Anda Mau Mudik? Ini Tuntunan Islam dalam Perjalanan

Anda Mau Mudik? Ini Tuntunan Islam dalam Perjalanan

Mudik lebaran telah menjadi tradisi yang mengiringi berakhirnya bulan Ramadhan. Jutaan orang bergerak dari kota menuju desa untuk bersilaturahim dengan sanak keluarga. Kemacetan terjadi di sepanjang jalan arus mudik karena kapasitas jalan tidak lagi mampu menampung jumlah kendaraan. Namun banyak yang lupa bahwa sesungguhnya Islam memiliki tuntunan yang jelas bagi umatnya yang akan dan sedang melakukan safar atau perjalanan.

Disunnahkan bagi orang yang berniat untuk melakukan perjalan jauh (safar) beristikharah terlebih dahulu kepada Allah mengenai rencana safarnya itu dengan doa istikharah. Hendaknya bertobat kepada Allah  dari segala kemaksiatan yang pernah ia lakukan dan meminta ampun kepada-Nya dari segala dosa yang telah diperbuatnya, sebab ia tidak tahu apa yang akan terjadi di balik kepergiannya itu.

Hendaknya ia mengembalikan barang-barang yang bukan haknya dan amanat-amanat kepada orang-orang yang berhak menerimanya, membayar hutang atau menyerahkannya kepada orang yang akan melunasinya dan berpesan kebaikan kepada keluarganya. Selain itu. ketika safar juga harus membawa perbekalan secukupnya, seperti air, makanan dan uang.

Disunnahkan bagi musafir pergi dengan ditemani oleh teman yang shalih selama perjalanannya untuk meringankan beban di perjalananya dan menolongnya bila perlu. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam telah bersabda, “Kalau sekiranya manusia mengetahui apa yang aku ketahui di dalam kesendirian, niscaya tidak ada orang yang menunggangi kendaraan (musafir) yang berangkat di malam hari sendirian.” (HR. Al-Bukhari)

Disunnahkan bagi para musafir apabila jumlah mereka lebih dari tiga orang mengangkat salah satu dari mereka sebagai pemimpin (amir), karena hal tersebut dapat mempermudah pengaturan urusan mereka. Rasulullah bersabda, “Apabila tiga orang keluar untuk safar, maka hendaklah mereka mengangkat seorang amir dari mereka”. (HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Al-Albani).

Disunnahkan berangkat safar pada pagi (dini) hari dan sore hari, karena Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda, “Ya Allah, berkahilah bagi ummatku di dalam kediniannya”. Dan juga bersabda, “Hendaknya kalian memanfaatkan waktu senja, karena bumi dilipat di malam hari.” (Keduanya diriwayatkan oleh Abu Daud)

Disunatkan bagi musafir apabila akan berangkat mengucapkan selamat tinggal kepada keluarga, kerabat dan teman-temannya, sebagaimana dilakukan oleh Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam dan dia sabdakan, “Aku titipkan kepada Allah agamamu, amanatmu dan penutup-penutup amal perbuatanmu.” (HR. At-Turmudzi, dishahihkan oleh Al-Albani).

Apabila si musafir akan naik kendaraannya, baik berupa mobil atau lainnya maka hendaklah ia membaca basmalah, dan apabila telah berada di atas kendaraannya hendaklah ia bertakbir tiga kali, kemudian membaca doa safar berikut ini, “Maha Suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami; Ya Alloh, sesungguhnya kami memohon kepadamu di dalam perjalanan kami ini kebajikan dan ketaqwaan, dan amal yang Engkau ridhai; Ya AllAh, mudahkanlah perjalannan ini bagi kami dan dekatkanlah kejauhannya; Ya AllAh, Engkau adalah Penyerta kami di dalam perjalanan ini dan Pengganti kami di keluarga kami; Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari bencana safar dan kesedihan pemandangan, dan keburukan tempat kembali pada harta dan keluarga”. (HR. Muslim).

Disunnahkan bertakbir di saat jalan menanjak dan bertasbih di saat menurun, karena ada hadits Jabir yang menuturkan, “Apabila (jalan) kami menanjak maka kami bertakbir dan apabila menurun maka kami bertasbih.” (HR. Al-Bukhari). Disunnahkan bagi musafir selalu berdoa di saat perjalanannya, karena doanya mustajab (mudah dikabulkan). Dan di sepanjang perjalanan tentu harus tetap memperhatikan kewajiban ibadah.

Apabila musafir telah sampai tujuan dan menunaikan keperluannya dari safar yang ia lakukan maka hendaknya segera kembali ke kampung halamannya. Di dalam hadits Abu Hurairah disebutkan diantaranya, “…Apabila salah seorang kamu telah menunaikan hajatnya dari safar yang dilakukannya, maka hendaklah ia segera kembali ke kampung halamannya.” (Muttafaq ‘alaih). (Dikutip dari Al-Qismu Al-Ilmi-Dar Al-Wathan/Anton)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*