Ikhtiar, Tawakal Dan Pasrah

Ikhtiar, Tawakal Dan Pasrah

Gambaran sederhana namun dapat menjelaskan dengan tepat tentang makna tawakal adalah kisah tentang seorang laki-laki dan untanya. Dalam suatu riwayat disebutkan ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah dengan mengendarai unta. Ia bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah untaku aku biarkan saja?” Dijawab oleh Rasulullah, “Jangan. Ikatlah dahulu unta itu, barulah bertawakal.” (HR. Tirmidzi dan dihasankan Al Albani ) Rasulullah mengajarkan pada kita, bahwa tawakkal bukanlah dengan cara melepaskan unta begitu saja tanpa usaha sama sekali untuk melindungi dan mengamankan. Rasul mengajarkan agar kita berikhtiar semampu kita dengan mengikat tali untuk, baru kemudian menyerahkan pengawasanya kepada Allah. Dengan demikian tawakal adalah ikhtiar optimal yang disertai dengan penyerahan diri secara total kepada Allah.

Pentingnya ikhtiar yang menyertai tawakal juga bisa dilihat dalam sebuah hadits Rasulullah tentang burung yang mencari makan. Dari Umar r.a. aku mendengar Rasulullah Saw. bersabda, “Sekiranya kalian bertawakal kepada Allah dengan tawakal yang sebenar-benarnya, pastilah Allah akan memberikan rejeki kepada kalian sebagaimana Allah memberi rejeki pada seekor burung. Pergi pagi hari dalam keadaan perut kosong, dan pulang sore hari dalam keadaan perut kenyang.” (Hr. Tirmidzi) Apakah burung mendapat makan hanya dengan keluar dari sarangnya saja, tanpa usaha dan ikhtiar sama sekali. Selain terbang tinggi dan jauh, burung tentu juga harus mencari makan dengan segala usaha dan upaya.

Oleh karena itu ada perpaduan yang tidak terpisahkan antara ikhtiar dan penyerahan diri kepada Allah, serta kepasrahan pada apapun keputusan Allah. Jika kita sudah berikhtiar maksimal sesuai kemampuan, setelah itu bertawakal hanya kepada Allah barulah kita pasrah. Salah bila ada yang belum melangkah sudah memasrahkan semuanya kepada Allah. Jadi, anak tangganya adalah ikhtiar, sesudah itu tawakal, baru setelah pasrah. Jangan kita langsung pasrah tanpa melewati dua anak tangga di bawahnya, yaitu ikhtiar dan tawakal. (Anton)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*