Jalan Mencintai Allah

Jalan Mencintai Allah

Dalam bukunya “Mahabbatullah” (mencintai Allah), Imam Ibnu Qayyim menjelaskan tentang tahapan mencintai Allah. Menurutnya, cinta senantiasa berkaitan dengan amal, dan amal sangat tergantung pada keikhlasan kalbu. Amal dan iklas akan menjadi jalan bagi berlabuhnya cinta kepada Allah. Cinta kepada Allah merupakan refleksi dari disiplin keimanan dan kecintaan yang terpuji, bukan kecintaan yang tercela yang menjerumuskan kepada cinta selain Allah. Cintailah Allah sepenuh hati maka Allah pun akan mencintai kita. Berikut tahapan menuju cinta kepada Allah:

1. Taqarub kepada Allah Swt dengan menjalankan semua ibadah wajib disempurnakan dengan melaksanakan ibadah-ibadah sunah. Orang yang menunaikan ibadah-ibadah fardlu dengan sempurna mereka adalah orang yang mencintai Allah. Sementara orang yang menunaikannya kemudian menambahnya dengan ibadah-ibadah sunnah, mereka itu adalah orang yang dicintai Allah. Jangan pernah berharap bisa mencintai Allah kalau masih berat melakukan ibadah shalat5 waktu, puasa, dan ibadah wajib lainnya. Rasulullah, sosok yang paling dicintai dan mencintai Allah saja masih shalat wajib berjamaah dan melakukan shalat tahajud setiap malam.

2. Membaca al-Qur’an dengan merenung dan memahami kandungan maknanya sesuai dengan maksudnya yang benar. Al-Qur’an merupakan kemuliaan bagi manusia yang tidak bisa ditandingi dengan kemuliaan apapun. Ibnu Sholah mengatakan “Membaca Al-Qur’an merupakan kemuliaan, dengan kemuliaan itu Allah ingin memuliakan manusia diatas mahluk lainnya. Bahkan malaikat pun tidak pernah diberi kemuliaan semacam itu, malah mereka selalu berusaha mendengarkannya dari manusia.”

3. Melanggengkan dzikir kepada Allah dalam segala tingkah laku, melalui lisan, kalbu, amal dan perilaku. Dzikir kepada Allah merupakan syiar bagi mereka yang mencintai Allah dan orang yang dicintai Allah. Rasulullah pernah bersabda, “Sesungguhnya Allah aza wajalla berfirman,”Aku bersama hamba-Ku, selama ia mengingat-Ku dan kedua bibirnya bergerak (untuk berdzikir) kepada-Ku”.

4. Cinta kepada Allah melebihi cinta kepada diri sendiri. Memprioritaskan cinta kepada Allah diatas cinta kepada diri sendiri, meskipun dibayang-bayangi oleh hawa nafsu yang selalu mengajak lebih mencintai diri sendiri. Artinya ia rela mencintai Allah meskipun beresiko tidak dicintai oleh mahluk.

5. Kontinuitas musyahadah (menyaksikan) dan ma’rifat (mengenal) Allah. Penglihatan kalbunya terarah kepada nama-nama Allah dan sifat-sifatNya. Kesadaran dan penglihatan kalbunya berkelana di taman ma’rifatullah (pengenalan Allah yang paling tinggi). Barang siapa ma’rifat kepada asma-asma Allah, sifat-sifat dan af’al-af’al Allah dengan penyaksian dan kesadaran yang mendalam, niscaya akan dicintai Allah.

6. Menghayati kebaikan, kebesaran dan nikmat Allah lahir dan batin akan mengantarkan kepada cinta hakiki kepada-Nya. Tidak ada pemberi nikmat dan kebaikan yang hakiki selain Allah. Oleh sebab itu, tidak ada satu pun kekasih yang hakiki bagi seorang hamba yang mampu melihat dengan mata batinnya, kecuali Allah. Siapa yang memberi kita semua nikmat ini? Dengan menghayati kebaikan dan kebesaran Allah secara lahir dan batin, akan mengantarkan kepada rasa cinta yang mendalam kepadaNya.

7. Ketertundukan hati secara total di hadapan Allah, inilah yang disebut dengan khusyu’. Hati yang khusyu’ tidak hanya dalam melakukan sholat tetapi dalam semua aspek kehidupan ini, akan mengantarkan kepada cinta Allah yang hakiki.

8. Menyendiri bersama Allah ketika Dia turun. Kapankan itu? Yaitu saat sepertiga terakhir malam. Di saat itulah Allah turun ke dunia dan di saat itulah saat yang paling berharga bagi seorang hamba untuk mendekatkan diri kepadaNya dengan melaksanakan sholat malam agar mendapatkan cinta Allah.

9. Bergaul dengan orang-orang yang mencintai Allah, maka iapun akan mendapatkan cinta Allah.

10. Menjauhi sebab-sebab yang menghalangi komunikai kalbu dan Al-Khaliq, Allah subhanahu wataala. (dari beberapa sumber/Anton)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*