Perjanjian Suci Perkawinan

Perjanjian Suci Perkawinan

Islam menempatkan lembaga perkawinan sebagai ikatan suci antara dua manusia beriman yang berusaha mewujudkan perintah Allah dan sunnah Rasul, melalui perjanjian perkawinan. Perkawinan bukanlah persoalan kecil tapi merupakan persoalan penting dan besar. Aqad nikah (perkawinan) adalah perjanjian yang agung, kokoh dan suci (mitsaqon gholidhoo), sebagaimana firman Allah, “Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami istri dan mereka (istri-istrimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat.” [Qs. An-Nisaa’ : 21].

Demikian agung dan sucinya ikatan perkawinan, dalam Al Qur’an ikatan perkawinan ‘disetarakan’ dengan ikatan perjanjian para Rasul, dan perintah kepada bani Israil untuk bersumpah setia kepada Allah. Artinya, sumpah dalam perkawinan benar-benar sumpah agung yang disaksikan Allah dan hanya untuk meraih ridho Allah. Dengan demikian, perkawinan bukan hanya menjadi jalan untuk memenuhi kebutuhan nafsu dan memperoleh keturunan, tetapi lebih dari itu juga menjadi jalan meraih kesempurnaan iman dan takwa. Rasulullah berfirman, “Barangsiapa menikah, maka ia telah melengkapi separuh dari agamanya. Dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi”. [Hr. Thabrani dan Hakim]

Oleh karena itu, siapapun yang akan membangun ikatan perkawinan seharusnya memahami substansi dasar perkawinan sebagai wujud perjanjian agung ((mitsaqon gholidhoo), yang tidak bisa dilakukan dengan main-main. Lembaga perkawinan benar-benar menjadi lembaga suci dan sakral, yang tentunya membutuhkan komitmen, kesungguhan dan keseriusan untuk mewujudkannya. Bila substansi ini dipahami oleh mereka yang akan melangsungkan perkawinan maka tidak akan ada perkawinan main-main atau coba-coba.

Mitsaqan ghalizha berarti pasangan suami istri sepakat untuk menegakkan dinul Islam dalam rumahtangga, sepakat untuk membina rumah tangga sakinah, mawaddah dan rahmah serta ulfah. Sepakat meninggalkan masiat. Sepakat saling mencintai karena Allah Subhanahu Wata’ala. Menghormati dan menghargai. Saling menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing. Saling menguatkan keimanan. Saling menasehati dalam menetapi kebenaran dan saling memberi nasehat dengan kasih sayang. Saling setia dalam suka dan duka, kefakiran dan kekayaan, sakit dan sehat.

Selain itu, perkawinan bagi hamba beriman juga menjadi jalan untuk meraih ketentraman dan memperoleh kasih sayang. Allah telah berfirman, “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. (Qs. Ar Rum: 21) Dengan demikian, perkawinan sejati akan didasarkan pada cinta dan kasih sayang untuk mewujudkan ketentraman dan kebahagiaan. Dalam bahasa lain, perkawinan diniatkan untuk mewujudkan keluarga sakinah, mawaddah, warahmah.

Semoga kita mampu mewujudkan perkawinan dalam bingkai perjanjian agung untuk meraih ridho Allah, sekaligus menjadi jalan meraih kebahagiaan berasarkan dinul Islam. (Zainul Muslimin/Anton)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*