RAHASIA CINTA SUAMI DAN ISTRI

RAHASIA CINTA SUAMI DAN ISTRI

Alangkah indahnya bila rumah tangga kita bisa menjadi surga dunia (baiti jannati), yang setiap saat menghadirkan kebahagiaan dan kemuliaan bagi seluruh penghuninya. Salah satu kunci untuk membangun baiti jannati adalah kesungguhan pasangan suami istri untuk selalu memahami dan menghargai pasangannya, serta membangun interaksi yang membahagiakan. Islam telah memberi tuntunan untuk meraih keluarga yang bahagia berikut ini:
1. Keseimbangan (At-Tawazun)
Islam mengajarkan keseimbangan sebagai salah satu prinsip yang harus diterapkan oleh suami istri. “Dan para perempuan memiliki hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf…” (QS. Al-Baqarah : 228) Menurut Ath-Thabari, ayat ini mengatakan, “Dan mereka (para istri) mempunyai hak untuk ditemani dengan baik dan dipergauli secara makruf oleh suami mereka. Sebagaimana mereka berkewajiban mentaati suami dalam hal-hal yang telah diwajibkan Allah atas mereka.”

Sedangkan Muhammad Abduh dalam Tafsir Al-Manar, menafsirkan ayat ini dengan mengatakan, “Dan yang dimaksud dengan keseimbangan di sini bukanlah kesamaan wujud sesuatu dan karakternya, tetapi yang dimaksud adalah bahwa hak-hak antara mereka itu saling mengganti dan melengkapi. Tidak ada suatu pekerjaan yang dilakukan oleh istri untuk suaminya melainkan sang suami juga harus melakukan suatu perbuatan yang seimbang untuknya. Jika tidak seimbang dalam sifatnya, maka hendaklah seimbang dalam jenisnya.”

2. Keadilan (Al-Adalah)
Keadilan harus menjadi landasan dalam interaksi suami istri, karena hanya dengan sikap itulah harmoni hubungan bisa dijaga dan dilestarikan. Bahkan lebih dari itu, jika masing-masing suami dan istri dapat bersikap secara adil maka kebersatuan mereka akan menghasilkan sebuah potensi besar yang sangat diperlukan untuk melahirkan generasi penerus berkualitas. “Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-maidah : 8)

3. Cinta dan Kasih Sayang (Al-Mahabbah war Rahmah)
Cinta dan kasih sayang merupakan hal yang sangat penting dalam interaksi suami istri. Mahabbah adalah cinta di kala suami istri masih usia muda atau usia produktif dan rahmah adalah cinta saat mereka sudah menjadi kakek-kakek dan nenek-nenek. Dengan cinta dan kasih sayang, seorang suami akan berusaha semaksimal mungkin membahagiakan istrinya. Demikian pula istri akan membahagiakan suaminya. Cinta dan kasih sayang dalam ikatan pernikahan harusnya menjadi cinta paling kuat dan paling kokoh melebihi apapun antara dua orang. Rasulullah SAW bersabda, “Tidak terlihat diantara dua orang yang saling mencintai melebihi pernikahan.” (HR. Ibnu Majah)

4. Mendahulukan Kewajiban daripada Hak (Taqdiimu Ada-il Wajibaat ‘ala Thalabil Huquuq)
Interaksi suami istri seharusnya dibangun di atas landasan yang benar: mendahulukan kewajiban daripada hak. Dicontohkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari bagaimana Abu Darda sangat serius beribadah kepada Allah, sampai-sampai ia tidak berdandan, tidak memperhatikan makan dan tidurnya. Saat Salman Al-Farisi bertamu dan mengetahui hal ini, ia mendapat konfirmasi dari istri Abu Darda bahwa memang Abu Darda tidak memiliki hajat pada dunia. Salman kemudian menasehati Abu Darda dengan kalimat yang disetujui Rasulullah, “ Terhadap Tuhanmu ada kewajiban yang harus kau tunaikan, terhadap badanmu ada kewajiban yang harus kau tunaikan, terhadap keluargamu ada kewajiban yang harus kau tunaikan. Maka berikan hak kepada orang yang memiliki haknya.”

Semoga kita menjadi suami/istri yang adil dan penuh cinta, agar kita pantas untuk mendapat karunia Allah berupa nikmat besar istri/suami yang juga penuh cinta kepada kita. (Salimah.co.id/Anton)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*