Kepada Siapa Kita Harus Bersedekah?

Kepada Siapa Kita Harus Bersedekah?

Sedekah dalam bentuk apapun pada dasarnya adalah kebaikan yang bernilai pahala. Namun sebaiknya infak atau sedekah diberikan sesuai urutan prioritas yang telah dituntunkan dalam Al Quran, “Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: “Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan.” Dan apa saja kebaikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya. (QS Al Baqarah 215). Dengan demikian, yang pertama mendapat prioritas adalah ibu dan bapak atau kedua orang tua kita. Kemudian dilanjutkan dengan keluarga dan karib kerabat, seperti saudara kita, saudara bapak dan ibu kita, saudara istri kita dan lain sebagainya. Lalu barulah anak-anak yatim, fakir miskin, orang yang dalam perjalanan dan seterusnya.

Dalam hal ini Rasulullah juga telah memberi tuntunan agar kaum muslimin memberi perhatian lebih besar kepada sanak kerabat dan saudara ketika memberian sedekah. Rasulullah bersabda, “Ada empat dinar; Satu dinar engkau berikan kepada orang miskin, satu dinar engkau berikan untuk memerdekakan budak, satu dinar engkau infakkan fi sabilillah, satu dinar engkau belanjakan untuk keluargamu. Dinar yang paling utama adalah yang engkau nafkahkan untuk keluargamu.”(HR. Muslim). Nabi juga bersabda, “Bersedakah kepada orang miskin adalah sedekah (saja), sedangkan jika kepada kerabat maka ada dua (kebaikan), sedekah dan silaturrahim.” (HR. Ahmad, an-Nasa’i, at-Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Diriwayatkan bahwa Abu Thalhah radhiyallahu ‘anhu memiliki kebun kurma yang sangat indah dan sangat dia cintai, namanya Bairuha’. Ketika turun ayat, “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai.” (Qs. Ali Imran: 92) Maka Abu Thalhah mendatangi Rasulullah dan mengatakan bahwa Bairuha’ diserahkan kepada beliau, untuk dimanfaatkan sesuai kehendak beliau. Rasulullah shallallahu ‘alihi wasallam menyarankan agar kebun itu dibagikan kepada kerabatnya. Maka Abu Thalhah melakukan apa yang disarankan Nabi tersebut dan membaginya untuk kerabat dan keponakannya. (Hr. al-Bukhari dan Muslim).

Selain prioritas pemberian sedekah kepada sanak saudara, yang perlu mendapat perhatian adalah adab ketika memberi sedekah. Salah satunya dengan tidak membicarakan sesuatu yang menyinggung perasaan bahkan menyakiti perasaannya. Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerimanya), seperti orang yang menginfakkan hartanya karena riya’ kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih. Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (Qs. Al-Baqarah: 264) Allah juga berfirman, “Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan penerimanya). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.” (Qs. Al-Baqarah: 263)

Mari kita perhatian bersama, apakah di antara sanak saudara, kerabat, dan orang terdekat dengan kita masih membutuhkan bantuan. Kalau masih ada, bantulah dengan memberi sedekah, dan jaga adab ketika memberikan sedekah itu agar Allah meridhoi sedekah itu. (Anton/Zainul Muslimin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*