Membongkar Kesombongan Iblis

Membongkar Kesombongan Iblis

Gembong kesesatan yang pertama adalah iblis. Dia berasal dari bangsa jin yang telah diciptakan Allah sebelum manusia. Bersama para malaikat, dia ikut menyaksikan penciptaan manusia pertama, yaitu Nabi Adam as. Ketika Allah memerintahkan mereka bersujud kepada Nabi Adam as, hanya iblis-lah yang menolak. Al-Qur’an mengabadikan kecongkakan iblis di hadapan Allah Swt, Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Iblis menjawab, “Aku lebih baik daripadanya. Engkau ciptakan aku dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.” (Q.S. Al-A’raaf: 12)

Kesombongan iblis bukan hanya menunjukkan kecongkaannya tetapi juga menunjukkan kepada kita bahwa sombong itu tidak ada batasnya. Iblis bukan hanya merasa lebih hebat daripada Nabi Adam as, tapi juga merasa lebih tahu daripada Allah. Iblis mencoba berargumen dengan Allah, mengatakan bahwa dirinya lebih baik karena diciptakan dari api, sedangkan manusia diciptakan dari tanah. Seolah-olah masih ada hal yang tidak diketahui oleh Allah SWT, dan baru diketahui ketika iblis mengatakannya.

Kita tidak tahu persis apa yang terjadi dalam alam pikiran iblis ketika ia menolak perintah Allah SWT tersebut. Yang jelas, iblis benar-benar bersikap sombong, persis sesuai definisi yang telah diberikan oleh Rasulullah Saw, Dari ‘Abdullah bin Mas’ud, dari Nabi Saw, beliau bersabda, “Tidak akan masuk surga, orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi dari kesombongan.” Seorang laki-laki bertanya, “Sesungguhnya laki-laki menyukai apabila baju dan sandalnya bagus (apakah ini termasuk kesombongan)?” Beliau menjawab: “Sesungguhnya Allah itu bagus dan menyukai yang bagus. Kesombongan itu menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (H.R. Muslim)

Iblis telah benar-benar sombong karena menolak kebenaran (yaitu menolak perintah dari Allah, Al-Haqq) dan meremehkan Nabi Adam as. Kesombongan ini bertambah berat nilainya karena dia pertunjukkan secara demonstratif di hadapan Allah Swt. Karena kedengkiannya itu, iblis kemudian memutar otak untuk menggelincirkan Nabi Adam as. dan istrinya dari surga. Maka setan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka, yaitu auratnya, dan setan berkata: “Tuhan kamu tidak melarangmu mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga).” (Q.S. Al-A’raaf: 20)

Andaikan yang haq dan yang bathil dinampakkan secara terang-benderang di depan mata manusia barangkali tidak ada manusia, termasuk nabi Adam yang tersesat. Akan tetapi justru batasan di antara keduanya itulah yang seringkali dikaburkan. Simaklah ultimatum Iblis di hadapan Allah SWT setelah permohonan panjang umurnya dikabulkan, Iblis berkata: “Ya Tuhanku, karena Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas di antara mereka.” (Q.S. Al-Hijr: 39-40)

Benarlah peringatan Allah Swt melalui Rasul-Nya agar setiap manusia menjauh dari kesombongan, karena kesombongan itulah yang akan mengundang adzab Allah, baik di dunia maupun di akhirat. Rasulullah Saw bersabda: “Allah ‘azza wajalla berfirman: ‘Kesombongan adalah pakaian-Ku, sedangkan kebesaran adalah selendang-Ku, maka siapa saja yang mencabut salah satu dari dua hal, itu maka ia akan Aku lemparkan ke neraka.’” (H.R. Ibnu Majah) (Akmal Sjafril/ton)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*