Shadaqah Jariyyah Berbuah Surga

Shadaqah Jariyyah Berbuah Surga

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya di antara amalan dan kebaikan seorang mukmin yang akan menemuinya setelah kematiannya adalah: ilmu yang diajarkan dan disebarkannya, anak shalih yang ditinggalkannya, mushhaf yang diwariskannya, masjid yang dibangunnya, rumah untuk ibnu sabil yang dibangunnya, sungai (air) yang dialirkannya untuk umum, atau shadaqah yang dikeluarkannya dari hartanya di waktu sehat dan semasa hidupnya, semua ini akan menemuinya setelah dia meninggal dunia”. (Hr. Ibnu Majah dan Baihaqi dari Abi Hurairah)
Pengertian shadaqah jariyyah menurut madzhab empat ialah, suatu pemberian untuk mencari pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.  Ada yang mengatakan, memberikan shadaqah yang tidak wajib, dengan cara menguasakan barang dengan tanpa ganti (gratis).
Ada yang mendefinisikan sebagai harta yang diberikan dengan mengharap pahala dari Allah. Ada pula yang mengartikan, harta “wakaf”, sedangkan pengertian wakaf itu sendiri yaitu, apa-apa yang ditahan di jalan Allah.

Dari pengertian di atas jelas bahwa shadaqah jariyyah adalah suatu ketaatan yang dilakukan oleh seseorang untuk mencari ridho Allah, sebagai upaya mendekatkan diri kepada Allah agar orang-lain bisa memanfaatkannya sepanjang waktu tertentu, sehingga pahalanya mengalir baginya sepanjang barang yang dishadaqahkan itu masih ada.  Di antara contoh shadaqah jariyyah yang telah dilakukan di zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ialah kebun kurma yang dishadaqahkan oleh Abu Thalhah (seorang sahabat Nabi) ketika turun firman Allah. “Dan tidaklah kamu bisa mendapatkan kebaikan sehingga kamu menginfakkan (shadaqahkan) sebagian apa-apa yang kamu sukai”. [Qs. Ali-Imran: 92]

Ada juga contoh lain, yaitu kebun yang dishadaqahkan oleh Bani An-Najjar kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam rangka untuk pembangunan masjid di waktu Nabi datang di kota Madinah. Selain itu, sumur “ruumah” yang dibeli oleh sahabat Utsman Radhiyallahu ‘anhu dan beliau shadaqahkan pada waktu kaum muslimin kekurangan air. Juga tanah/kebun yang dishadaqahkan oleh sahabat Umar Radhiyallahu ‘anhu, yang merupakan harta yang berharga baginya (yang dinamakan tsamgh). Beliau menshadaqahkan tanah tersebut, dengan syarat tidak boleh dijual, diberikan atau diwariskan, akan tetapi buahnya (kebun/tanah itu), dishadaqahkan untuk budak, orang-orang miskin, tamu, ibnu sabil (musafir yang kehabisan bekal) serta karib kerabat Rasulullah.

Di antara hadits-hadits yang menyebutkan shadaqah jariyyah, adalah hadits riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Utsman bin ‘Affan Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Barangsiapa yang membangun masjid untuk mencari wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala membangunkan untuknya sebuah rumah di dalam surga”. Di dalam riwayat Imam Tirmidzi dari Anas bin Malik: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang membangun masjid, kecil maupun besar, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala membangunkan untuknya sebuah rumah di dalam surga”.

Pada hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Jabir,  Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,  “Barangsiapa yang membangun masjid karena Allah Subhanahu wa Ta’ala walaupun sebesar sarang burung atau lebih kecil darinya, niscaya Allah akan membangunkan untuknya sebuah rumah di dalam surga”.

Banyak contoh telah ditunjukkan kepada umat Rasulullah untuk memperbanyak shadaqah jariyyah. Mengapa kita tidak segera melakukannya? (Red)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*