Wahai Para Pria, Ketahuilah Batas Auratmu

Wahai Para Pria, Ketahuilah Batas Auratmu

Aurat adalah setiap bagian dari tubuh yang wajib ditutup dan haram hukumnya untuk diperlihatkan kepada orang lain, baik di dalam maupun di luar shalat. Jumhur fuqaha’ telah bersepakat bahwa aurat bagi kaum laki-laki adalah antara pusar sampai dengan lutut. Artinya, bagian pusar sampai dengan lutut, termasuk paha adalah bagian tubuh pria yang harus ditutup. Sayangnya hal ini telah banyak dilupakan kaum pria. Mereka dengan santainya beraktifitas di luar rumah hanya bercelana pendek dan menampakkan paha-paha mereka.

Aurat laki-laki adalah antara pusar dan lutut, berdasarkan riwayat ‘Aisyah, Dari ‘Amr bin Syu’aib dari Bapaknya dari kakeknya, beliau menuturkan bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Jika ada di antara kalian yang menikahkan pembantu, baik seorang budak ataupun pegawainya, hendaklah ia tidak melihat bagian tubuh antara pusat dan di atas lututnya.” [HR. Abu Dawud] Rasulullah Saw bersabda, Aurat laki-laki ialah antara pusat sampai dua lutut. [HR. ad-Daruquthni dan al-Baihaqi, lihat Fiqh Islam, Sulaiman Rasyid]. Dari Muhammad bin Jahsyi, ia berkata, Rasulullah Saw melewati Ma’mar, sedang kedua pahanya dalam keadaan terbuka. Lalu Nabi bersabda, “Wahai Ma’mar, tutuplah kedua pahamu itu, karena sesungguhnya kedua paha itu aurat.” [HR. Ahmad dan Bukhari).

Imam Nawawi di dalam penjelasan Shahih Muslim menyatakan, “Sesungguhnya paha termasuk bagian dari aurat. Banyak hadits masyhur yang menjelaskan bahwa paha adalah termasuk aurat. Hal itu seperti hadits Anas radhiyallahu ‘anhu bahwa jika terbukanya paha tanpa unsur kesengajaan serta dalam kondisi darurat masih dapat dimaafkan. Tetapi bila masih ada sarana yang memungkinkan untuk menutupnya, maka hukumnya wajib untuk menutupnya.”

Jahad al-Aslami (salah seorang ashabus shuffah) berkata: pernah Rasulullah Saw duduk di dekat kami sedang pahaku terbuka, lalu beliau bersabda, “Tidakkah engkau tahu bahwa paha itu aurat?” [HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi dan Malik, lihat Shafwât at-Tafâsir, Muhammad Ali ash-Shabuni]. Juga Rasulullah Saw pernah berkata kepada Ali ra: “Janganlah engkau menampakkan pahamu dan janganlah engkau melihat paha orang yang masih hidup atau yang sudah mati.” [HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah, lihat Shafwât at-Tafâsir, Muhammad Ali ash-Shabuni].

Namun ada sebagian ulama, di antaranya Ibnu Hazm dan juga sebagian Fuqoha Maliki dan Hanabilah berpendapat bahwa paha tidak termasuk aurat. Pendapat ini berlandaskan sejumlah dalil. Antara lain dari Anas RA. Ia berkata, “Sesungguhnya Nabi Saw pernah melipat sarungnya pada hari Khoibar sehingga aku melihat putihnya paha Rasulullah Saw?” (HR Muslim) Dari Aisyah RA, ia berkata, “Rasulullah SAW menyingkapkan kain dari pahanya ketika Abu Bakar dan Umar masuk. Tetapi ketika Utsman bin? Affan masuk beliau menutupinya. Lalu beliau pun bersabda ? Bagaimana aku tidak merasa malu terhadap seorang laki-laki yang para malaikat pun meresa malu terhadapnya?” (HR Muslim) (Anton)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*