Kesalehan Personal dan Sosial Calon Penghuni Surga

Kesalehan Personal dan Sosial Calon Penghuni Surga

Kualitas dan derajat keimanan seorang muslim tidak hanya diukur dari kesungguhan dan ketekunannya dalam beribadah kepada Allah. Tidak cukup orang disebut beriman bila hanya tekun menjalankan ibadah shalat, puasa, menunaikan ibadah haji dan ibadah lain yang bersifat personal, namun mengesampingkan ibadah yang berkaitan dengan kepentingan sesama. Allah telah berfirman, `Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. dan apa saja yang kamu nafkahkan Maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (Qs. Ali Imraan: 92). Di ayat lain Allah berfirman, “Dan orang-orang yang beriman serta beramal saleh, mereka itu penghuni surga; mereka kekal di dalamnya.” (Qs. Al Baqarah: 82).

Dengan demikian, selain dibutuhkan kesungguhan untuk memenuhi semua syariat ritual ibadah atau biasa disebut sebagai kesalehan personal, seorang muslim juga dituntut untuk memiliki kesalehan berdimensi sosial. Dua kesalehan itu harus melekat erat dalam diri seorang muslim agar dia bisa mengemban amanah secara kaffah sesebagai khalifah di muka bumi. Bila salah satu ‘ditinggalkan’ maka bisa dipastikan kualitas keimanan dan ketakwaannya masih perlu dipertanyakan. Banyak orang menyebut hal ini sebagai keselarasan antara kesalehan vertikal berupa ketaatan pada Allah, dan kesalehan horizontal berupa perhatian, empati, kepedulian dan berbagai sifat mulia lainnya kepada sesama manusia dan lingkungannya.

Tuntunan untuk menumbuhkan kesalehan personal sekaligus kesalehan sosial telah ditegaskan Allah dalam firman-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, rukuklah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan berbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.” (Qs. Al-Hajj: 77). Perintah bagi orang beriman untuk menunaikan ibadah shalat langsung digandengkan dengan perintah untuk berbuat kebajikan. Artinya, untuk memperoleh kesempurnaan iman dan meraih kemenangan tidak cukup hanya patuh taat menunaikan ibadah personal, tetapi juga harus diikuti dengan mengamalkannya dalam kehidupan sosial sehari-hari.

Harus diakui, tidak mudah bagi orang beriman untuk menggandengkan kedua sifat mulia itu. Allah telah memberi petunjuk kelak banyak manusia tergelincir ke dalam neraka karena tidak mampu menyatukan kedua keshalehan itu dalam dirinya. “Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)? Mereka menjawab, ’Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat dan kami tidak pula memberi makan orang miskin dan adalah kami membicarakan yang batil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya.” (Qs. Al-Mudatsir : 42-45). Ayat ini menjadi peringatan bagi orang beriman untuk bersungguh-sungguh mewujudkan keshalehan yang lengkap dalam dirinya.

Allah telah memberi janji surga bagi mereka yang mampu mewujudkannya, sebagaimana firmannya, “Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang beriman dan mengerjakan amal yang saleh ke dalam surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Di surga itu mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas dan mutiara, dan pakaian mereka adalah sutera.” (Qs. Al Hajj: 23). Semoga kita termasuk golongan manusia beriman yang memperoleh surga. (Anton/Zainul Muslimin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*