Dimana Wanita Harus Beri’tikaf, Di Rumah atau di Masjid?

Dimana Wanita Harus Beri’tikaf, Di Rumah atau di Masjid?

I’tikaf termasuk amal shalih yang disyariatkan pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadlan. Dan sesungguhnya Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam biasa beri’tikaf pada sepuluh hari terahir pada bulan Ramadlan. Dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim, dari Aisyah radliyallaahu ‘anha,Adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadlan hingga Allah mewafatkannya. Kemudian i’tikaf dilanjutkan oleh istri-istri beliau.

Hadist ini oleh para ulama dijadikan dasar bahwa i’tikaf disyariatkan bagi kaum laki-laki dan wanita. Para ulama juga telah berijma’ (bersepakat) i’tikaf laki-laki tidak sah kecuali di masjid. Mereka berdalil dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,Dan janganlah kamu campuri mereka itu (istri-istrimu), sedang kamu beri`tikaf dalam mesjid.” (Qs. Al-Baqarah: 187), dan juga dengan dasar pelaksanaan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam yang di masjid. Namun yang menjadi pertanyaan, bagaimana dengan i’tikaf bagi kaum wanita? Apakah mereka bisa melakukannya di masjid atau di rumah?

Tentang hal ini ternyata di kalangan ulama muncul beberapa perbedaan pandangan. Jumhur ulama dari kalangan Madhab Maliki, Syafi’i, Hambali, berpandangan bahwa kaum perempuan seperti laki-laki, tidak sah i’tikafnya kecuali di masjid. Maka tidak sah i’tikaf yang dilaksanakannya di rumahnya. Pendapat tersebut juga merujuk pada peristiwa ketika Abdullah bin Abbas ditanya tentang seorang perempuan yang bersumpah untuk beri’tikaf di mushala di rumahnya. Abdullah bin Abbas lalu mengatakan, “Itu adalah bid’ah, dan tindakan yang paling dibenci Allah Swt adalah melakukan bid’ah. Tidak ada i’tikaf selain di masjid di mana shalat lima waktu dilaksanakan.” Berdasarkan pandangan itu, kamar atau mushala di rumah tidak bisa dianggap sebagai masjid, dan jika i’tikaf dalam kamar atau mushala di rumah dibolehkan, maka para istri Rasulullah Saw seharusnya sudah melakukannya, meski cuma sekali.

Pendapat ini berbeda dengan yang dipahami madhab Hanafi, mereka berkata, “Sah i’tikaf seorang wanita yang dilaksanakan di masjid rumahnya.” Para ulama penganut mazhab Hanafi membolehkan kaum perempuan beri’tikaf di ruangan khusus atau mushala di rumahnya. Mereka berpendapat bahwa tempat i’tikaf bagi perempuan adalah tempat yang mereka sukai dan tempat mereka melakukan salat lima waktu sehari-hari, karena tidak seperti laki-laki, lebih baik bagi kaum perempuan untuk salat dirumah dibandingkan di masjid. Berdasarkan pendapat itu, tempat i’tikaf perempuan selayaknya di sebuah ruangan khusus atau mushala di rumahnya sendiri. Abu Hanifah dan Ath-Thawri menyatakan, “Seorang perempun boleh melakukan i’tikaf di rumah. Itu lebih baik bagi mereka, karena salat mereka di rumah lebih baik daripada di masjid.”

Dalam hal ini guru besar bidang Tafsir Al-Quran dari Universitas Al-Azhar, Kairo, Prof. Dr ‘Abdul Fattah ‘Ashoor mengatakan, “I’tikaf bukan hanya disarankan bagi kaum lelaki muslim, tapi juga bagi para muslimah, karena istri-istri Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam juga beri’tikaf baik semasa Rasulullah masih hidup maupun setelah wafatnya”, ujarnya. Menanggapi perbedaan para ulama tentang tempat i’tikaf bagi wanita, dia berpendapat bahwa kaum perempuan boleh saja beri’tikaf di masjid sepanjang tidak mengambaikan hak-hak keluarganya, terutama suami dan anak-anaknya, serta tidak menimbulkan fitnah.

Sementara Dr Rajab Abu Mleeh, seorang pakar hukum Islam mengatakan, tidak ada salahnya bagi perempuan yang ingin beri’tikaf di masjid, karena masjid merupakan tempat terbaik untuk beribadah dan mengingat Allah ta’ala. Selain itu, tidak seperti rumah, masjid lebih memiliki atmosfir spiritual. Tapi bagi seorang ibu yang masih punya anak kecil, atau seorang perempuan yang suaminya tidak mengizinkan ia beri’tikaf di masjid, maka mereka boleh beri’tikaf di rumah. (dari beberapa sumber/Anton)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*