‘Pedang Malam’ Al Fatih Menaklukkan Konstantinopel

‘Pedang Malam’ Al Fatih Menaklukkan Konstantinopel

Islam menaklukkan eropa dipimpin oleh seorang pemuda sangat shaleh dan berakhak mulia berusia 21 tahun bernama Muhammad Al Fatih. Dia pemuda pemberani, ahli strategi militer, juga istiqomah dalam shalat tahajudnya.  Sebagai jenderal dia memimpin laskar Islam menaklukkan benteng terkuat imperium Byzantium, Konstantinopel. Karena jasanya dia diberi gelar Al Fatih (sang pembuka), yaitu membuka kota Byzantium. Kota ini diubahnya menjadi kota Istambul. Dari kota itu dia menebarkan kebenaran dan kasih sayang Islam di bumi Eropa.

Apa rahasia dibalik kesuksesannya?  Kunci suksesnya adalah sifat Muhammad Al Fatih  yang sangat tenang, berani, sabar menanggung penderitaan, tegas dalam membuat keputusan dan mempunyai kemampuan mengawasi diri yang luar biasa. Kemampuanya dalam memimpin dan mengatur pemerintahan sangat menonjol.  Dia sangat tegas terhadap musuh namun lembut hatinya bagai selembar sutra dalam menghadapi rakyat yang dipimpinnya. Ketika menjadi sultan dia memiliki kebiasaan unik, yaitu selalu berkeliling dimalam hari memeriksa kondisi rakyatnya.

Selain itu, senjata utama Muhammad Al Fatih  dalam menaklukkan Eropa adalah shalat malam. Qiyamul lail, shalat tahajud menjadi senjata utamanya dalam mengarungi pertarungan pengaruh di Eropa. Inilah Pedang Malam, yang selalu diasahnya dengan tulus ikhlas dan khusuk, ditegakkan setiap malam. Dengan pedang malam ini timbul energi yang luar biasa dari pasukan Muhammad Al Fatih. Dia mencontoh Rasulullah yang tidak pernah putus menjalankan shalat malam. Bukankah Rasulullah  menegakkan shalat tahajud sepanjang malam dan setiap hari? Bukankah shalat tahajud merupakan kewajiban yang tak bisa beliau tinggalkan dalam setiap perjuanganya?

Ada sebuah kisah yang menjadi simbol betapa kuatnya Muhammad Al Fatih  menegakkan shalat dan shalat malam. Suatu hari timbul persoalan ketika pasukan Islam hendak melaksanakan shalat Jum’at pertama kali di kota itu. “Siapakah yang layak menjadi imam shalat Jum’at?” Tak ada jawaban. Tak ada yang berani yang menawarkan diri ! Lalu Muhammad Al Fatih tegak berdiri. Beliau meminta kepada seluruh rakyatnya untuk bangun berdiri. Kemudian beliau bertanya. “Siapakah diantara kalian yang sejak remaja, sejak akhil baligh hingga hari ini pernah meninggalkan shalat wajib lima waktu, silakan duduk!” Subhanallah! Tidak seorangpun pasukannya yang duduk. Semua tegak berdiri. Apa artinya? Itu berarti, tentara Islam pimpinan Muhammad Al Fatih sejak masa remaja mereka hingga hari itu, tak seorangpun yang meninggalkan shalat fardhu.

Lalu Muhammad Al Fatih kembali bertanya, “Siapa diantara kalian yang sejak baligh dahulu hingga hari ini pernah meninggalkan shalat sunah rawatib? Kalau ada yang pernah meninggalkan shalat sunah sekali saja silakan duduk!”. Sebagian lainya segera duduk. Artinya, pasukan Islam sejak remaja mereka ada yang teguh hati, tidak pernah meninggalkan shalat sunah setelah maghrib, dua roka’at sebelum shubuh dan shalat rowatib lainnya. Namun memang ada yang pernah meninggalkannya. Ini bukti kualitas karakter dan keimanan tentara al Fatih, jujur dan teguh memegang kebenaran.

Dengan mengedarkan matanya ke seluruh rakyat dan pasukanya Muammad Al Fatih kembali berseru lalu bertanya, “ Siapa diantara kalian yang sejak masa akhil baligh sampai hari ini pernah meninggalkan shalat tahajud di kesunyian malam? Yang pernah meninggalkan atau kosong satu malam saja, silakan duduk!” Apa yang terjadi? Semua yang hadir dengan cepat duduk. Hanya ada seorang saja yang tetap tegak berdiri. Siapakah dia? Dia adalah Sultan Muhammad Al Fatih, sang penakluk benteng Byzantium Konstantinopel. Beliaulah yang pantas menjadi imam shalat Jumat hari itu. Karena hanya Al Fatih seorang yang sejak remaja selalu mengisi butir-butir malam sunyinya dengan bersujud kepada Allah Swt, tidak pernah lepas semalampun.

Sungguh sangat pantas bila pemimpin seperti Al Fatih mampu menaklukkan Eropa. Keberadaan Muhammad Al-Fatih telah diprediksi oleh Rasulullah Saw dalam sabdanya,
“Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” [H.R. Ahmad bin Hanbal Al-Musnad 4/335]. (dari beberapa sumber/ton)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*