Kisah Si Buta Shalat Jamaah di Masjid

Kisah Si Buta Shalat Jamaah di Masjid

Diriwayatkan ada seorang buta pernah menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, saya tidak memiliki seseorang yang akan menuntunku ke masjid.” Lalu dia meminta keringanan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk shalat di rumah, maka beliaupun memberikan keringanan kepadanya. Ketika orang itu beranjak pulang, beliau kembali bertanya, “Apakah engkau mendengar panggilan shalat (azan)?” Laki-laki itu menjawab, “Ia.” Beliau bersabda, “Penuhilah seruan tersebut (hadiri jamaah shalat).” (Hr. Muslim no. 653).

Hadist ini mengisahkan Abdullah Ibnu Ummi Maktum, sahabat Rasulullah yang tidak pernah menyerah dan putus asa untuk berjuang menunaikan ibadah shalat di masjid. Meskipun kedua matanya buta sejak kanak-kanak, dia selalu berusaha pergi ke masjid untuk shalat berjamaah. Ujian keterbatasan penglihatan tidak mengurangi semangat dan kekuatan imannya yang dia wujudkan dalam menunaikan ibadah shalat berjamaah di masjid.

Setiap menjelang waktu fajar, dia keluar rumah dan bergegas ke masjid. Tak ada yang mampu menghalanginya. Dia akan bertopang pada tongkat atau bersandar pada lengan salah seorang muslim. Bahkan, bila cara terakhir yang bisa dilakukannya untuk sampai ke masjid adalah dengan merangkak, Ibnu Ummi Maktum tak akan ragu melakukannya. Pernah pula suatu kali di tengah jalan kakinya tersandung batu hingga akhirnya mengeluarkan darah. Tetapi, tekadnya bulat. Dia tetap melaksanakan shalat berjamaah pergi ke masjid tanpa memedulikan luka di kakinya.

Ibnu Ummi Maktum terkenal peka dengan waktu. Dia bisa mengetahui waktu shalat dengan tepat. Atas keistimewaan itu, dia dipercaya untuk mengumandangkan azan bila Bilal Ibnu Rabah berhalangan. Bahkan, saat Nabi Muhammad dan rombongannya hijrah ke Madinah, Ibnu Ummi Maktum bertanggungjawab atas hal yang sama di Makkah untuk memastikan kaum Quraisy tegak telinganya mendengarkan perintah shalat.

Sungguh mulia Abdullah Ibnu Ummi Maktum yang tidak surut dan goyah keimanan dan ibadahnya meskipun diberi ujian buta. Bagaimana dengan kita? (Anton)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*