Bekerja, Jalan Bertemu dengan Allah

Bekerja, Jalan Bertemu dengan Allah

Bekerja merupakan jalan mulia untuk meraih kebahagiaan di dunia dan akherat. Banyak ayat Al-Quran yang berbicara tentang aktivitas manusia dalam memenuhi hajat hidup yang kemudian disebut bekerja. Perhatian Al-Quran yang demikian besar menunjukkan bahwa bekerja merupakan persoalan penting dan mulia dalam pandangan Islam. Di antara ayat-ayat Al-Quran yang mengangkat tema bekerja antara lain, “Dan Aku (Allah) jadikan siang hari itu sebagai kesempatan untuk mencari penghidupan” (Qs. An Naba: 11), “Dan Aku (Allah) telah menyiapkan bagi kalian kehidupan di dalamnya, tetapi sedikit sekali kalian yang bersyukur” (Qs. Al A`raf: 10), “Tidak dosa bagi kalian jika berusaha untuk menggapai karunia Tuhan kalian” (Qs. Al-Baqarah: 198), “Maka apabila telah dilaksanakan shalat, bertebaranlah kamu di muka bum; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung”. (Q.S. Al-Jumu’ah: 10).

Rasullulah juga telah memberi teladan agar umatnya menjadi pekerja yang produktif karena hal itu merupakan jalan untuk berjumpa dengan Allah. Rasulullah telah bersabda, “Siapa saja yang mencari dunia secara halal untuk menjaga diri dari meminta-minta, menghidupi keluarga dan menyantuni tetangga, maka kelak akan berjumpa dengan Allah dengan penampilan wajahnya cemerlang laksana bulan purnama” (Hr. Abu Syaikh, Abu Nuaim dan Al-Baihaki). Di hadist yang lain Rasul menyatakan, “Sesungguhnya Allah itu cinta kepada orang beriman yang bekerja” (Hr. At-Tabrani).

Oleh karena itu, bagi seorang muslim bekerja bukan semata-mata memenuhi kepentingan duniawi, melainkan terkait dengan kehidupan akhirat karena merupakan jalan perjumpaan dengan Allah. Orientasi akhirat adalah sesuatu yang diarahkan pada pertanggungjawaban kerja yang dilakukan di dunia ini untuk meraih ridho Allah. Atas dasar itu, kerja dalam Islam menjadi tidak bebas nilai (free value), tetapi sarat nilai. Bekerja dalam Islam selalu harus memperhatikan rambu-rambu yang ditentukan Allah dan Rasul-Nya. Ada yang halal, ada yang haram. Bekerja yang dilakukan sesuai tuntunan akan bernilai ibadah dengan buah kemuliaan, pahala, dan rezeki yang diperoleh penuh dengan berkah. Sebaliknya bila aktivitas bekerja dilakukan dengan mengingkari tuntunan, misalnya malas, korupsi, curang dalam berdagang, dan lainnya maka akan menjadi jalan menuju kehinaan yang berujung dosa.

Dalam sebuah hadist Rasulullah bersabda, “…Sesungguhnya tidak ada satupun makhluk hidup yang mati sebelum seluruh jatah rizekinya diterima, walau terlambat. Oleh karena itu perbaikilah dalam mencarinya. Janganlah keterlambatan datangnya rizeki itu mendorongmu untuk menggapainya dengan cara durhaka kepada Allah, karena apa yang ada di tangan Allah tidak akan bisa digapai dengan durhaka kepada-Nya.” (Hr. Abi Dunya, Al-Hakim dan Ahmad). Hadist ini dengan tegas memberi tuntunan agar umat Islam selalu menghindari jalan durhaka pada Allah dalam bekerja. Allah telah tetapkan jatah rejeki masing-masing hambanya sehingga tidak perlu mencari rejeki dengan serakah melalui jalan yang salah.

Dalam Al Qur’an juga telah ditunjukkan agar umat beriman memperhatikan keseimbangan dalam meraih kebahagiaan dunia dan akherat. Allah berfirman, “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Qs. al-Qashash:77) Dalam ayat tersebut ditegaskan selain memperhatikan hubungan baik dengan manusia lain, kita juga diharuskan memperhatikan aspek lingkungan. Artinya, jangan sampai aktivitas bekerja yang dilakukan justru berbuah kerusakan dan kehancuran.

Dengan demikian, kalau bekerja dipahami sebagai jalan untuk berjumpa dengan Allah maka aktivitas bekerja juga harus selalu mengikuti panduan Allah dan Rasul-Nya. Sungguh mulia orang-orang yang bekerja karea ingin berjumpa dengan Allah. (Anton/Zainul Muslimin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*