Cemburu Bernilai Ibadah

Cemburu Bernilai Ibadah

Kecemburuan yang dikenal dalam bahasa Arab sebagai ghoirah dan dalam bahasa Inggris disebut jealousy merupakan gejala fitrah, wajar dan alamiah dari seseorang sebagai ekspresi rasa cinta, sayang dan saling memiliki, melindungi dan peduli. Sayangnya cemburu sering dikonotasikan sebagai sifat negatif, terutama berkaitan dengan kecurigaan terhadap perilaku pasangan yang dicintainya. Padahal sesungguhnya cemburu merupakan potensi kejiwaan positif bila dipakai dan dikelola pada tempatnya secara wajar dan proporsional. Imam Al Munawi dalam kitab Al-Faidh justru menyatakan bahwa wanita yang paling mulia dan yang paling luhur cita-citanya adalah mereka yang paling pencemburu pada tempatnya.

Dijelaskan, sifat seorang beriman yang cemburu (ghoyyur) pada tempatnya adalah sesuai dengan sifat yang dimiliki oleh Rabbnya. Siapa yang mempunyai sifat menyerupai sifat-sifat Allah, maka sifat tersebut berada dalam perlindungan-Nya dan mendekatkan diri seorang hamba kepada rahmat-Nya. Rasulullah Saw. Bersabda, “Sesungguhnya Allah itu memiliki sifat cemburu dan orang-orang beriman juga memilikinya. Adapun rasa cemburu Allah ialah ketika melihat seorang hamba yang mengaku dirinya beriman kepada-Nya melakukan sesuatu yang diharamkan-Nya.” (HR. Bukhari dan Nasa’i).

Rasulullah juga memiliki rasa cemburu sebagaimana diungkapkan dalam sebuah hadist. Sa’ad bin Ubadah pernah berkata, “Seandainya aku melihat seorang laki-laki bersama isteriku, niscaya aku pukul ia dengan pedang pada bagian yang tajam (untuk membunuhnya).” Maka Rasulullah berkata, ’apakah kalian heran akan kecemburuan Sa’ad, sungguh aku lebih cemburu dari padanya dan Allah lebih cemburu dari padaku.’” (Hr. Bukhari dan Muslim).

Rasullullah melaknat para pria beriman yang kehilangan rasa cemburu pada istri dan keluarganya atau disebut dayyuts. Rasulullah bersabda, “Ada tiga golongan manusia yang tidak akan dilihat oleh Allah (dengan pandangan kasih sayang) pada hari kiamat nanti, yaitu: orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, perempuan yang menyerupai laki-laki, dan ad-dayyuts…” (Hr . An-Nasa-i, Ahmad) Makna ad-dayyuts adalah seorang suami atau bapak yang membiarkan terjadinya perbuatan buruk dalam keluarganya (Lihat Fathul Baari, 10/406). Apalagi Allah telah memberi amanah pada orang beriman untuk menjaga keluarganya dengan sungguh-sungguh. “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperinta hkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6)

Kehilangan rasa cemburu pada pasangan hidup dan keluarga, akan mengundang fitnah dan membuka peluang bagi penodaan kehormatan dan citra keluarga. Hal ini sangat dibenci dalam Islam karena akan mengantar mereka jatuh kepada kemaksiatan. Sebaliknya, kecemburuan akan bernilai ibadah dan dicintai Allah bila cemburu itu dilakukan terhadap pelanggaran nilai syariah secara pasti dan jelas. Rasa cemburu akan bernilai maksiat dan dibenci Allah, yang justru akan merenggangkan tali cinta kasih suami-istri, mengganggu ketenteraman keluarga dan menyengsarakan hidup bersama jika hal itu dilakukan berdasarkan su’udzon, prasangka, curiga terhadap sesuatu yang belum jelas dan pasti, serta cemburu buta secara bodoh karena rasa was-was yang tidak pada tempatnya. Cemburu seperti ini berasal dari setan (QS. An-Naas: 3-6). Rasulullah Saw. Bersabda, “Sesungguhnya kecemburuan itu ada yang disukai oleh Allah dan ada yang dibenci oleh-Nya. Adapun kecemburuan yang disukai adalah kecemburuan pada hal-hal yang pasti, sedangkan yang dibenci oleh-Nya adalah kecemburuan pada hal-hal yang tidak pasti.” (HR. Ahmad, Nasa’i dan Ibnu Hibban).

Oleh kareba itu cemburu dalam arti yang positif harus didasari cinta (mahabbah) karena Allah, bukan karena emosi hawa nafsu dan egoisme agar keluarga terselamatkan dari api neraka. Saad bin ‘Ubadah berkata, “Dengan cinta itu pula sebuah kebahagiaan hidup seseorang akan terasa semakin sempurna (abadi).” (Zainul Muslim/Anton)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*