Wahai Jiwa yang Tenang, Masuklah ke dalam Surga-Ku

Wahai Jiwa yang Tenang, Masuklah ke dalam Surga-Ku

Kita harus meyakini bahwa hidup di dunia ini hakekatnya adalah merantau, tidak ada sesuatu yang abadi di dalamnya. Karena kita sedang merantau, maka mau tak mau suatu saat kita akan pulang. Tempat yang permanen sudah disiapkan Allah Swt di akhirat sana. Karena pulang adalah suatu kepastian, maka kita harus merindukan pulang dengan jalan yang indah sebagaimana panggilan yang indah dari sang pencipta. Allah SWT berfirman dalam QS Al-fajr 28-30,  “Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan di-ridhai-Nya, Maka masuklah ke dalam jemaah hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku“.

Dalam ayat di atas, Allah SWT memanggil dengan panggilan yang sangat indah kepada jiwa yang tenang (nafsu mutmainnah). Orang yang pulang merasa senang, begitupun Allah merasa senang menerimanya.  Setelah menyambut dengan keridhoan, Allah SWT mempersilahkan jiwa yang tenang itu masuk ke dalam golongan hamba-Nya yakni para anbiya, syuhada, dan sholihin. Allah selanjutnya mempersilahkan masuk ke dalam surga yang abadi selama-lamanya.

Apa maksud kata jiwa yang tenang? Ada yang memberi tafsir bahwa kata itu digunakan untuk menunjuk ketenangan jiwa karena membenarkan apa yang dalam al-Quran tanpa ada keraguan dan kebimbangan. Oleh karena itu, penyebutan tersebut merupakan pujian atas jiwa tersebut. Bisa pula, ketenangan jiwa tersebut tanpa takut dan fitnah di akhirat. Menurut Ibnu Abbas, dia adalah al-muthmainnah bi tsawâbil-Lâh (jiwa yang tenteram dengan pahala Allah); juga bermakna jiwa yang mukmin. Sementara Al-Hasan menafsirkannya sebagai al-mu’minah al-mûqînah (jiwa yang mukmin dan yakin). Athiyah berpendapat, ia adalah jiwa yang ridha terhadap qadha Allah.

Dikemukakan al-Khazin, yang dimaksud dengannya adalah jiwa yang teguh di atas iman dan keyakinan, membenarkan apa yang difirmankan Allah SWT, meyakini Allah SWT sebagai Tuhannya, serta tunduk dan taat terhadap perintah-Nya. Ibnu Jarir ath-Thabari memaknainya sebagai orang yang tenteram dengan janji Allah SWT yang disampaikan kepada ahli iman di dunia berupa kemuliaan bagi dirinya di akhirat, kemudian dia membenarkan janji itu.  Abu Hayyan al-Andalusi menyatakan, al-muthmainah adalah al-âminah (orang yang aman dan tenteram) tidak diliputi oleh ketakutan dan kekhawatiran; atau tenteram dengan kebenaran dan tidak dicampuri dengan keraguan.

Sungguh beruntunglah orang yang memiliki jiwa yang tenang, ia akan memperoleh tiga kenikmatan besar tatkala pulang memenuhi pangggilan-Nya, disambut dengan keridhoan Allah, dimasukkan ke dalam golangan-golongan hebat (hamba-Ku), dan terakhir masuk surga. Apalagi yang kita impikan dalam hidup kita ini, kalau bukan ketiga hal itu? (Muslimah/sumber lain/Anton)

[/vsrp]

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*