Islamisasi Sains

Islamisasi Sains

Sains modern telah memberi kemajuan material yang luar biasa tetapi juga membawa manusia pada keterasingan (alienasi) dan kehampaan spiritual. Sains telah melakukan klaim-klaim di luar wewenangnya serta meneguhkan pandangan dunia mekanik yang mengesampingkan peran Tuhan di dalam kehidupan dunia ini. Akibat keterasingan dan berbagai krisis orang merindukan sains alternatif yang dibangun dengan paradigma baru. Sains dengan tataran ontologis, aksiologis, maupun epistemologis yang lebih komprehensif. Sains holistik yang tidak mengabaikan peran wahyu dalam tataran epistemologisnya.

Terkait dengan kerinduan tersebut, pendekatan sains-wahyu mestinya dibalik menjadi wahyu-sains. Penafsiran isra’ mi’raj misalnya, adalah contoh alur pikiran sains-wahyu. Hasil sains dicari dan disesuaikan untuk mendukung nash kitab suci. Pola yang mestinya kita kembangkan adalah pola wahyu-sains. Wahyu dan tradisi keislaman dijadikan sebagai pijakan untuk membangun sains.

Sebagai contoh, jauh sebelum atomisme kuantum lahir, dunia Islam telah mempunyai atomisme Asy’ariyah yang unik. Atom sebagai al-juz alladzi laayatajazza, bagian atau eksistensi yang tak bisa dibagi lagi merupakan penyusun dunia. Atom merupakan lokus yang memberi substansi pada aksiden. Atomisme Asy’ariyah mempunyai tiga karakteristik. Pertama, atom tidak mempunyai ukuran dan homogen tetapi terpadu membentuk benda yang mempunyai entitas. Kedua, jumlah atom tertentu dan berhingga. Asy’ariyah, berdasarkan QS al-Jin: 28 menolak ketakberhinggaan mazhab atomis Yunani. Ketiga, atom-atom dapat musnah dan lenyap secara fitrah, tidak bisa bertahan selama dua saat berturut-turut, namun secara terus menerus Tuhan menciptakan dan memusnahkannya. Al-Asy’ariyah bersandar pada teks kitab suci seperti QS ar-Rum: 11.

Gagasan dasar atomisme Asyariyah sangat dekat dengan atomisme kuantum. Di dalam kuantum, partikel adalah medan yang terpaket, memiliki karakteristik partikel sekaligus gelombang dengan wujud konkrit sebagai paket gelombang. Maka ia tidak memiliki dimensi sebagaimana materi menurut pemahaman klasik. Selanjutnya, di dalam medan kuantum dikenal adanya kreasi dan pemusnahan partikel. Secara alamiah partikel bisa tercipta dan musnah.

Peristiwa Isra’ miraj yang dikaitkan dengan teletransportasi mestinya dapat memicu ilmuwan muslim melakukan reorientasi dalam aktivitas ilmiahnya. Mereka perlu kembali mempertemukan ayat-ayat kitab suci dan ayat-ayat kauniyah. Persoalannya kini, tradisi ilmiah di kalangan umat islam masih lemah. Kita masih kekurangan ilmuwan muslim khususnya bidang eksakta, terlebih lagi yang berreputasi internasional. (Dr Agus Purwanto/Kepala Laboratorium Fisika Teori dan Filsafat Alam (LaFTiFA) ITS Surabaya)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*