Kepada Siapa Cinta Harus Dilabuhkan?

Kepada Siapa Cinta Harus Dilabuhkan?

Cinta adalah karunia yang diberikan Allah kepada umat manusia. Dengan rasa cinta seorang manusia kadang dapat melakukan suatu hal yang di luar batas kemampuannya. Kekuatan cinta dapat mendorong perubahan sikap seseorang dalam menjalani kehidupannya. Lalu, sebagai seorang muslim yang beriman harus kemanakah rasa cinta ini kita labuhkan? “Ada tiga perkara yang jika seseorang memilikinya akan merasakan manisnya iman, yaitu bila Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya, dan tidak mencintai seseorang kecuali karena Allah serta benci kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkan daripadanya, sebagaimana ia benci untuk dilemparkan ke neraka.” (Muttafaq’alaih).

Maka yang pertama wajib dicintai adalah Allah, Rabb yang telah menciptakan seluruh alam semesta dengan berbagai nikmat. Kecintaan seorang mukmin kepada Allah melebihi cintanya kepada selain-Nya. Selanjutnya, kecintaan kepada Rasul-Nya, Muhammad Saw. Kecintaan kepada Rasul memiliki kedudukan kedua di hati setiap mukmin setelah mencintai Allah. Beliau adalah hamba Allah, Rasulya dan manusia pilihan Allah dari segenap makhluk-Nya. Rasullulah Saw. yang telah menyeru kepada Allah, menyampaikan syariat-Nya, dan mengajak manusia menuju kebahagiaan yang kekal.

Rasulullah telah menyampaikan pentingnya kecintaan kepadanya melebihi cintanya kepada selain Allah: “Tidaklah sempurna iman dari salah seorang dari kalian sampai aku lebih dicintai daripada anaknya, orang tuanya dan segenap manusia.” (Muttafaq’alaih). Umar bin al-Khathab ra. pernah berkata, “Wahai Rasullullah, sungguh engkau adalah orang yang lebih aku cintai dari segala sesuatu kecuali dari diriku sendiri.” Maka Nabi bersaba, “Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya, tidaklah sempurna iman salah seorang diantara kalian sehingga aku lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri.” Lalu Umar berkata kepada Nabi, “Sesungguhnya engkau (wahai Rasulullah), kini menjadi orang yang lebih aku cintai dari pada diriku sendiri.” Maka Nabi bersabda, “Sekarang (telah benar engkau) wahai Umar”. (HR.Bukhari)

Mengapa kita sebagai seorang mukmin harus mencintai Rasul melebihi manusia lainnya? Mencintai Rasulullah adalah mengikuti sekaligus keharusan dalam mencintai Allah. Mencintai Rasul, adalah cinta karena Allah. Kita mencintai Rasul karena kita mencintai Allah. Ia bertambah seiring dengan bertambahnya kecintaan seorang mukmin kepada Allah. “Barangsiapa menaati Rasul maka sesungguhnya ia telah mantaati Allah.” (Qs. An-Nisa’:80) Kita wajib mentaati Nabi Saw. dengan menjalankan apa yang diperintahkan dan meninggalkan apa yang dilarangnya. Allah telah menjamin apa yang diucapkannya adalah murni wahyu dari Allah Swt. sebagaimana firmannya, “Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang di wahyukan (kepadanya).” (Qs. An-Najm; 3-4)

Dengan demikian, sudahkah kita mencintai Allah dan Rasul-nya melebihi cinta kepada yang lainnya? Melebihi cinta kita pada diri sendiri, anak, pasangan, harta, bahkan dunia kita? Apakah kita sudah mengutamakan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya, serta melaksanakan sunnahnya? (businesslife/Zainul Muslimin/anton)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*