Jalan Surga bagi Suami dan Istri

Jalan Surga bagi Suami dan Istri

Syari’at dalam Al Qur’an memberikan perhatian besar pada hubungan antara suami dan istri, sampai-sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjadikan baik dan buruknya hubungan seorang suami dengan istrinya sebagai standar kepribadian seseorang, “Sebaik-baik kalian ialah orang yang paling baik perilakunya terhadap istrinya, dan aku adalah orang yang paling baik dari kalian dalam memperlakukan istriku.” (HR. At Tirmizi dan dishahihkan oleh Al Albani)

Di antara syari’at Al Qur’an yang mengajarkan tentang hubungan suami istri yang baik tampak dalam hadits, “Janganlah seorang lelaki mukmin membenci seorang mukminah (istrinya), bila ia membenci suatu perangai padanya, niscaya ia menyukai perangainya yang lain.” (HR. Muslim) Imam An Nawawi rahimahullah menjelaskan hadits ini dengan menyebutkan contoh nyata, beliau berkata, “Tidaklah layak bagi seorang mukmin (suami yang beriman) untuk membenci seorang mukminah (istrinya yang beriman), bila ia mendapatkan padanya suatu perangai yang ia benci, niscaya ia mendapatkan padanya perangai lainnya yang ia sukai, misalnya bila istrinya tesebut berakhlak pemarah, akan tetapi mungkin saja ia adalah wanita yang taat beragama, atau cantik, atau pandai menjaga kehormatan dirinya, atau sayang kepadanya atau yang serupa dengan itu.” (Syarah Muslim Oleh Imam An Nawawi).

Sebaliknya syari’at Al Qur’an juga mewajibkan para istri untuk senantiasa taat kepada suaminya, selama mereka tidak memerintahkannya dengan kemaksiatan. “Seandainya aku diizinkan untuk memerintahkan seseorang agar bersujud kepada orang lain, niscaya aku akanperintahkan kaum istri untuk bersujud kepada suaminya.” (HR. Ahmad, At Tirmizi, dan Ibnu Majah). Dan sabda Rasulullah, “Bila seorang wanita telah menunaikan shalat lima waktu, puasa bulan Ramadhan, menjaga kesucian farjinya, dan mentaati suaminya, niscaya akan dikatakan kepadanya, Masuklah ke surga dari delapan pintu surga yang manapun yang engkau suka.” (HR Ahmad, Ibnu Hibban dan dishahihkan oleh Al Albani)

Pada hadits ini Rasulullah memberikan suatu pelajaran penting kepada kaum istri agar hubungannya dengan suaminya bukan hanya didasari oleh rasa cinta semata. Akan tetapi lebih dari itu semua, ketaatannya kepada suami adalah salah satu bagian dari ibadahnya, dan itu merupakan ibadah yang amat agung, sampai-sampai disejajarkan dengan sholat lima waktu, dan puasa bulan Ramadhan. Sehingga dengan cara demikian, ketaatan dan kesetiaan kaum istri akan kekal hingga akhir hayatnya, dan tidak mudah luntur oleh berbagai badai yang menerpa bahtera rumah tangganya.

Bila pasangan suami istri bisa menjalankan tuntunan itu dengan baik, insya Allah akan melahirkan kebahagiaan dan kemuliaan. Rumahtangga seolah menjadi surga yang membahagiakan, dan kebersamaan pasangan suami istri bisa menjadi jalan menuju surga abadi yang sesungguhnya. (Anton/Zainul Muslimin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*