Wahai Para Pemimpin, Belajarlah pada Khalifah Umar bin Abdul Aziz

Wahai Para Pemimpin, Belajarlah pada Khalifah Umar bin Abdul Aziz

Umar bin Abdul Aziz adalah sosok pemimpin dambaan umat. Sifatnya yang adil, jujur, sederhana, dan bijaksana, membuat dia dicintai rakyatnya. Tidak salah bila sejarah Islam menempatkannya sebagai ”khalifah kelima” yang bergelar “Amirul Mukminin”, setelah Khulafaar Rasyidin.

Ketika  Umar diangkat menjadi khalifah dia mengatakan, “Wahai manusia sekalian, barang siapa yang taat kepada Allah sungguh ketaatannya sudah bagus, dan barang siapa yang bermaksiat kepada Allah maka janganlah mentaatinya. Ikutilah saya selagi saya taat kepada Allah. Apabila saya bermaksiat kepada Allah, maka janganlah kalian mentaatiku!”

Dikisahkan, semasa Umar menjabat sebagai khalifah, walaupun hanya 2,5 tahun, rakyat menjadi makmur dan negara menjadi benar-benar kaya. Tidak satu pun makhluk di negerinya menderita kelaparan. Tidak ada pengemis di sudut-sudut kota, tidak ada penerima zakat karena setiap orang mampu membayar zakat. Penjara tidak ada penghuninya karena kosong. Apa yang dilakukan Umar bin Abdul Aziz sehingga terjadi perubahan besar dalam kehidupan rakyat?

Pertama, dia memulai dari diri sendiri, keluarga, dan istana. Umar rela beserta seluruh keluarganya hidup sederhana dan menyerahkan harta kekayaannya ke Baitul mal (kas negara) begitu selesai dilantik, termasuk pakaiannya yang mewah seharga 800 dirham, yang menjadi simbol kemewahan hidup sebelumnya. Berbagai fasilitas negara ditolaknya. Ia memilih tinggal di rumahnya dan menolak hidup di istana. Kehidupannya berubah drastis, dari seorang cinta kemapanan dunia, menjadi orang yang zuhud terhadap dunia.

Kepada istrinya, Fatimah binti Abdul Malik, dia memberikan pilihan, “Kembalikan seluruh perhiasan dan harta pribadimu ke kas negara, atau kita cerai.” Istrinya menjawab,   “Demi Allah, aku tidak memilih pendamping lebih mulia dari padamu, ya Amirul Mukminin. Inilah emas permata dan seluruh perhiasanku.”Kemudian Khalifah Umar bin Abdul Aziz menerima semua perhiasan itu dan menyerahkannya ke Baitul mal.
Ketika anak-anaknya menanyakan, mengapa kita tidak lagi menikmati kemewahan sebagaimana kita menikmatinya sebelumnya? Umar justru menangis dan berkata kepada anak-anaknya, “Saya beri kalian makanan yang lezat dan enak tapi kalian rela memasukkan saya ke neraka, atau kalian bersabar dengan makanan sederhana ini dan kita masuk surga bersama?”

Setelah berhasil mengajak keluarganya, Umar melangkah keluar istana. Ia memerintahkan menjual seluruh barang mewah yang ada di istana dan mencabut seluruh fasilitas kemewahan yang ada pada keluarga istana, serta mengembalikannya ke kas negara. Sebagian mereka protes terhadap kebijakan tersebut. Hingga suatu saat mereka memberanikan diri untuk mengutus bibinya agar dapat bersikap lembut mencabut kebijakannya.

Umar yang tahu maksud kedatangan bibinya, mengambil uang logam lalu dipanaskan dalam bara api. Setelah itu dia meletakan sekerat daging di atas uang logam yang telah memerah. Kemudian Umar berkata kepada bibinya,  “Apakah bibi rela menyaksikan saya dibakar di neraka seperti daging ini hanya untuk memenuhi kesenangan kalian? Berhentilah merayu saya, sebab saya tidak akan pernah mundur dari jalan pembaharuan ini.”

Wahai para pemimpin dan penguasa, belajarlah pada Umar bin Abdul Aziz agar negeri dan rakyat makmur, dan engkau selamat dunia dan akherat. (disadur dari Nurhadi/Anton)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*