Dimensi Sosial Shalat

Dimensi Sosial Shalat

“Dan dirikanlah shalat, sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar, dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah lain), dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan” (Qs. Al-Ankabuut:45)

Dengan jelas ayat di atas mengisyaratkan bahwa salah satu tujuan kewajiban shalat adalah menjadikan pelakunya tercegah dari kemungkinan berbuat jahat dan keji. Ini mengindikasikan bahwa shalat merupakan salah satu rukun Islam yang mendasaar dan menjadi pijakan utama dalam mewujudkan sistem sosial Islam. Kemalasan dan keengganan melaksanakan salat disamping sebagai tanda-tanda kemunafikan, dan semakin lunturnya imannya seseorang dalam skala besar merupakan tahapan awal kehancuran komunitas muslim. Karena secara empirik shalat merupakan faktor utama dalam proses penyatuan dan pembangunan kembali kekuatan-kekuatan komunitas muslim yang sebelumnya rusak dan terpencar-pencar sebagai akibat melalaikan mendirikan shalat.

Oleh karena itu Rasulullah Saw bersabda, “Sholat adalah tiang agama, barang siapa menegakkannya, maka ia telah menegakkan agama, dan barang siapa merobohkannya, maka ia telah merobohkan agama.” (HR. Imam Baihaqi). Hal ini mengindikasikan bahwa kekokohan sendi-sendi sosial masyarakat muslim akan sangat tergantung kepada sejauh mana mereka menegakkan shalat yang sebenar-benarnya.

Apabila hal ini tidak menjadi prioritas utamanya, maka kekeroposan sendi-sendi sosial kemasyarakatan akan menghinggapinya, yang berlanjut kepada kehancuran umat Islam itu sendiri.
Shalat diakhiri dengan salam, hal ini mengindikasikan bahwa setelah seorang hamba melakukan hubungan (komunikasi) yang baik dengan Allah, maka diharapkan hubungan yang baik tersebut juga berdampak pada hubungan yang baik kepada sesama manusia. Dengan kata lain, jika seorang hamba dengan penuh kekhusyu’an dan kesungguhan menghayati kehadiran Tuhan pada waktu shalat, maka diharapkan bahwa penghayatan akan kehadiran Tuhan itu akan mempunyai dampak positif pada tingkah laku dan pekertinya dalam kehidupan bermasyarakat.

Hal ini diwujudkan dengan jaminan melakukan apa saja yang dibenarkan syariah guna membantu saudara-saudaranya yang memang butuh bantuan. Yang kaya membantu yang miskin, yang berkuasa membantu yang teraniaya, yang berilmu membantu yang masih belajar, dan setrusnya agar terjadi saling hubungan yang serasi dan harmonis, Orang yang salatnya baik, akan bertindak santun dengan sahabatnya, tetangganya dan siapapun juga. Dia akan menghormati tamunya dengan penuh perhatian, dan akan bertindak dan bertaaruf secara santun dengan saudaranya sesama manusia, apalagi terhadap saudaranya seiman. Orang yang shalatnya bagus bukan sekedar membekas hitam di keningnya, lebih dari itu dia akan mampu mengimplementasikan kasih sayangnya pada lingkungannya (rahmatun lilalamin).

Orang yang shalatnya baik justru dituntut lebih banyak kiprahnya dalam kehidupan sosial. Keliru besar jika mereka yang shalat hanya mengelompok, menyendiri dan seolah hidup dalam ruang hampa sosial, serta menafikan dan merendahkan pihak lain. Sungguh Allah membenci dan tidak menyukai orang-orang yang membanggakan diri, angkuh, sombong dan merasa paling baik, paling suci dibanding dengan yang lain. Intinya orang yang sholatnya baik adalah tercermin dalam amal salehnya di luar sholat. (Nabil Abdurahman/Abu Rafif)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*