Meraih Kebahagiaan dengan Mencintai Allah

Meraih Kebahagiaan dengan Mencintai Allah

Mencintai Allah menjadi kewajiban bagi setiap muslim karena rasa cinta menjadi ukuran keimanan dan menjadi pembeda dengan orang kafir, sebagaimana firman Allah, “Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah. Mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat mencintai Allah. dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah Amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).” (Qs. Al Baqarah : 165)

Cinta kepada Allah akan mengantar ‘para pecintanya’ memperoleh kebahagiaan berupa manisnya iman sebagaimana dijanjikan Rasulullah, ”Tiga perkara jika itu ada pada seseorang maka ia akan merasakan manisnya iman; orang yang mana Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada selain keduanya, mencintai seseorang yang ia tidak mencintainya kecuali karena Allah, dan benci untuk kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkannya dari kekafiran tersebut sebagaimana ia benci untuk masuk neraka.” (Hr. Bukhrri dan Muslim)

Ibnu Katsir mengatakan bahwa kecintaan mereka (orang-orang beriman) kepada Allah merupakan bentuk kesempurnaan ma’rifat (pengenalan) mereka kepada-Nya. Kecintaan itu merupakan wujud pengesaan mereka kepada-Nya. Mereka tidak menyekutukan Allah Swt dengan sesuatu, akan tetapi mereka menyembah-Nya, bertawakal kepada-Nya serta mengembalikan segala permasalahan mereka kepada-Nya. Dengan demikian mereka yang mencintai Allah hanya akan bersandar pada Allah, mencintai sepenuh jiwa dan hati, dan sangat bergantung pada-Nya.

Ibnu Taymiyah menilai rasa cinta kepada Allah merupakan kebutuhan yang sangat besar bagi manusia melebihi kebutuhan hidup lainnya. Dia berkata,  “Di dalam hati manusia ada rasa cinta terhadap sesuatu yang ia sembah dan ia ibadahi, ini merupakan tonggak untuk tegak dan kokohnya hati seseorang serta baiknya jiwa mereka.” Sementara Syaikh Abdurrahman bin Nashir Al-Sa’dy menyatakan, “Pokok tauhid dan intisarinya ialah ikhlas dan cinta kepada Allah semata. Dan itu merupakan pokok dalam peng-ilah-an dan penyembahan bahkan merupakan hakikat ibadah. Tidak akan sempurna tauhid seseorang kecuali dengan menyempurnakan kecintaan kepada Rabb-nya dan menyerahkan seluruh unsur-unsur kecintaan kepada-Nya, sehingga ia berhukum hanya kepada Allah dengan menjadikan kecintaan kepada hamba mengikuti kecintaan kepada Allah yang dengannya seorang hamba akan mendapatkan kebahagiaan dan ketenteraman.

Namun harus diakui tidak mudah bagi kaum beriman untuk dapat mewujudkan cinta kepada Allah dengan sepenuh hati dan jiwa. Banyak godaan dan ujian yang sewaktu-waktu bisa memalingkan cinta sejati kepada Allah. Apalagi pada dasarnya manusia sebenarnya memiliki kecenderungan untuk lebih mencintai dunianya, sebagaimana Allah berfirman, “Dihiasi bagi manusia cinta kepada hawa nafsunya dari pada wanita anak-anak kumpulan emas dan perak kuda berwarna peternakan pertanian itulah isi dari kehidupan dunia dan Allah memiliki tempat kembali yang labih baik.”  (Qs. Ali Imran: 14). Allah juga sudah memberi peringatan akan memberi hukuman bagi kaum yang ‘menduakan’ cintanya pada Allah. “Katakan apabila bapak-bapakmu anak-anakmu saudara-saudaramu istri-istrimu keluarga besarmu harta yang kamu cari perdagangan yang kamu khawatir kebangkrutannya dan rumah tinggal yang disenanginya lebih kamu cintai dari pada Allah Rasul-Nya dan berjuang di jalan-Nya maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” (Qs. At-Taubah: 24)

Untuk itu cinta kepada Allah harus diwujudkan dengan kesungguhan melalui komitmen menanggalkan semua cinta pada selain Allah. Tidak ada satupun yang layak menjadi tambatan cinta selain hanya Allah semata. Cinta kepada Allah itu juga menjadi ekspresi dari ketauhidan yang lurus serta dengan sadar menjadi bekal menuju kehidupan abadi di akherat kelak. Imam Bukhori meriwayatkan dari Anas bahwa seorang laki-laki dari penduduk kampung datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata; “Wahai Rasulullah, kapankah hari Kiamat akan terjadi?” beliau menjawab: “Celaka kamu, apa yang telah kau persiapkan?” laki-laki itu berkata; “Aku belum mempersiapkan bekal kecuali aku hanya mencintai Allah dan Rasul-Nya.” Beliau bersabda: “Kalau begitu, kamu bersama dengan orang yang kamu cintai.”

Mari kita tambatkan cinta kita hanya kepada Allah dan Rasul-Nya dengan sepenuh cinta. Kemuliaan dan kebahagiaan abadi akan menanti. (Anton)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*