Menjaga Taqwa Pasca Ramadhan

Menjaga Taqwa Pasca Ramadhan

Setiap kali Ramadhan berlalu selalu muncul sejumlah pertanyaan, sejauh mana ketaqwaan kita meningkat? Sudahkah kita mendapat derajat taqwa sebagaimana dijanjikan Allah bagi mereka yang telah berhasil melalui perjuangan selama Ramadhan? Atau sebaliknya, kita hanya menjadi peserta berbagai ritual ibadah selama Ramadhan, yang kemudian meninggalkan bulan suci itu tanpa prestasi apapun?

Khalifah Umar bin Abdul Aziz  mengatakan, “Yang bertaqwa kepada Allah itu bukan seseorang yang hanya melakukan shaum di siang hari dan menegakkan qiyamul lail di malam  hari serta rajin melakukan amal ibadah diantara dua waktu tersebut, melainkan (orang yang taqwa itu) yang meninggalkan apa yang diharamkan Allah dan melaksanakan apa yang telah diwajibkan oleh Allah.”  Artinya, kualitas ketaqwaan seseorang pasca Ramadhan tidak hanya diukur dari keberhasilannya menjalankan rangkaian ibadah selama bulan Ramadhan, tetapi lebih dari itu juga tampak dari komitmennya menjaga ketaqwaan dengan menjalankan perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya.

Bagi seorang muslimn taqwa memang pangkal dari amal perbuatan, sebagaimana hadits dari Abu Aa’id Al Khudri, Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, berilah aku nasehat.” Maka Nabi saw menjawab: “Aku menasehati engkau agar bertaqwa kepada Allah, karena taqwa itu adalah pangkal segala sesuatu.” (HR. Ahmad dari Abu Sa’id al Khudri). Dengan demikian jelas bahwa kualitas ketaqwaan seseorang akan menjadi dasar perilaku dan tindakan seseorangan. Semakin tinggi kualitas ketaqwaan seseorang akan mendekatkan diri pada kesungguhan untuk selalu berjalan di jalan Allah.

Banyak ayat al Qur’an yang memperjelas mengenai hakekat taqwa dengan menampilkan sifat-sifat orang yang taqwa, antara lain, “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan Rabbmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa. (Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji (dosa besar) atau menganiaya diri sendiri (dosa kecil), mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka, dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (Qs. Ali Imran: 133-135).

Selain itu,  salah satu wujud ketaqwaan kepada Allah Swt adalah berusaha menjadikan ketaqwaan itu sebagai pijakan utama dalam kehidupan sehari-hari. Kewajiban yang ditetapkan Allah, seperti amar ma’ruf nahi mungkar, muamalah berdasarkan sunnah, menerapkan sistem dan syariat Islam dalam seluruh aspek kehidupan, waspada pada tipu muslihat orang-orang kafir dan munafiq serta berbagai aspek kehidupan lain selalu didasarkan pada ketaqwaan yang kokoh. Sebaliknya, seluruh praktek perilaku kehidupan juga makin memperkokoh kualitas ketaqwaan.

Bersyukurlah mereka yang selalu mampu menjaga ketaqwaannya. Allah akan menjadikannya sebagai hamba yang istimewa, dan selalu memberi perlindungan dan jalan keluar dari semua permasalahan. “Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. ath Thalaq: 2-3). Menanggapi ayat ini, Ali bin Abi Thalhah berkata bahwa ayat ini mampu menolak dan memecahkan setiap kesulitan di dunia dan akhirat.

Jaminan Allah untuk menjaga hamba-Nya yang bertaqwa dari semua permasalahan hidup yang menimpa dengan  memberi jalan keluar terbaik, seharusnya menjadi pendorong semangat bagi siapapun untuk selalu berjuang mengokohkan dan meningkatkan kualitas ketaqwaan. Sungguh tidak ada nikmat lain dalam kehidupan ini selain menjadi hamba yang dicintai Allah, dan selalu dalam perlindungan-Nya. (Anton)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*