Awas Bahaya Syirik Kecil

Awas Bahaya Syirik Kecil

Syirik ashghar  atau biasa disebut syirik kecil adalah perbuatan atau keyakinan yang mengurangi keutuhan tauhid. Apabila seseorang terjerumus di dalamnya maka dia menanggung dosa, bahkan dosa besar yang terbesar di bawah tingkatan syirik akbar dan di atas dosa-dosa besar lain seperti mencuri dan berzina. Namun orang yang melakukannya tidak sampai keluar dari Islam. Dan apabila meninggal dalam keadaan berbuat syirik ashghar  maka pelakunya termasuk orang yang diancam tidak diampuni dosanya dan terancam dijatuhi siksa di neraka meskipun tidak akan kekal di sana.

Syirik ashghar ini terbagi menjadi syirik zhahir (tampak) dan syirik khafi (tersembunyi/samar). Pertama, syirik zhahir. Syirik jenis ini meliputi ucapan dan perbuatan fisik yang menjadi sarana menuju syirik akbar. Bisa juga diartikan dengan ucapan dan perbuatan yang disebut sebagai syirik oleh dalil-dalil syariat, akan tetapi tidak mencapai tingkatan tandid/persekutuan secara mutlak. Contohnya adalah bersumpah dengan menggunakan selain nama Allah. Rasulullah  bersabda, “Barang siapa yang bersumpah dengan menyebut selain nama Allah maka dia telah kafir atau berbuat syirik.” (HR. Tirmidzi, beliau (Tirmidzi) menghasankannya, dan dishahihkan juga oleh Al Hakim). Contoh lainnya adalah mengatakan, “Apa pun yang Allah kehendaki dan yang kamu inginkan.” Ketika ada seseorang yang mengatakan ucapan itu kepada beliau, maka Rasulullah  marah dan bersabda, “Apakah engkau hendak menjadikan aku sebagai sekutu bagi Allah? Katakanlah Apa pun yang Allah kehendaki, cukup itu saja.” (HR. Nasa’i). Contoh lain adalah mengatakan, “Seandainya bukan karena dokter maka saya tidak akan sembuh”, dan lain sebagainya.

Kedua, Syirik kafi (tersembunyi). Syirik  ini terletak di dalam hati manusia. Ia dapat berujud rasa ingin dilihat dan menginginkan pujian orang dalam beramal (riya’) atau ingin didengar (sum’ah). Seperti contohnya: membagus-baguskan gerakan atau bacaan shalat karena mengetahui ada orang yang memperhatikannya. Contoh lainnya adalah bersedekah karena ingin dipuji, berjihad karena ingin dijuluki pemberani, membaca Quran karena ingin disebut Qari’, mengajarkan ilmu karena ingin disebut sebagi ‘Alim, dan lain-lain. Dengan catatan dia masih mengharapkan keridhaan Allah dari perbuatannya itu.

Amal yang tercampuri syirik semacam ini tidak akan diterima oleh Allah. Dan apabila ternyata dia hanya mencari tujuan hina itu maka perbuatan yang secara lahir berupa amal shalih itu telah berubah menjadi syirik akbar, sebagaimana halnya riya’ yang dimiliki oleh orang munafik. Rasulullah  pernah bersabda, “Sesuatu yang paling aku khawatirkan menimpa kalian adalah syirik kecil”. Maka beliau pun ditanya tentangnya. Sehingga beliau menjawab, “Yaitu riya’/ingin dilihat dan dipuji orang.” (HR. Ahmad, dishahihkan Al Albani dalam Ash Shahihah no. 951 dan Shahihul Jami’ no. 1551). Rasulullah  bersabda, “Binasalah hamba dinar, hamba dirham, hamba Khamishah, hamba Khamilah. Jika dia diberi maka dia senang tapi kalau tidak diberi maka dia murka. Binasalah dan rugilah dia…” (HR. Bukhari) (Abu Muslih Ari Wahyudi/ton)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*