Fitnah Lebih Kejam Daripada Pembunuhan

Fitnah Lebih Kejam Daripada Pembunuhan

Dalam bahasa Al Qur’an kata fitnah memiliki makna yang berbeda dengan kata fitnah dalam bahasa Indonesia. Sebagaimana tercantum dalam surat Al Baqarah ayat 191, “Wal fitnatu asyaddu minal qotli….” yang artinya “Dan fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan..” Imam Ibnu Katsir menjelaskan kata ‘fitnah’ disini dengan makna ‘syirik. Sedangkan dalam surat Al Baqarah ayat 217 “Wal fitnatu akbaru minal qotli…” yang artinya “Fitnah itu lebih besar (dosanya) dari pada pembunuhan.,” kata fitnah dimaknai sebagai kekufuran dan penganiayaan terhadap umat Islam. Di beberapa ayat lain, fitnah juga bisa dimaknai sebagai adzab, ujian, bencana, kedustaan, pembunuhan dan lainnya.

Sementara dalam bahasa Indonesia fitnah sering dimaknai sebagai sebagai penisbatan atau tuduhan suatu perbuatan kepada orang lain, dimana orang yang dituduh tersebut sebenarnya tidak melakukan perbuatan yang dituduhkan. Artinya, seseorang dikatakan memfitnah bila menuduhkan suatu perbuatan yang sebenarnya tidak dilakukan oleh seseorang. Fitnah dilakukan dengan cara memberi stigma negatif, fakta palsu dan berita bohong tentang seseorang. Fitnah biasanya dilakukan seseorang untuk menjatuhkan reputasi, nama baik, atau kredibilitas seseorang. Karena kejamnya perilaku memfitnah, masyarakat juga mengkaitkan fitnah ini dengan ayat Al Qur’an bahwa ‘fitnah lebih kejam dari pada pembunuhan’.

Kebiasaan melakukan fitnah dan prasangka buruk sebenarnya sudah ada sejak dulu. Kegemaran para pelaku fitnah untuk mengecam orang lain dan menganggap suci diri sendiri sudah disinyalir oleh Allah Swt, “Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah [Allah] yang lebih mengetahui [siapa] orang-orang yang bertakwa.” (Qs. An-Najm: 32). Rasulullah juga bersabda, “Apabila kamu mendengar seseorang mengatakan ‘manusia telah rusak’, maka orang itulah yang paling rusak di antara mereka.” (HR Muslim) Dengan demikian perilaku memfitnah bisa saja disebabkan oleh sifat dan karakter pribadi seseorang. Selain itu bisa juga karena dilatarbelakangi iri, dengki atau bahkan dendam. Fitnah juga selalu terkait erat dengan ketidakmampuan menjaga lesan. Tersebarnya fitnah berawal dari lesan yang tidak mampu menjaga kata-kata penuh prasangka, tuduhan dan kedustaan.

Islam melarang keras perilaku fitnah yang menebar prasangka, kedustaan dan penistaan. Allah berfirman, “Wahai orang-orang beriman. Hindarkanlah dirimu dari kebanyakan prasangka. Sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa.” (Qs. Al Hujurat: 12) Dalam kehidupan sehari-hari fitnah dan prasangka menjadi sumber perpecahan dan pertentangan. Banyak kasus terjadi, persaudaraan dan persahabatan bisa terpecah karena adanya fitnah dan prasangka. Bahkan pejuang-pejuang dakwah bisa saja terjebak dalam pertentangan hanya karena munculnya fitnah dan prasangka dari salah seorang diantara mereka.

Allah juga menghukum berat bagi mereka para pelaku fitnah dan dusta. ”Tidak akan masuk surga orang yang menghambur-hamburkan fitnah (suka mengadu domba).” (HR. Abu Dawud dan At-Thurmudzi). Rasulullah juga bersabda, ”Sesungguhnya dusta itu menuju kepada kekejian dan kekejian menuntun ke neraka, seseorang terus menerus berdusta sehingga dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” (muttafaq ‘alaih) Oleh karena itu berhati-hatilah mereka yang memiliki kebiasaan menebar fitnah dan dusta. Jaga diri akan terhindari dari kebiasaan melakukan fitnah dan kedustaan. Sungguh kerugian sangat besar bagi para penebar fitnah karena akan menutup pintu surga bagi dirinya sendiri.

Mari bersama-sama menjadi diri dari kebiasaan dan perilaku menebar fitnah, dan sebaliknya selalu berusaha menjaga kebenaran, kejujuran, dan menjaga kedamaian. Rasulullah telah bersabda, “Hendaklah kamu selalu benar. Sesungguhnya kebenaran membawa kepada kebajikan dan kebajikan membawa ke surga. Selama seorang benar dan selalu memilih kebenaran dia tercatat di sisi Allah seorang yang benar (jujur). Hati-hatilah terhadap dusta. Sesungguhnya dusta membawa kepada kejahatan dan kejahatan membawa kepada neraka. Selama seorang dusta dan selalu memilih dusta dia tercatat di sisi Allah sebagai seorang pendusta (pembohong). (HR. Bukhari) (Anton/Zainul Muslimin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*