Memahami dengan Benar Qadla dan Qadlar

Memahami dengan Benar Qadla dan Qadlar

Pembahasan qadla dan qadlar bukanlah suatu bahasan yang mudah dan bukan pula merupakan hal yang baru. Qadla dan qadlar adalah bahasan yang rumit sejak dahulu. Banyak kontroversi di kalangan ulama ahli kalam dalam menyikapi permasalahan ini. Bahkan perbedaan pemahaman tentang hakekat masalah ini telah menimbulkan perpecahan dikalangan umat Islam.

Definisi qadla menurut ahli bahasa adalah hukum, keputusan, atau ketetapan. Sedangkan qadlar adalah ketentuan. Ulama kalam sangat variatif dalam mendefinisikan kalimat qadla dan qadlar. Menurut pendapat asya’irah (aswaja: ahlu assunnah wal jama’ah), bahwa qadla adalah kehendak Allah pada zaman ‘azali, mencakup segala sesuatu termasuk baik dan buruknya. Sedangkan qadlar adalah bentuk dari suatu kejadian yang telah ditetapkan oleh Allah atas segala sesuatunya.
Al Maturidiyah berpendapat, qadla adalah Allah mewujudkan atas segala sesuatu dengan ketetapan atau hukum secara sempurna. Qadlar merupakan ilmunya Allah Swt. pada zaman ‘azali tentang apa yang akan terwujud sebelum makhluk diciptakan. Iman kepada qadla dan qadlar adalah salah satu rukun yang harus diyakini dengan sempurna, bahwa segala sesuatu yang menimpa manusia, baik dan buruknya datangnya dari Allah Swt.

Berkaitan dengan qadla dan qadlar, bahasan yang paling signifikan adalah af’alul ibad (perbuatan hamba). Ada tiga pendapat menyikapi hal tersebut. Pendapat Pertama mengatakan bahwa manusia mendapat tekanan atau paksaan dalam perbuatannya. Manusia tidak mempunyai kekuatan sama sekali dalam menentukan perbuatannya. Allah Swt. adalah Dzat yang menciptakan perbuatan manusia, sesungguhnya manusia seperti bulu yang beterbangan di udara, dia tidak memiliki kekuatan penuh untuk melawan angin yang membawanya kesana kemari, hanya menunggu takdir yang telah ditetapkan oleh-Nya. Pendapat ini terkenal dengan istilah jabariyah yang menisbatkan segala perbuatan manusia secara mutlak datangnya dari Allah Swt.

Pendapat Kedua dari golongan mu’tazilah yang mengungkapkan bahwa perbuatan manusia secara mutlak bersifat ikhtiyari. Manusia diberi kebebasan penuh untuk melakukan segala perbuatannya. Salah satu dalil ‘aqli (rasional) yang menguatkan hal tersebut adalah adanya perintah dan larangan dari Allah. Apa artinya perintah ataupun larangan jikalau manusia tidak diberi kebebasan mutlak untuk melaksanakannya. Adanya pahala dan siksaan juga merupakan hal yang sia-sia, karena tidak ada artinya tanpa ada kebebasan untuk berbuat sesuatu. Dalil naqli adalah, “Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hambaNya”. (QS. Fushshilat: 46).

Pendapat ketiga mengambil jalan tengah antara kedua pendapat diatas. Asya’irah berpendapat bahwa Allah menciptakan segala perbuatan manusia, tidak ada pencipta selain diri-Nya, akan tetapi manusia berusaha untuk merealisasikan perbuatannya. Hal yang membedakan asya’irah dari yang lain adalah adanya faktor al kasbu (usaha), sebagaimana firman Allah “Itu adalah umat yang telah lalu; baginya apa yang diusahakannya dan bagimu apa yang kamu usahakan…” (Qs. Al Baqarah: 141).

Allah Swt. adalah pencipta dari segala perbuatan hambanya, kekuasaan-Nya mencakup segala apa yang ada di langit dan di bumi. Akan nampak perbedaan antara harakat idltirariyah (gerakan yang bersifat paksaan) dan harakat ikhtiyariyah (gerakan yang bersifat pilihan). Adapun yang pertama seperti gerakan detak jantung pada manusia, sedangkan contoh yang kedua seperti duduk, berdiri, dan jalan kaki merupakan harakat ikhtiyariyah. Pendapat inilah yang mendekati kepada kebenaran, sesuai dengan kenyataan dan tidak bertentangan dengan Al Qur’an sebagai sumber hukum. Wallahu a’lam. (Berandacinta/ton)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*