Hikmah di Balik Larangan Marah

Hikmah di Balik Larangan Marah

Meskipun marah merupakan sifat manusiawi namun menahan amarah merupakan sifat terbaik. Allah memasukkan orang-orang yang mampu menahan amarah ke dalam golongan orang bertakwa, sebagaimana firmannya, “…dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan” [QS. Ali ‘Imrân: 134].

Sementara berkaitan tentang pentingnya menjaga diri dari amarah, ada sebuah hadist diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Berilah aku wasiat.” Beliau menjawab, “Engkau jangan marah!” Orang itu mengulangi permintaannya berulang-ulang, kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Engkau jangan marah!” [HR al-Bukhâri].

Namun di balik perintah untuk menahan diri dari marah, ternyata ada hikmah yang terkait dengan kesehatan jantung. Para peneliti Amerika menemukan bukti bahwa kemarahan dan emosi tinggi lainnya dapat mengacaukan irama jantung, yang bisa mengakibatkan kematian mendadak. Hal tersebut disebabkan fungsi jantung  untuk memompa darah terganggu sehingga sirkulasi darah tidak berjalan normal. Dr Rachel Lampert dari Yale University di New Heaven, Connecticut (AS) menyatakan, kemarahan dapat memicu ketidakstabilan elektrik jantung, yang membuat fungsi jantung tidak optimal.

Penelitian lain menunjukkan, emosi yang tidak terkendali akan merusak fungsi beberapa organ, mudah terserang penyakit, dan menderita ketegangan otot atau kekacauan metabolisme. Selain  itu, bisa menghentikan proses pencernaan, meningkatkan denyut jantung dan menjadikan napas terengah-engah. Akibat berikutnya, denyut jantung bertambah cepat dan tekanan darah meninggi. Kalau keadaan ini sering terjadi, hipertensi, serangan jantung, dan penyakit lain akan mudah datang

Dr. Ernest H. seorang pakar dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Michigan, Amerika Serikat menyatakan, seseorang yang mudah marah, yang selalu mengungkapkan kemarahannya dengan meledak-ledak,  banyak yang menderita penyakit hipertensi. Yang lebih konkret lagi, hasil penelitian yang dipimpin Dr. Ichiro Kawachi  juga menunjukkan pria yang skor marahnya 5 – 14 berisiko tiga kali lipat terkena penyakit jantung dibandingkan dengan pria dengan skor 0 atau 1. Pria yang marahnya meledak-ledak risikonya lebih tinggi lagi.

Yoichi Chida, MD, Ph.D dari Departemen Epidemiologi dan kesehatan masyarakat, University College, London mengemukakan bahwa marah dan sikap permusuhan dapat meningkatkan risiko terkena penyakit jantung koroner sebesar 19% pada orang sehat. Pada mereka yang sudah punya riwayat penyakit jantung sebelumnya, peningkatan ini mencapai 24%. Steven Boyle, Ph.D dari Duke University Medical Center menyimpulkan, adanya perubahan jumlah protein dalam sistem C3 dan C4, yang merupakan indikator gejala sejumlah penyakit, seperti gangguan arteri hati. Pada pria yang mempunyai sifat mudah marah akan  mengalami peningkatan kadar C3 sampai 7.1%. Artinya, kecenderungan terserang berbagai penyakit semakin besar. Lalu mengapa kita harus marah?   (Anton/Zainul Muslimin.)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*