MEMAHAMI MAKNA TAWAKAL

MEMAHAMI MAKNA TAWAKAL

Tawakal berasal dari kata ‘tawakala’ atau ‘wakal’ yang berarti mewakilkan. Tawakal berarti memberikan perwakilan, kepasrahan dan penyerahan diri total kepada Allah. Ada yang menyatakan bahwa tawakal adalah kesungguhan hati untuk bersandar diri hanya kepada Allah. Tawakal ialah keyakinan yang sungguh-sungguh seorang hamba bersama Allah tanpa ketergantungan pada pihak lainnya. Allah Ta’ala berfirman, ”Dan barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan jadikan baginya jalan keluar dan memberi rejeki dari arah yang tiada ia sangka-sangka, dan barang siapa bertawakal kepada Allah, maka Dia itu cukup baginya.” (Qs. Ath Tholaq: 2-3)

Ibnu ‘Abbas mengatakan bahwa tawakal bermakna percaya sepenuhnya kepada Allah Ta’ala. Imam Ahmad mengatakan, ”Tawakal berarti memutuskan pencarian disertai keputusasaan terhadap makhluk.” Al Hasan Al Bashri pernah ditanya tentang tawakal, maka beliau menjawab, ”Ridho kepada Allah Ta’ala”, Ibnu Rojab Al Hanbali mengatakan, ”Tawakal adalah bersandarnya hati dengan sebenarnya kepada Allah Ta’ala dalam memperoleh kemashlahatan dan menolak bahaya, baik urusan dunia maupun akhirat secara keseluruhan.” Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqolani mengatakan, ”Tawakal yaitu memalingkan pandangan dari berbagai sebab setelah sebab disiapkan.”

Jika dikatakan bahwa Dinul Islam secara umum meliputi dua aspek yaitu, al-isti’anah (meminta pertolongan Allah) dan al-inabah (taubat kepada Allah), maka tawakal merupakan setengah dari komponen Dinul Islam. Karena tawakal merupakan refleksi dari al-isti’anah (meminta pertolongan hanya kepada Allah swt.). Seseorang yang hanya meminta pertolongan dan perlindungan kepada Allah, menyandarkan dirinya hanya kepada-Nya, maka pada hakekatnya ia bertawakal kepada Allah, sebagaimana firman Allah, “Dan hanya kepada Allahlah hendaknya orang-orang mukmin bertawakal.” (Qs. Ali Imran: 122)

Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad Al-Quraisy menyatakan, “tawakal adalah menggantungkan diri kepada Allah pada setiap keadaan, dalam keadaan gembira, berkecukupan, maupun dalam keadaan tidak berkecukupan. Hidupnya hanya bergantung kepada Allah, berpegang teguh kepada Allah. Tidak akan menangis meronta-ronta karena kehilangan anggota keluarganya yang dijemput oleh ajal. Tidak akan sedih keterlaluan manakala harta kekayaannya itu dicuri orang. Bahkan, tidak akan menderita sekalipun jika dia digerogoti penyakit, karena hidupnya sudah tergantung sepenuhnya kepada Allah.”

Seseorang yang memahami dengan benar makna tawakal akan menjadi pribadi yang kokoh dan kuat. Ada keyakinan dalam dirinya bahwa Allah akan selalu menjamin kehidupannya. Tidak ada keraguan sedikitpun dalam dirinya untuk hanya bergantung dan bersandar kepada Allah. Allah telah berfirman, “Dan tidak ada suatu makhluk melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rejekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (Qs. Huud: 6) Allah juga berfirman, (Dan bertawakallah kepada Allah dan cukup Allah sebagai pemelihara segala urusan) (Qs. Ali Imran: 3).

Namun Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan tawakal bukan hanya berpangku tangan, pasrah dan hanya berdoa. Orang yang memaknai tawakal demikian itu adalah orang bodoh dan hal demikian itu diharamkan dalam tuntunan syar’iah agama Islam. Kita semua wajib bergerak dan berusaha. Banyak ayat-ayat Alquran yang menjelaskan hal ini. Allah berfirman, “Dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan”. (Qs. At-Taubah: 105)

Tawakal adalah menyempurnakan keyakinan kepada Allah. Keyakinan itu tidak akan terwujud kecuali dengan berbaik sangka kepada Allah, dan mempercayai sepenuhnya terhadap karuniai yang dijanjikan, serta ridho terhadap ketentuan yang berlaku dari qadha’ dan qadar-Nya. Jika keyakinan seperti ini sudah sempurna di dalam hati kita, maka inilah yang dinamakan sebagai ‘tawakal’. Tawakal adalah keyakinan total dan sempurna untuk bersandar hanya kepada Allah. Para sufi menganggap bahwa tawakal adalah ‘maqam puncak’ dalam perjalanan keimanan. (Anton)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*