Etika Bisnis dalam Islam

Etika Bisnis dalam Islam

Dalam berbagai  hadits Rasulullah mendorong para sahabat untuk mengembangkan usaha perdagangan (bisnis). Di antaranya hadits riwayat Ahmad, Rasulullah bersabda, “Hendaklah kamu berbisnis (berdagang), karena di dalamnya terdapat 90 % pintu rezeki”. Hadits ini menunjukkan bahwa profesi bisnis harus diutamakan dari profesi-profesi lainnya. Bahkan dalam hadits yang lain beliau menyebut profesi pedagang sebagai profesi terbaik di antara profesi yang ada. “Sebaik-baik usaha  adalah profesi sebagai pedagang”. (H.R.Baihaqy). Demikian pentingnya kedudukan para pebisnis (pedagang), maka Nabi Muhammad menempatkannya sejajar dengan para Nabi, Syuhada dan Shalihin.

Namun, harus harus diperhatikan bahwa kedudukan seorang pedagang dan wirausahawan yang begitu terhormat dapat dicapai, apabila pedagang tersebut adalah pedagang yang jujur, amanah dan tepercaya. Sabda Rasulullah, “Pedagang (pebisnis) yang jujur dan amanah ditempatkan Allah bersama Nabi, Syuhaha, dan Sholihin (orang-orang yang shalih)”. Dari hadits tersebut dapat disimpulkan bahwa kejujuran merupakan pilar paling penting bagi seorang pebisnis.

Hadits berikut ini kembali menjelaskan pentingnya kejujuran dan etika bisnis lainnya  dalam kegiatan bisnis. Dari Mu’az bin Jabal, bahwa Rasulullah bersabda, ”Sesungguhnya sebaik-baik usaha adalah usaha perdagangan yang apabila mereka berbicara tidak berdusta,  jika berjanji tidak menyalahi,  jika dipercaya tidak khianat,  jika membeli tidak mencela produk,  jika menjual tidak memuji-muji barang dagangan, jika berhutang tidak melambatkan pembayaran, jika memiliki piutang tidak mempersulit” (H.R.Baihaqi dan dikeluarkan oleh As-Ashbahani).

Dalam hadits yang lain, Nabi Muhammad dengan tegas mengatakan,”Barang siapa yang menipu, maka dia bukan termasuk kepada golongan kami”. Larangan Nabi menggunakan sumpah palsu dalam berbisnis merupakan anjuran untuk menegakkan kejujuran dalam aktivitas bisnis. Betapa pentingnya akhlak kejujuran dan  amanah, sehingga para ulama sepanjang sejarah menyimpukan bahwa sifat utama Nabi adalah shiddiq, amanah, tabligh, dan fatanah. Kejujuran menempati urutan pertama. Hal ini menunjukkan bahwa kejujuran menjadi sifat terpenting bagi pebisnis, selanjutnya amanah (terpercaya, bertanggung jawab dan profesional). Berikunya tabligh yang berarti tranparansi dan komunikatif. Sedangkan kepintaran ditempatkan pada urutan keempat. Hal ini menunjukkan bahwa kejujuran dan amanah lebih utama dari hanya sekedar kepintaran.

Selanjutnya, Nabi Muhammad menekankan pentingnya sikap senang dan saling ridha antar para pihak yang terlibat dalam bisnis. Jangan sampai terjadi perasaan benci dan penyesalan antara kedua belah pihak, akibat salah satu pihak melakukan kecurangan, penipuan atau kezaliman. Firman Allah, ”Janganlah kamu memakan harta sesamamu dengan cara yang bathil, melainkan dengan perdagangan yang saling ridha di antara kamu.(QS.4:29). Menurut Ibnu ’Araby, terdapat 56 bentuk bisnis yang batil yang harus dihindari.

Di antara ajaran Nabi tentang penegakan etika bisnis, riba mendapat sorotan dan tekanan cukup tajam. Banyak ayat dan hadits yang mengecam riba dan menyebutnya sebagai perbuatan terkutuk dan dosa besar yang membuat pelakunya kekal di dalam neraka. Paradigma pemikiran masyarakat yang telah terbiasa dengan system riba (bunga) digesernya menjadi paradigma syariah secara bertahap. Selanjutnya Nabi Muhammad juga mengajarkan konsep transaksi valas (sharf) yang sesuai syariah, pertukaran secara  forward atau tidak spot (kontan) dilarang, karena sangat rawan kepada praktik riba fadhl. (DR. Agustianto/ton)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*