Beberapa Keringanan Selama dalam Perjalanan

Beberapa Keringanan Selama dalam Perjalanan

Perjalanan jauh seperti mudik lebaran merupakan kegiatan yang melelahkan fisikdan mental. Perjalanan bisa berlangsung berhari-hari menembus kemacetan dan kepadatan lalu lintas. Dalam kaitannya dengan perjalanan (safar) Rasulullah menyebutnya sebagai sepenggal dari adzab, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu; “Safar adalah bagian dari adzab (siksa). Ketika safar salah seorang dari kalian akan sulit makan, minum dan tidur. Jika urusannya telah selesai bersegeralah kembali kepada keluarganya.” (Hr. Bukhari dan Muslim).

Bersyukurlah bahwa Islam memberi keringanan dan kemudahan bagi mereka yang sedang melakukan perjalanan. Di antara keringanan tersebut adalah:

  1. Mengqashar Shalat. Orang yang melakukan perjalanan mendapatkan keringanan untuk meng-qashar shalat, yakni meringkas shalat yang empat raka’at menjadi dua raka’at. Keringanan meng-qashar shalat diterangkan oleh Allah dalam surah An-Nisa ayat 101; “Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu men-qashar shalat(mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir.”  Mengqoshor shalat yaitu meringkas shalat yang berjumlah empat raka’at (Dzuhur, Ashar dan Isya) menjadi dua raka’at dan ini hukumnya wajib karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakr, Umar, dan Utsman selalu mengqoshor shalat ketika safar hingga mereka wafat.
  2. Menjama’ Shalat. Selain qashar shalat, musafir juga mendapat keringanan dalam shalat berupa jama’, yakni menggabungkan dua shalat menjadi satu yang dikerjakan pada satu waktu di awal atau di akhir. Shalat yang dijamak adalah shalat yang 3 dan 4 raka’at, yakni dzuhur-ashar dan magrib-isya. Dalil tentang jama’ diterangkan dalam hadits-hadits nabawi, diantaranya hadits Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma. Beliau berkata, “Aku pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika terburu-buru dalam perjalan, maka beliau mengakhirkan shalat maghrib dan menjama’ dengan shalat ‘isya” (Hr. Bukhari & Muslim).
  3. Boleh Tidak Berpuasa. Apabila seorang musafir tidak mengalami kesulitan ketika melakukan perjalanan jauh maka lebih baik baginya untuk berpuasa. Namun jika mendapatkan kesulitan, maka lebih baik tidak berpuasa. “Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (Qs. Al Baqarah: 184).
  4. Boleh Melakukan shalat Sunnah di Atas Kendaraan. Musafir boleh melakukan shalat sunnah semisal qiyamul Lail, witir, dhuha, dan sunnah-sunnah lainnya dalam kendaraan kemanapun kendaraan tersebut mengarah dan menghadap.“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukan shalat sunnah di atas kendaraannya dengan menghadap searah kendaraannya. Namun jika ingin melaksanakan shalat fardhu, beliau turun dari kendaraan dan menghadap kiblat”. (Hr. Bukhari). Namun bila tidak memungkinkan shalat wajib turun dari kendaraan maka bisa dilakukan di atas kendaaraan. ,“Maka bertakwalah kepada Allah semampu kalian.” (QS. At Taghabun: 16) (dari beberapa sumber/Anton)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*