Menikmati Manisnya Ujian Iman

Menikmati Manisnya Ujian Iman

Pernyataan iman menjadi pembeda antara seorang beriman dengan mereka yang tidak beriman. Sebagaimana Rasulullah telah sampaikan ketika menjawab pertanyaan malaikat Jibril tentang apa itu iman, yaitu, “Engkau beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, hari akhir, dan engkau beriman dengan takdir, yang baik dan yang buruk.” (Hr. Muslim). Pernyataan iman tentu tidak cukup hanya berhenti di hati dan lesan tetapi juga harus dibuktikan dengan perbuatan, dalam bentuk menjalankan perintah Allah dan meninggalkan larangannya.

Keimanan juga tidak hanya berhenti sampai disitu. Allah telah memberikan penjelasan kepada kita bahwa salah satu konsekuensi pernyataan iman adalah, kita harus siap menghadapi ujian yang diberikan Allah Swt. Ujian itu akan menjadi bukti sejauhmana kebenaran dan kesungguhan kita dalam menyatakan iman. Allah telah berfirman, “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji? Dan sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta.’ (Qs. Al-Ankabut: 2-3)

Dengan kata lain, Allah menguji manusia di muka bumi untuk membedakan di antara mereka yang beriman dan mereka yang tidak beriman, serta untuk menentukan siapa yang terbaik kualitas iman dan amal perbuatannya. Oleh karena itu, pengakuan seperti “aku beriman” tanpa bukti tindakan yang sesuai dengannya tidaklah cukup. Di sepanjang hayatnya, manusia diuji dalam hal keimanan dan ketaatannya kepada Allah, termasuk kegigihannya dalam memperjuangkan agama Allah. Ini dinyatakan Allah, “Dia (Allah) Yang Mematikan dan Menghidupkan untuk menguji siapa di antara kamu yang terbaik amalnya. Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (Qs. Al-Mulk: 2)

Dengan demikian keimanan dan ujian merupakan satu paket yang selalu berdampingan. Satu tidak bisa dipisahkan dari yang lain. Orang beriman yang benar dalam keimanannya akan merasakan manisnya setiap ujian keimanan yang dihadapinya. Karena dia tahu bahwa ujian keimanan itu adalah bukti kecintaan Allah kepadanya. Imam Ibnu Majah meriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Innallaaha idzaa ahabba qauman ibtalaahum.” (Sesungguhnya apabila Allah mencintai satu kaum, maka Dia akan menguji mereka). Kalau yang dihadapi ujian kebaikan, maka dia akan bersyukur dengan memanfaatkan kebaikan yang diterimanya di jalan Allah. Kalau ujian keburukan yang dia terima, maka dia akan sabar dengan senantiasa menjaga diri untuk tetap berada di jalan Allah.

Oleh karena itu, bagi kaum beriman, ujian apapun bentuknya seharusnya disikapi sebagai bagian dari komitmen keimanan. Artinya, kaum beriman akan selalu siap diuji kapanpun, dalam bentuk apapun, dan seberat apapun. Dan yang pasti, mereka juga selalu yakin bahwa Allah akan selalu memberi pertolongan. Hal telah dibuktikan generasi awal kaum beriman yang telah mendapat berbagai ujian berat sekaligus pertolongan dari Allah dalam perjalanan keimanan mereka. Allah berfirman, “Apakah kalian mengira akan masuk surga sedangkan belum datang kepada kalian (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kalian? Mereka ditimpa malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?”Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat”. (QS. al-Baqarah: 214). (Anton/Zainul Muslimin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*