3 Langkah Mempertahankan Semangat Ramadhan
Ribuan Masyarakat aceh memenuhi mesjid-mesjid untuk melaksanakan shalat idul fitri 1427 H.

3 Langkah Mempertahankan Semangat Ramadhan

Ramadhan tahun ini sudah berakhir. Selanjutnya, rutinitas keseharian akan kembali menghiasi dan mewarnai hidup kita. Kita khawatir pesta dan aroma kemaksiatan akan segera menggantikan suasana ketentraman dan kekhusyuan Ramadhan. Kita khawatir setan-setan yang sebelumnya dibelenggu akan kembali liar dan memancing manusia untuk mengumbar syahwatnya bersama mereka. Kemeriahan suasana tadarus akan hilang. Semangat tilawah Al-Qur’an akan berganti. Semuanya akan kembali sebagaimana suasana sebelum ramadhan. Itu yang terjadi berulang-ulang setiap tahun.

Berbagai fenomena tersebut memberikan sinyal kepada kita, ramadhan tahun ini hanya akan mengulang ramadhan-ramadhan tahun lalu. Tanpa pengaruh terhadap jiwa. Tanpa perubahan pada sikap dan perilaku. Tanpa perbaikan terhadap iman. Tanpa peningkatan terhadap ketakwaan. Persis seperti yang disampaikan Rasulullah, “Banyak orang yang berpuasa yang tidak mendapatkn apa-apa dari puasanya, kecuali lapar dan haus” (HR. An-Nasai dan Ibnu Majah).  Ini sangat ironis. Namun, dampak dari ramadhan tidak nampak dalam kehidupan kita sebagai bangsa. Yang kita harapkan adalah mempertahankan suasana dan semangat ramadhan setelah ramadhan berakhir.  Paling tidak ada tiga hal yang harus diperhatikan dan dipertahankan.

Pertama, jangan hilangkan kebiasaan yang sudah dibangun di bulan ramadhan. Jika pagi hari ramadhan biasa ke masjid, jangan hilangkan kebiasaan itu. Jika sebelum sahur biasa melakukan shalat dua rakaat, jangan tinggalkan kebiasaan itu pasca ramadhan. Jika setelah subuh, tilawah Al-Quran sudah menjadi kebiasaan, jangan hilangkan ia. Jika kebiasaan sedekah sudah mulai terbangun dengan mudah di bulan ramadhan, teruskan di bulan selanjutnya. Intinya, kita perlu melanjutkan kebiasaan-kebiasaan baik yang sudah dibangun saat ramadhan.

Kedua, kita perlu melanjutkan interaksi dengan komunitas ramadhan. Komunitas orang-orang sholeh yang menjadi rekan saat beribadah, teman saat pengajian, dan kawan saat melakukan berbagai aktifitas. Komunitas yang membangun jiwa dan semangat untuk maju. Komunitas dimana kita bisa saling memberi dan menerima. Selain dengan komunitas dekat, perlu dipertahankan kedekatan hubungan dengan komunitas jauh, para tokoh masyarakat dan ulama.

Ketiga, kedekatan hubungan dengan keluarga saat sahur bersama dan berbuka puasa bersama perlu dipertahankan. Hanya di bulan ramadhan, sahur bersama dilakukan. Hanya di bulan ramadhan, seluruh anggota keluarga bangun bersama di waktu sahur, sepertiga malam terakhir, saat-saat yang disukai Allah. Di bulan ramadhan, suasana kedekatan hati dan jiwa terbangun di antara anggota keluarga dengan indah. Ini yang perlu dipertahankan pasca ramadhan. Indahnya sahur bersama perlu diciptakan lagi di luar ramadhan. Tentramnya hati saat munajat kepada Allah di saat sahur perlu dipertahankan.

Jika ketiga hal diatas mampu kita jaga dan lestarikan, maka insya Allah suasana ramadhan akan tetap terjaga dalam rumah tangga dan masyarakat kita. Jika demikian, maka kita akan merasakan bulan-bulan lain seperti bulan ramadhan. Ini berarti pula, kebaikan dan keberkahan akan terus hadir dan mengalir sepanjang tahun, bagi keluarga, masyarakat dan bangsa ini. (Prihandoko/ton)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*