KONTROVERSI BANJIR DIMASA NABI NUH (Bagian 1)

KONTROVERSI BANJIR DIMASA NABI NUH (Bagian 1)

Para ahli sepakat bahwa ditenggelamkannya umat Nabi Nuh dengan banjir dahsyat terjadi karena mereka membangkang ajakan Nabi Nuh untuk beriman kepada Allah SWT. Seberapa besar dan seberapa luasnya banjir itu melanda, inilah yang diperselisihkan. Ada yang berpendapat, banjir besar melanda seluruh dunia sehingga tidak ada satu binatang atau seorang manusia pun yang selamat, kecuali mereka yang berada di dalam kapal tersebut. Namun ada yang berpendapat bahwa banjir itu hanya terjadi di wilayah tertentu dalam batas wilayah regional.

Bagi penganut Kristen dan Katolik, mereka percaya peristiwa itu terjadi secara global. Hal ini sebagaimana dimuat dalam kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang menyatakan terjadinya banjir bersifat global. Menurut Perjanjian Lama, kitab suci orang Yahudi dan Nasrani yang sudah tidak asli itu, banjir zaman Nabi Nuh itu melanda seluruh dunia. Menurut kitab itu, Tuhan melihat bahwa kejahatan manusia di bumi adalah besar, dan bahwa setiap imajinasi dari pikiran-pikiran dalam hatinya hanya perbuatan jahat. Dan ini menjadikan Allah menyesali bahwa Dia telah menciptakan manusia di bumi, dan ini menyedihkan hati-Nya. Dan Tuhan berkata, “Aku akan membinasakah manusia yang telah Kuciptakan dari permukaan bumi, kedua jenis yang ada, manusia dan binatang, dan segala yang merayap, dan unggas-unggas di udara, yang mereka telah mengecewakan-Ku yang telah menciptakan mereka. Akan tetapi, (Nabi) Nuh mendapatkan kasih sayang di mata Tuhan. (Kejadian, 6: 5-8).

Namun berbagai fakta hasil kajian ilmiah membantah pendapat ini.
Dalam keyakinan Islam banjir tersebut hanya terjadi di wilayah tertentu dan berskala regional. Menurut Harun Yahya, penulis buku Kisah-kisah dalam Alquran, banjir itu hanya terjadi di wilayah umat Nabi Nuh berada. Ia menegaskan, banjir Nabi Nuh terjadi hanya regional (domestik) dan tidak terjadi secara global yang menenggelamkan dunia. Allah memusnahkan umat nabi Nuh dengan mendatangkan banjir besar yang menenggelamkan mereka. “Maka mereka mendustakan Nuh, kemudian Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera, dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang buta (mata hatinya).” (QS Al-A’raaf ayat 64).

Dalam Alquran disebutkan, ketika Nabi Nuh berdoa, ”Ya Tuhanku, janganlah engkau biarkan seorang pun diantara orang kafir itu tinggal di atas bumi. Sesungguhnya, jika engkau membiarkan orang-orang kafir itu tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat maksiat lagi sangat kafir.” (QS Nuh 25-27). Menurut Ibnu Katsir dalam bukunya, Qishash al-Anbiya’, doa Nabi Nuh itu hanya ditujukan untuk umat Nabi Nuh, bukan semua umat manusia. Selain itu, umat yang mendiami bumi ini juga terbatas dan belum merata seperti sekarang ini. (bersambung) (harunyahya.com dan sumber lain/Anton)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*