Ayo I’tikaf, Ramadhan Tinggal 10 Hari

Ayo I’tikaf, Ramadhan Tinggal 10 Hari

Ramadhan yang penuh kemuliaan sudah memasuki sepertiga bagian, dan sudah seharusnya semua semakin bersemangat untuk meningkatkan berbagai amalan ibadah di penghujung bulan suci ini. Jangan kendorkan semangat untuk meraih sebanyak mungkin kemulaian yang disediakan Allah di bulan mulai ini. Kita bisa mencontoh Rasulullah yang semakin bersemangat pada 10 hari terakhir Ramadhan sebagaimana hadist, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa ketika memasuki 10 Ramadhan terakhir, beliau bersungguh-sungguh dalam ibadah (dengan meninggalkan istri-istrinya), menghidupkan malam-malam tersebut dengan ibadah, dan membangunkan istri-istrinya untuk beribadah.”(Hr. Bukhari no. 2024 dan Muslim no. 1174).

Salah satu ibadah yang selalu dilakukan Rasulullah pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan adalah melakukan i’tikaf di masjid. Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam selalu melakukan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan sampai Allah mewafatkan beliau, kemudian para istri beliau melakukan i’tikaf sepeninggal beliau.” (HR. Bukhari no. 2026 dan Muslim no. 1172). Oleh karena itu sudah seharusnya kita juga meneladani Rasulullah dengan mengoptimalkan waktu yang masih tersisa di bulan suci ini untuk melakukan I’tikaf.

Secara syar’i, i’tikaf berarti menetap di masjid dengan tata cara yang khusus disertai dengan niat. Secara harfiyah, i’tikaf adalah tinggal di suatu tempat untuk melakukan sesuatu yang baik. Dengan demikian, i’tikaf adalah tinggal atau menetap di dalam masjid dengan niat beribadah guna mendekatkan diri kepada Allah Swt. Penggunaan kata i’tikaf di dalam Al-Qur’an terdapat pada firman Allah Swt: “Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf di dalam masjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat ayat-Nya kepada manusia supaya mereka bertaqwa.” (QS 2: 187).

Ibnul Mundzir mengatakan, “Para ulama sepakat bahwa i’tikaf itu sunnah, bukan wajib kecuali jika seseorang mewajibkan bagi dirinya bernadzar untuk melaksanakan i’tikaf.”  Dari Abu Hurairah, ia berkata,  “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa beri’tikaf pada bulan Ramadhan selama sepuluh hari. Namun pada tahun wafatnya, Beliau beri’tikaf selama dua puluh hari”.

I’tikaf merupakan sarana muhasabah dan kontemplasi yang efektif bagi kaum muslim dalam memelihara dan meningkatkan keimanan dan ketakwaan. Disunnahkan bagi orang yang beri’tikaf untuk memperbanyak ibadah dan taqarrub kepada Allah, seperti shalat sunnah, membaca Al-Qur’an, tasbih, tahmid, tahlil, takbir, istighfar, shalawat kepada Nabi Saw, doa dan sebagainya. Namun demikian yang menjadi prioritas utama adalah ibadah-ibadah mahdhah. Bahkan sebagian ulama seperti Imam Malik, meninggalkan segala aktivitas kesehariannya untuk melakukan ibadah i’tikaf. (Anton/Zainul Muslimin)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*