Tidak Ada Iman Tanpa Kesabaran

Tidak Ada Iman Tanpa Kesabaran

Kesabaran menjadi salah satu ciri manusia beriman. Kesabaran juga menjadi indikator kualitas keimanan seorang muslim. Bahkan sebagian ulama mengatakan bahwa kesabaran adalah setengah keimanan. Sabar memiliki kaitan erat dengan keimanan: seperti kepala dengan jasadnya. Tidak ada keimanan yang tidak disertai kesabaran, sebagaimana tidak ada jasad yang tidak memiliki kepala. Demikian pentingnya memahami makna kesabaran sehingga dalam Al Qur’an ada sekitar 100 ayat yang berisi tentang kesabaran.

Sabar berasal dari dari bahasa Arab ‘shabara’, yang membentuk infinitif (masdar) ‘shabran’. Dari segi bahasa, sabar berarti menahan dan mencegah. Makna ini bisa dilihat pada firman Allah, “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (Qs. Al-Kahfi: 28).

Makna sabar juga bisa dipahami dari hadist Rasulullah, “Sungguh menakjubkan perkaranya orang yang beriman, karena segala urusannya adalah baik baginya. Dan hal yang demikian itu tidak akan terdapat kecuali hanya pada orang mukmin; yaitu jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan yang terbaik untuknya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan hal terbaik bagi dirinya.” (HR. Muslim).

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin berkata, “Sabar adalah meneguhkan diri dalam menjalankan ketaatan kepada Allah, menahannya dari perbuatan maksiat kepada Allah, serta menjaganya dari perasaan dan sikap marah dalam menghadapi takdir Allah” Sementara Amru bin Usman mengatakan, bahwa sabar adalah keteguhan bersama Allah, menerima ujian dari-Nya dengan lapang dan tenang. Hal senada juga dikemukakan oleh Imam Al-Khawas, “Sabar adalah refleksi keteguhan untuk merealisasikan Al-Qur’an dan sunnah. Sehingga sabar tidak identik dengan kepasrahan dan ketidakmampuan. Rasulullah Saw. memerintahkan umatnya untuk sabar ketika berjihad. Padahal jihad adalah memerangi musuh-musuh Allah, yang klimaksnya adalah menggunakan senjata (perang).”

Sabar menurut Ibnu Katsir ada tiga macam: Pertama, sabar dalam meninggalkan hal yang diharamkan dan dosa. Kedua, sabar dalam melakukan kekuatan dan kedekatan kepada Allah. Kesabaran yang kedua adalah yang paling besar pahalanya, sebab sabar ini memiliki nilai yang hakiki. Ketiga, yaitu sabar dalam menghadapi berbagai bencana dan petaka. Ketika mendapat bencana ia tidak berkeluh kesah, tetapi memohon ampun dari perbuatan dosa.

Ibnu Qayyim al-Jauziah membagi sabar dalam tiga macam: Sabar dengan (pertolongan) Allah, sabar karena Allah, dan sabar bersama Allah. Pertama adalah meminta pertolongan kepada-Nya sejak awal dan melihat bahwa Allah-lah yang menjadikannya sabar, dan bahwa kesabaran seorang hamba adalah dengan (pertolongan) Tuhannya, bukan dengan dirinya semata. Sebagaimana Firman Allah, “Bersabarlah, dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah”. (Qs. al-Nahl: 127) Kedua, sabar karena Allah, yakni bersabar karena cinta kepada Allah, mengharapkan keridhaan-Nya, dan untuk mendekatkan kepada-Nya, bukan untuk menampakkan kekuatan jiwa, mencari pujian makhluk, dan tujuan-tujuan lainnya. Ketiga, sabar bersama Allah, yakni dalam perputaran hidupnya hamba selalu bersama dan sejalan dengan agama yang dikehendaki Allah dan hukum-hukum agamanya-Nya. Menyabarkan dirinya untuk selalu bersamanya, berjalan bersamanya, berhenti bersamanya, menghadap kemana arah agama itu menghadap dan turun bersamanya. (Zainul Muslimin/Anton)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*