Jangan Katakan “Andaikata” atau “Seandainya”

Jangan Katakan “Andaikata” atau “Seandainya”

Sering kita mendengar dari pembicaraan, ”Seandainya tidak ada saya pasti kamu sudah begini dan begitu…,” atau, “Andaikata dulu saya begini pasti saya..” Banyak di antara kaum muslimin yang tidak menyadari bahkan mungkin tidak tahu bahwa perkataan tersebut dilarang dalam ajaran Islam. Larangan mengucapkan “andaikata” maupun “seandainya” telah termaktub di Al qur’an dan Hadits.

Allah telah berfirman, “Mereka (orang-orang munafik) mengatakan: Seandainya kita memiliki sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya (kita tak akan terkalahkan) dan tidak ada yang terbunuh di antara kita di sini (perang uhud). Katakanlah: ‘Kalaupun kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh. Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji (keimanan) yang ada dalam dadamu, dan membuktikan (niat) yang ada dalam hatimu. Dan Allah Maha Mengetahui isi segala hati.” (QS. Ali Imran, 154). Di ayat yang lain Allah berfirman, “Orang-orang yang mengatakan kepada saudara-saudaranya dan mereka takut pergi berperang: seandainya mereka mengikuti kita tentulah mereka sudah terbunuh. Katakanlah: Tolaklah kematian itu dari dirimu, jika kamu orang-orang yang benar.” (QS. Ali Imran, 168).

Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda, “Bersungguh-sungguhlah dalam mencari apa yang bermanfaat bagimu, dan mohonlah pertolongan kepada Allah (dalam segala urusanmu), dan janganlah sekali-kali kamu bersikap lemah, dan jika kamu tertimpa suatu kegagalan, maka janganlah kamu mengatakan : “seandainya aku berbuat demikian, tentu tidak akan begini atau begitu’“, tetapi katakanlah : “ini telah ditentukan oleh Allah, dan Allah akan melakukan apa yang Ia kehendaki”, karena kata “seandainya” itu akan membuka pintu perbuatan syetan.” (Hr. Muslim)

Rasulullah telah memberi petunjuk ketika menjumpai suatu kegagalan atau mendapat suatu musibah supaya mengucapkan ucapan ucapan yang baik, dan bersabar serta mengimani bahwa apa yang terjadi adalah takdir Allah. Selain itu, diperintahkan untuk bersungguh-sungguh dalam mencari segala yang bermanfaat untuk di dunia dan di akhirat dengan senantiasa memohon pertolongan Allah.

Larangan untuk mengucapkan kata “seandainya” atau “andaikata” dalam hal-hal yang telah ditakdirkan oleh Allah karena hal itu menjadi sifat-sifat orang munafik. Hal itu juga menunjukkan bahwa konsekwensi iman adalah pasrah dan ridho kepada takdir Allah, serta rasa khawatir seseorang tidak akan dapat menyelamatkan dirinya dari takdir tersebut. (disarikan dari tulisan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At Tamimi/Anton)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*