Tanda Haji Mabrur

Tanda Haji Mabrur

Mabrur, itulah harapan setiap calon jema’ah haji yang hendak berangkat ke tanah suci. Mudah terucap tapi sulit didapat. Dalam Kitab Lisan al-Arab, mabrur dapat berarti baik, suci, dan bersih dan juga berarti maqbul atau diterima. Dalam pengertian pertama, haji mabrur adalah haji yang dilaksanakan dengan baik, tidak melakukan hal-hal yang dilarang seperti berkata kotor, berbuat fasik atau mengganggu orang lain. Termasuk dalam pengertian pertama ini adalah menggunakan harta yang halal untuk ongkos dan biaya perjalanan ibadah. Dalam arti yang kedua, mabrur berarti maqbul atau diterima.Haji mabrur berarti telah melakukan tata cara ibadah atau manasik haji sesuai dengan petunjuk Allah Swt dan Sunnah Rasulullah Saw, memperhatikan berbagai syarat dan rukunnya serta hal-hal yang wajib diperhatikan dalam berhaji.

Dari kedua pengertian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa yang dimaksud haji mabrur adalah haji yang diterima dan diridhoi oleh Allah Swt. karena ibadah hajinya telah dilakukan dengan baik dan benar serta dengan bekal yang halal, suci dan bersih. Tetapi sulit untuk menyebut setiap orang yang kembali dari melaksanakan ibadah haji telah meraih haji mabrur. Sebab predikat haji mabrur seperti halnya pahala, hanya Allah yang tahu. Tak ada sertifikat tertulis yang dapat ditunjukkan sebagai bukti keberhasilan meraih “haji mabrur” seperti secarik kertas ijazah pada lembaga-lembaga pendidikan.

Namun informasi dari sumber-sumber agama Islam telah menyebut beberapa indikator kemabruran ibadah haji. Dalam sebuah hadisnya yang terkenal, yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Thabrani Rasulullah Saw bersabada, “dari Jabir RA, dari Nabi Muhammad Saw berkata, “Haji yang mabrur tiada balasannya kecuali surga”. Lalu beliau ditanya, “Apa tanda kemabrurannya ya Rasul?” Rasul bersabda, “Memberi makan orang yang kelaparan, dan tutur kata yang santun”. (Hr. Ahmad dan Thabraniy, dan lainnya). Imam Nawawi dalam kitabnya “al-Idhah fi Manasik al-hajj wal Umrah” menegaskan, haji yang mabrur adalah yang mengantarkan pelakunya kepada perubahan kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya (terutama peningkatan ibadah)

Indikator pertama kemabruran ibadah haji yang dilakukan adalah tumbuhnya kepedulian sosial yang tinggi, yang dalam hadis di atas terungkap dalam kalimat “memberi makan orang yang kelaparan”. Frasa “memberi makan orang yang kelaparan” ini dapat dipahami dalam artian yang luas dalam bentuk memberikan berbagai bantuan sosial. Bisa berarti memberikan bantuan pendidikan kepada anak-anak yang putus sekolah; rajin bersedekah kepada para fakir miskin; suka bergotong royong untuk kemaslahatan bersama. Orang-orang yang kembali dari tanah suci dan meraih haji yang mabrur akan menjadi pribadi-pribadi dermawan. Lebih mendahulukan kepentingan umum ketimbang kepentingan dirinya sendiri.

Indikator yang kedua adalah tutur kata yang santun. Tutur kata yang baik menjadi syarat terjalinnya hubungan yang harmonis di tengah masyarakat. Sebab seringkali perselisihan dipicu oleh kata-kata yang tak patut terucap dan menyakiti orang lain. Karena itu, mereka yang meraih haji mabrur tampak pada tutur katanya yang santun. Berusaha menjaga perasaan orang lain.Tidak ingin menang sendiri dalam tiap pembicaraan. Atau dalam ungkapan yang lebih tegas dapat dinyatakan bahwa para peraih haji mabrur adalah pribadi-pribadi yang berakhlak mulia.

Indikator ketiga adalah adanya peningkatan gairah beribadah sekembalinya dari tanah suci. Mereka yang meraih haji mabrur akan semakin rajin ke masjid untuk sholat berjama’ah ataupun menghadiri berbagai kegiatan keagamaan. Sebab selama mereka di tanah suci telah melatih dirinya untuk terus menurus sholat berjama’ah di masjid. Bahkan datang lebih awal dari jadwal waktu sholat berjama’ah. Sampai-sampai rela berlari-larian dan berdesak-desakan untuk meraih tempat yang utama di dalam masjid seperti di Raudhah.

Ternyata meraih haji mabrur itu tidak hanya tergantung dalam rangkaian ritual ibadahnya. Tetapi yang jauh lebih penting adalah penghayatan dari pelaksanaan ibadah itu sendiri yang dapat melahirkan perubahan perilaku dalam kehidupan sehari-hari sekembalinya dari tanah suci. (Y. Arafat/anton)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*