Bahaya Berita Bohong di Media Sosial

Bahaya Berita Bohong di Media Sosial

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” [Qs. Al Hujurat : 6].

Perkembangan media sosial telah mengubah tatanan komunikasi manusia. Dunia seolah menjadi sempit karena daya jelajah media menjadi lebih luas, cepat dan mampu menerobos semua sekat yang selama ini membatasi gerak media. Bayangkan, 88 juta orang dari 250 juta penduduk Indonesia saat ini aktif memakai internet, dan lebih dari separuhnya memegang gadget dalam berbagai bentuk. Indonesia juga menjadi salah satu negara dengan ‘traffic’ tertinggi dalam penggunaan hampir semua ‘platform’ media sosial. Artinya, negeri ini telah dipenuhi penduduk yang aktif menggunakan media sosial.

Fenomena maraknya penggunaan media sosial tidak hanya masuk dalam kehidupan sosial tetapi juga menyentuh kehidupan beragama. Hampir semua lembaga keagamaan menggunakan media sosial untuk menggerakkan aktivitasnya. Bahkan sekarang muncul fenomena dakwah massal melalui media sosial dimana semua orang berlomba saling berbagi informasi, hikmah, doa bahkan ayat dan hadist , meskipun sebagian besar di antaranya hanya saling ‘copy paste’. Fenomena ini dalam batas tertentu positif dan menggembirakan namun dibutuhkan kehati-hatian dan kecermatan karena dalam prakteknya bisa muncul penyimpangan. Bisa saja terjadi maksudnya berbagi informasi untuk kebaikan namun ternyata yang dibagi justru berita bohong, palsu atau tidak jelas sumbernya.

Untuk itu ada baiknya kita perhatikan firman Allah tersebut di atas. Dalam ayat ini, Allah melarang hamba-hambanya yang beriman berjalan mengikuti desas-desus. Allah menyuruh kaum mukminin memastikan kebenaran suatu berita yang sampai kepada mereka. Tidak semua berita yang diterima itu benar, dan juga tidak semua berita yang diterima sesuai dengan fakta. Maka wajib bagi kita untuk selalu jeli dan waspada mencermati semua berita dan infomasi yang diterima dan disebarkan. Rasulullah telah bersabda, ”Cukuplah seseorang dikatakan berdusta, jika ia menceritakan setiap yang dia dengar.” (HR. Muslim). Dalam kaitan dengan hadist ini Imam Ibnu Hibban dalam kitab adh- Dhu’afa’ menjelaskan, “Di dalam hadits ini ada ancaman bagi seseorang yang menyampaikan setiap apa yang dia dengar sehingga ia tahu dengan seyakin-yakinnya bahwa hadits atau riwayat itu shahih.”

Kewaspadaan dan kehati-hatian terutama untuk menjaga agar kita tidak mudah menerima berita dan informasi dari orang fasik. Perlu melakukan pemeriksaan, penelitian dan mendapatkan bukti kebenaran berita itu sebelum disebarluaskan. Dalam ayat ini Allah memberitahukan, bahwa orang-orang fasik itu pada dasarnya jika berbicara dia dusta, akan tetapi kadang ia juga benar. Karenanya, berita yang disampaikan tidak boleh diterima dan juga tidak ditolak begitu saja, kecuali setelah diteliti. Jika benar sesuai dengan bukti, maka diterima dan jika tidak maka harus ditolak. Sebagaimana firman Allah tersebut, hal ini penting dilakukan untuk menghindarkan terjadinya musibah pada suatu kaum dan menghindari penyesalan di kemudian hari.

Mari kita tetap berdakwah dan menebarkan kemuliaan Islam dengan media apa pun, termasuk media sosial disertai kewaspadaan dan kehati-hatian dalam memilih isi yang didakwahkan. Jangan sampai kita menyebarkan berita dusta dan bohong. Saling mengingatkan menjadi filter terbaik untuk menghindari kesalahan. (Zainul Muslimin/Anton)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*