bisa dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Apalagi ketika para jamaah haji melakukan wukuf, umat Islam yang tidak wukuf disunnahkan berpuasa. Ini bisa diartikan ‘berwukuf’ namun tidak di padang Arafah.

Mari kita ‘wukufkan’ diri dengan selalu ‘berhenti’ sejenak untuk mendekatkan diri pada Allah, bermunajad dan memohon ampun atas segala dosa. Mari kita selalu ‘berhenti’ sejenak untuk meneguhkan komitmen hanya berpagang pada Al Qur’an dan As Sunnah dalam mengarungi kehidupan. (Anton)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*