Pengembalian Berlipat Bila Memberi Pinjaman Kepada Allah

Pengembalian Berlipat Bila Memberi Pinjaman Kepada Allah

“Dan berperanglah kamu sekalian di jalan Allah, dan ketahuilah sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rizki), dan kepadaNyalah kamu dikembalikan.” (Qs.Al-Baqarah : 244-245).

Allah telah menggabungkan antara perintah berperang di jalan-Nya dengan perintah untuk menafkahkan harta dan anggota badan (jiwa). Hal ini menunjukkan demikian mulianya seseorang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah.  Allah juga menganjurkan untuk ikhlas dalam melakukan kedua perintah tersebut, karena Allah akan melipatgandakan pahala bagi mereka yang iklas dan melakukannya hanya untuk mendapatkan ridho Allah.

Perhatikanlah anjuran yang lembut untuk memberi nafkah di jalan Allah. Allah yang Maha Kaya lagi Maha Mulia telah berjanji akan memberi ‘ganti’ pinjaman yang diberikan dengan berlipat ganda. Allah juga berfirman,  “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karuniaNya) lagi Maha Mengetahui.” (Qs. Al-Baqarah; 261)

Dari ayat tersebut kita bisa memahami, ketika penghalang terbesar untuk berinfak adalah takut miskin, Allah  menjelaskan bahwa kekayaan dan kemiskinan itu berada di tangan Allah, dan bahwa Dia menahan rezeki dari siapa yang dikehendaki-Nya dan memberikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Orang yang hendak berinfak jangan pernah takut akan miskin dan jangan pernah berfikir bahwa hartanya itu hilang begitu saja.  Orang-orang yang berinfak dan beramal akan mendapatkan pahala yang berlipat-lipat.

Maksud dari pinjaman yang baik adalah perkara yang menyatukan segala sifat dan ciri kebajikan dari niat yang shalih, kelapangan dada dalam berinfak dan tepat sasarannya dan orang yang berinfak itu tidak mengiringinya dengan mengungkit-ungkitnya dan tidak pula perkataan yang menyakitkan, tidak membatalkannya dan tidak pula menguranginya. Ikhlas karena Allah Ta’ala, maka jika dilakukan dengan riya’, sum’ah maka pinjaman tersebut bukan pinjaman yang baik, sebagaimana disebutkan dalam hadits Qudsi, “Barang siapa yang melakukan suatu amalan yang ia menyekutukan di dalam amal tersebut bersama-Ku dengan selain Aku, maka Aku tinggalkan ia beserta sekutunya..” (Muslim,dan Ibnu Majah).

Bahwa karunia Allah Ta’ala dan pemberianNya adalah sangatlah luas, dan balasan bagi orang yang berbuat kebaikan adalah balasan yang berupa karunia kebaikan dariNya; sebagaimana firmanNya, “maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak.” Disamping bahwa taufiq Allah Ta’ala bagi seseorang untuk beramal shalih adalah merupakan karunia dariNya, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada orang-orang faqir dari kalangan anshor ketika mereka menyebutkan keutamaan orang-orang kaya dalam bersedekah dan memerdekakan budak, “Demikian itulah karunia Allah yang diberikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki… ” (Muslim, no. 1347); maka dengan demikian bahwa bagi seorang hamba yang diberikan taufiq untuk beramal dengan amal yang shalih maka baginya mendapat dua karunia: karunia yang datang terlebih dahulu yaitu diberikannya taufiq untuk melakukan amal shalih, dan karunia yang kedua yang datang mengikutinya yaitu berupa pahala atasnya dengan berlipat ganda. (Abu Thalhah Andri Abdul Halim/ton)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*