Bagaimana Rasulullah Bercanda?

Bagaimana Rasulullah Bercanda?

Sebagai manusia, kadang kala Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bercanda. Beliau sering mengajak istri dan para sahabatnya bercanda dan bersenda gurau, untuk mengambil hati dan membuat mereka gembira. Namun canda beliau tidak berlebih-lebihan, tetap ada batasannya. Bila tertawa, beliau tidak melampaui batas tetapi hanya tersenyum. Begitu pula, meski dalam keadaan bercanda, beliau tidak berkata kecuali yang benar.

Dituturkan ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha, “Aku belum pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa terbahak-bahak hingga kelihatan lidahnya, namun beliau hanya tersenyum.” (Hr. Bukhari, Muslim). Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu menceritakan, para sahabat bertanya kepada Rasulullah Shalla`llahu ‘alaihi wa sallam : “Wahai, Rasulullah! Apakah engkau juga bersenda gurau bersama kami?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: Betul, hanya saja aku selalu berkata benar. (Hr. Ahmad). Berikut ini beberapa contoh canda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

1. Anas Radhiyallahu ‘anhu menceritakan salah satu bentuk canda Rasulullah. Dia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memanggilnya dengan sebutan, “Wahai, pemilik dua telinga!” (Hr. Ahmad, Abu Dawud)

2. Anas Radhiyallahu ‘anhu mengisahkan, Ummu Sulaim Radhiyallahu ‘anha memiliki seorang putera yang bernama Abu ‘Umair. Rasulullah sering bercanda dengannya setiap kali beliau datang. Pada suatu hari beliau datang mengunjunginya untuk bercanda, namun tampaknya anak itu sedang sedih. Mereka berkata: “Wahai, Rasulullah! Burung yang biasa diajaknya bermain sudah mati,” lantas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bercanda dengannya, beliau berkata, “Wahai Abu ‘Umair, apakah gerangan yang sedang dikerjakan oleh burung kecil itu?” (Hr. Abu Dawud)

3. Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu bercerita, ada seorang pria dusun bernama Zahir bin Haram. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menyukainya. Hanya saja tampang pria ini jelek. Pada suatu hari, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menemuinya ketika ia sedang menjual barang dagangan. Tiba-tiba Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memeluknya dari belakang, sehingga ia tidak dapat melihat beliau. Zahir bin Haram pun berseru: “Lepaskan aku! Siapakah ini?”
Setelah menoleh iapun mengetahui, ternyata yang memeluknya ialah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka iapun tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk merapatkan punggungnya ke dada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata: “Siapakah yang sudi membeli hamba sahaya ini?” Dia menyahut,”Demi Allah, wahai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika demikian aku tidak akan laku dijual!” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membalas, “Justru di sisi Allah engkau sangat mahal harganya!” (Hr. Ahmad)

4. Diriwayatkan dari Anas Radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya seorang laki-laki datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, bawalah aku?” Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Kami akan membawamu di atas anak onta.” Laki-laki itu berkata, “Apa yang bisa aku lakukan dengan anak onta?” Maka beliau berkata, “Bukankah onta yang melahirkan anak onta?” (Hr. Abu dawud, Tirmidzi)

5. Rasulullah juga sering kali bercanda dan menggoda Aisyah Radhiyallahu ‘anha. Suatu kali beliau berkata kepadanya, “Aku tahu kapan engkau suka kepadaku dan kapan engkau marah kepadaku.” Aku (‘Aisyah) menyahut, “Dari mana engkau tahu?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Kalau engkau suka kepadaku engkau akan mengatakan, ‘Tidak, demi Rabb Muhammad,’ dan kalau engkau marah kepadaku engkau akan mengatakan, “Tidak, demi Rabb Ibrahim”. Aku (‘Aisyah) menjawab, “Benar, demi Allah! Tidaklah aku menghindari melainkan namamu saja.” (Muttafaqun ‘Alaihi)

6. Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu menceritakan: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menjulurkan lidahnya bercanda dengan al-Hasan bin Ali Radhiyallahu ‘anhu. Ia pun melihat merah lidah beliau, lalu ia segera menghambur menuju beliau dengan riang gembira.” (disarikan dari Abu Ihsan al-Atsari/Abu Rafif )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*