Meraih Bahagia dengan Menutup Aib Pasangan

Meraih Bahagia dengan Menutup Aib Pasangan

Perkawinan adalah ikatan suci dan kokoh yang mempertemukan dua hamba Allah yang taat menjalankan sunnah Rasulnya. Bagi umat beriman, perkawinan adalah jalan ibadah untuk menyempurnakan komitmen keimanan. Melalui perkawinan terbuka peluang bagi suami maupun istri untuk bersama-sama memetik pahala melalui berbagai aktivitas ibadah. Dengan perkawinan pula kebahagiaan dan kemuliaan dunia dan akherat bisa diraih, termasuk ketika perkawinan telah membuahkan anak-anak yang shaleh.

Namun harus diakui, perjalanan perkawinan tidak selalu mulus dan lurus. Selalu ada riak dan duri yang mewarnai kehidupan rumahtangga. Selalu ada ‘bunga-bunga’ perbedaan pendapat bahkan perselisihan di antara suami dan istri. Perjalanan perkawinan juga membuat suami istri semakin ‘memahami’ kelemahan dan kekurangan pasangannya, yang bisa menjadi penyebab goyahnya keharmonisan hubungan suami dan istri. Namun banyak pasangan tidak memahami bahwa semua itu adalah ujian yang bisa mendewasakan perkawinan, sekaligus menjadikan perkawinan semakin indah, hangat dan membahagiakan. Yang terpenting, pasangan suami istri harus dapat menyimpan rapat semua permasalahan yang mereka hadapi hanya untuk mereka sendiri. Aib pasangan haram hukumnya dibuka dan diketahui orang lain.

Sayangnya saat ini banyak pasangan tidak memahami benar larangan membuka ‘dapur’ dan aib dalam rumahtangga terutama aib pasangannya. Melalui berbagai media sosial banyak suami atau istri yang membongkar aib, kelemahan dan kekurangan pasangannya. Padahal rasulullah telah bersabda, Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Tidaklah seorang hamba menutupi aib hamba lainnya di dunia, melainkan Allah akan menutupi aibnya di hari kiamat kelak.” (HR. Muslim). Bayangkan, dengan hamba yang lain saja kita diharuskan menutup aibnya apalagi dengan pasangan hidup kita. Sepasang suami istri yang shaleh tentu tidak akan berani membuka aib pasangannya pada orang lain setelah memahami hadist ini.

Di hadist lain Rasulullah bersabda, “Wahai sekalian orang yang hanya berislam dengan lisannya namun keimanan belum tertancap di dalam hatinya. Janganlah kalian menyakiti kaum muslimin, jangan pula kalian memperolok mereka, dan jangan pula kalian menelusuri mencari-cari aib mereka. Karena barang siapa yang mencari-cari aib saudaranya niscaya Allah akan mencari-cari aibnya, dan barang siapa yang aibnya dicari-cari oleh Allah niscaya Allah akan mempermalukan dia meskipun dia berada di dalam rumahnya sendiri.” (HR. Abu Daud no. 4236 dan At-Tirmizi no. 2032).

Sepasang suami istri yang shaleh akan selalu menjaga kemuliaan pasangan. Hanya kebaikan dan ketaatan sang pasangan pada Allah yang selalu diingat. Kehormatan pasangan akan dijunjung tinggi. Bukan justru membuka keterbatasan, kekurangan dan kesalahan pasangannya. Kesalahan dan kelemahan pasangan seharusnya disimpan dan dinikmati sendiri. Dibicarakan dari hati ke hati hanya dengan pasangan dalam rangka saling menasihati dalam kebaikan, bukan disebarluaskan pada orang lain. Yang terbaik adalah berkomunikasi dengan bijak untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi. Kebahagiaan rumahtangga insya Allah bisa diraih dengan saling memuliakan di antara pasangan suami istri. (H. Zainul Muslimin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*